Sabtu, 12 November 2011

ISI :"KAJIAN METODE DAN KENDALA PENYULUHAN PERTANIAN DI KECAMATAN DAU KABUPATEN MALANG"

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pertanian merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian nasional. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi nasional abad ke 21 masih akan tetap berbasis pertanian secara luas. Namun demikian, sejalan dengan tahapan-tahapan perkembangan ekonomi maka kegiatan jasa-jasa dan bisnis berbasis pertanian juga akan semakin meningkat, dengan kata lain kegiatan agribisnis akan menjadi salah satu kegiatan unggulan pembangunan ekonomi nasional dalam berbagai aspek yang luas.

Pembangunan pertanian ke depan diharapkan dapat memberi kontribusi yang lebih besar dalam rangka mengurangi kesenjangan dan memperluas kesempatan kerja, serta mampu memanfaatkan semua peluang ekonomi yang terjadi sebagai dampak dari globalisasi dan liberalisasi perekonomian dunia. Untuk mewujudkan harapan tersebut diperlukan sumberdaya manusia yang berkualitas dan handal dengan ciri mandiri, profesional, berjiwa wirausaha, mempunyai dedikasi, etos kerja, disiplin dan moral yang tinggi serta berwawasan global, sehingga petani dan pelaku usaha pertanian lain akan mampu membangun usahatani yang berdaya saing tinggi. Salah satu upaya untuk meningkatkan SDM pertanian, terutama SDM petani, adalah melalui kegiatan penyuluhan pertanian.

Penyuluhan pertanian di Indonesia telah dimulai sejak tanggal 1 Januari 1905 bertepatan dengan dimulainya Departemen Pertanian yang pertama (Departement van Landbow) atas dasar Surat Keputusan Gubernur Jendral Daendels tanggal 23 September 1904 nomor 20 (Jabal, 2000). Tugas Departemen Pertanian yang dibentuk oleh Kerajaan Belanda tersebut antara lain adalah melaksanakan penyuluhan pertanian. Walaupun tugas penyuluhan pertanian waktu itu dilaksanakan oleh Pangreh Praja yang mendasarkan kegiatannya atas perintah kepada petani namun pada tahun 1905 inilah tonggak penyuluhan pertanian dimulai di Indonesi sacara resmi.

Penyuluhan pertanian bisa menjadi sarana kebijaksanaaan yang efektif untuk mendorong pembangunan pertanian dalam situasi petani tidak mampu mencapai tujuannya karena keterbatasan pengetahuan dan wawasan. Sebagai sarana kebijakan hanya jika sejalan dengan kepentingan pemerintah atau organisasi yang mendanai jasa penyuluhan guna mencapai tujuan petani tersebut. Dalam hal ini, Petugas Penyuluh Lapang harus memainkan peranan yang sangat penting dalam meningkatkan kompetensi petani. Mereka juga diharapkan memainkan peranan baru, seperti memperkenalkan pertanian yang berkelanjutan yang menuntut ketrampilan. Kebanyakan Petugas Penyuluh Lapang bernaung di bawah organisasi resmi seperti departemen (pemerintah), perguruan tinggi, atau perusahaan komersil lainnya.

Selain pengaruh dari kebijakan pemerintah, peran Petugas Penyuluh Lapang sangat domian dalam menopang efektifitas penyuluhan. Petugas Penyuluh Lapang harus memiliki keahlian dalam bidang pertanian yang berkompeten, disamping bisa berkomunikasi secara efektif dengan petani serta dapat mendorong minat belajar mereka, para penyuluh pertanian harus berorientasi kepada masalah yang dihadapi petani, sesuai dengan kenyataan dan pemahaman mereka. Penyuluh diharapkan mempunyai wawasan yang luas tentang dunia sekelilingnya sehingga dapat menafsirkan rangsangan dan pesan-pesan yang diterima.

Salah satu aspek yang sangat penting dalam kegiatan penyuluhan pertanian adalah penerapan metode penyuluhan. Aspek ini perlu diperhatikan sebab pengetahuan dan kemampuan petani sasaran dalam memahami suatu inovasi pada umumnya sangat terbatas (Jabal, 2003). Dalam hal ini, seorang Petugas Penyuluh Lapang dituntut untuk menguasai banyak metode penyuluhan sehingga perubahan kondisi petani sasaran dapat direspon oleh Petugas Penyuluh Lapang dengan memilih dan menerapkan metode penyuluhan yang sesuai sehinga informasi yang disampaikan dapat diterima dan diterapkan petani. Oleh karena itu perlu adanya penelitian tentang ”Kajian Metode dan Kendala Penyuluhan Pertanian di Kecamatan Dau Kabupaten Malang”.

1.2 Perumusan Masalah

1. Bagaimanakah metode penyuluhan pertanian yang dilakukan oleh petugas penyuluh lapang dalam kegiatan penyuluhan pertanian?

2. Kendala apa saja yang dihadapi oleh petugas penyuluh lapang dalam melaksanakan kegiatan penyuluhan pertanian?

3. Bagaimanakah deskripsi sikap petani terhadap pelaksanaan penyuluhan pertanian?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui metode penyuluhan yang digunakan petugas penyuluh lapang dalam kegiatan penyuluhan pertanian.

2. Untuk mengetahui Kendala yang dihadapi oleh petugas penyuluh lapang dalam melaksanakan kegiatan penyuluhan pertanian.

3. Untuk mengetahui deskripsi sikap petani terhadap pelaksanaan penyuluhan pertanian.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Memberikan gambaran tentang metode penyuluhan pertanian yang merupakan salah satu dasar kegiatan penyuluhan pertanian.

2. Sebagai bahan pertimbangan bagi instansi terkait guna meningkatkan mutu penyuluhan pertanian.

3. Sebagai bahan kajian untuk penelitian selanjutnya.

1.5. Batasan Istilah

Batasan istilah dalam penelitian ini didefinisikan sebagai berikut:

1. Metode adalah cara atau tindakan tertentu yang harus dilakukan untuk tercapainya tujuan tertentu yang telah ditetapkan atau yang telah direncanakan.

2. Kelompok tani adalah kumpulan sejumlah petani yang terikat secara informal dan mempunyai kepentingan dan tujuan yang bersama.

3. PPL adalah penyuluh umum pada tingkat setempat yang membawahi beberapa desa dan bertanggung jawab untuk melakukan kontak langsung dengan petani dengan memberikan penyuluhan mengenai sesuatu hal yang akan dilaksanakan oleh petani untuk mengelola usaha taninya demi meningkatkan kesejahteraannya.

4. Tugas dan fungsi PPL antara lain; mengusahakan sarana produksi, merubah sikap dan perilaku petani, mencarikan peluang pasar, serta membantu dalam menerapkan teknologi baru.

5. Program penyuluhan adalah suatu rencana tujuan dan kelompok sasaran yang hendak dicapai oleh organisasi atau unit penyuluhan dan cara-cara yang hendak dilakukan untuk mencapainya.

6. Pertanian adalah proses menghasilkan bahan pangan, ternak, serta produk-produk agroindustri dengan cara memanfaatkan sumber daya tumbuhan dan hewan.

7. Kendala merupakan hambatan-hambatan maupun permasalahan yang dihadapi individu maupun organisasi dalam aktivitas yang dijalankan.

8. Kompetensi Penyuluh merupakan kemampuan dan kemauan yang kuat penyuluh dalam upaya pengembangan dan kemajuan kelompok sehingga mampu menjadikan petani yang bersaing.

9. Karakteristik petani adalah ciri-ciri induvidual petani dalam berusahatani yang terdiri dari luas lahan usahatani, jenis komoditi yang diusahakan, tingkat kekosmopolitan, tingkat pendidikan formal, tingkat pendidikan non-formal, kategori adopter dan umur.

10. Kinerja merupakan sebuah hasil kerja atau prestasi yang dicapai seseorang maupun organisasi dalam aktivitas kerja yang dilakukan.

11. GAPOKTAN merupakn istilah singkatan dari Gabungan Kelompok Tani yang merupakan perkumpulan antar kelompok tani pada satu kecamatan.

12. POSYANLUH (Pos Layanan Penyuluh) merupakan sarana layanan penyuluhan yang diberikan oleh PPL yang berupa media konsultasi oleh petani kepada penyuluh guna menanggulangi permasalahan yang dihadapi petani.

BAB II

LANDASAN PENELITIAN

2.1. Penelitian Terdahulu

Penelitian Erlita Oktaviani (2007) diperoleh hasil bahwa peranan penyuluh pertanian di Kecamatan Junrejo sudah berjalan optimal dan bisa memposisikan dirinya sebagai mitra dan fasilitator petani dengan melakukan peranan yang sesuai antara lain sebagai pembimbing, organisator dan dinamisator, teknisi serta sebagai konsultan petani. Upaya pengembangan kelompok tani oleh penyuluh pertanian maupun kelompok tani sendiri sudah berjalan baik, hal ini dapat dilihat dari kegiatan yang dilakukan oleh kelompok tani dengan adanya pameran pertanian, pelatihan agribisnis, dan prestasi yang diraih oleh kelompok tani. Fasilitas yang terdapat pada kelompok tani sudah cukup memadai walaupun ada beberapa yang belum mendapat bantuan dari pemerintah. Prestasi yang diraih oleh beberapa kelompok tani juga sudah baik dengan segala keterbatasan sarana.

Penelitian Agus Aji Laksono (2005) diperoleh hasil bahwa peranan penyuluh pertanian di daerah penelitian masih berada pada tingkat sedang. Hal ini disebabkan oleh peran penyuluh sebagai pembimbing, sebagai organisator dan dinamisator, sebagai teknisi dan peran penyuluh sebagai penghubung masih belum maksimal dalam menjalankan perannya. Hal ini disebabkan oleh minimnya fasilitas-fasilitas yang mampu mendukung kegiatan penyuluhan pertanian yang disediakan oleh Dinas Pertanian setempat.

Penelitian Slamet Widhi Sasongko (2002) mengemukakan bahwa studi tentang kebutuhan petani yang dapat dipenuhi jasa penyuluhan pertanian merupakan langkah awal perencanaan mutu penyuluhan pertanian. Dalam hal ini, kebutuhan petani difokuskan pada kebutuhan-kebutuhan yang berkaitan dengan pencapaian tujuan rumah tangga petani, yaitu agar petani dapat bertani lebih baik, berusaha lebih baik dan hidup lebih baik. Penyuluhan pertanian yang bermutu adalah mampu memenuhi kebutuhan petani dan diharapkan program penyuluhan pertanian lebih berorientasi ke petani dan sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh petani.

2.2. Tinjauan Pustaka

2.2.1. Definisi Penyuluhan

Pengertian penyuluhan, menurut Suhardiyono (1990) adalah merupakan pendidikan non formal bagi petani beserta keluarganya dimana kegiatan dalam ahli pengetahuan dan ketrampilan dari penyuluh lapangan kepada petani dan keluarganya berlangsung melalui proses belajar mengajar. Beberapa ahli penyuluhan menyatakan bahwa sasaran penyuluhan yang utama adalah penyebaran informasi yang bermanfaat dan praktis bagi masyarakat petani di pedesaaan dan kehidupan pertaniannya, melalui pelaksanaan penelitian ilmiah dan percobaan di lapang yang diperlukan untuk menyempurnakan pelaksanaan suatu jenis kegiatan serta pertukaran informasi dan pengalaman diantara petani untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

Menurut Hawkins (1999), Penyuluhan merupakan keterlibatan seseorang untuk melakukan komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sesamanya memberikan pendapat sehingga bisa membuat keputusan yang benar. Pendidikan penyuluhan adalah ilmu yang berorientasi keputusan tetapi juga berlaku pada ilmu sosial berorientasi pada kesimpulan. Ilmu ini mendukung keputusan strategi yang harus diambil dalam organisasi penyuluhan. Penyuluhan juga dapat menjadi sarana kebijaksanaan yang efektif untuk mendorong pembangunan pertanian dalam situasi petani tidak mampu mencapai tujuannya karena keterbatasan pengetahuan dan wawasan. Sebagai sarana kebijakan, hanya jika sejalan dengan kepentingan pemerintah atau organisasi yang mendanai jasa penyuluhan guna mencapai tujuan petani.

Menurut Jack Ferner dalam Jabal (2003), Penyuluhan pertanian merupakan ilmu terapan yang secara khusus meempelajari teori, prosedur dan cara yang dapat digunakan untuk menyampaikan teknologi baru kepada petani melalui proses pendidikan sehingga petani mengerti, menerima dan menggunakan teknologi baru untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.

Penyuluhan pertanian juga dapat dipandang sebagai pendidikan di luar sekolah yang berfungsi untuk menyebarluaskan pengetahuan dan teknologi pertanian kepada petani atau nelayan beserta keluarganya dengan tujuan agar mereka mampu, sanggup dan berswasembada untuk meningkatkan produksi dan pendapatan dalam usahataninya sehingga hidupnya dapat lebih sejahtera (Soedarmanto, 1992).

Pengertian penyuluhan pertanian yang menggunakan konsep pemasaran yang diajukan oleh Mardikanto (1993) yang menyatakan bahwa penyuluhan pertanian pada hakekatnya adalah proses pemasaran informasi atau inovasi. Karena itu, setiap penyuluhan dapat menerapkan konsep pemasaran untuk mengefektifkan kegiatan penyuluhan. Tanpa meninggalkan konsep penyuluhan yang didasarkan pada konsep pendidikan dan komunikasi, para penyuluh bisa menggali konsep-konsep ekonomi atau bisnis informasi untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat.

Mosher, 1960 (dalam Soedarmanto, 1992), mengemukakan bahwa dalam penyuluhan pertanian mengandung arti aktivitas pendidikan diluar bangku sekolah (non formal) yang sifat-sifatnya sebagai berikut:

1. Selalu berhubungan dengan masyarakat petani yang ada di pedesaan yang sesuai dengan kepentingan atau kebutuhan pada waktu tertentu yang sangat erat kaitannya dengan mata pencaharian atau usahataninya guna mencapai tujuan peningkatan staraf hidup petani beserta keluarganya maupun masyarakat sekitarnya.

2. Menggunakan cara-cara dan metode-metode pendidikan khusus yang disesuaikan dengan sifat, perilaku dan kepentingan petaninya.

3. Keberhasilan pelaksanaannya memerlukan bantuan berbagai aktivitas baik secara langsung menunjang pendidikan itu (seperti perencanaan penyuluhan, penjadwalan waktu serta evaluasi) maupun yang tidak langsung menunjangnya (penyediaan sarana produksi, fasilitas pengolahan hasil yang memadai).

Berdasarkan definisi yang terurai di atas dapat ditarik suatu definisi mengenai penyuluhan pertanian yaitu suatu jasa pendidikan non formal dan informasi pertanian yang diberikan oleh pihak-pihak tertentu kepada petani maupun pihak lain yang memerlukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani sesuai kebutuhannya. Pihak pelaksana penyuluhan tidak terbatas pada pemerintah tetapi bisa juga dilaksanakan oleh organisasi non pemerintah maupun pihak swasta lainnya (Jabal, 2003).

2.2.2. Tujuan Penyuluhan Pertanian

Pembangunan pertanian dewasa ini serta dimasa mendatang adalah pembangunan pertanian yang berdimensi kerakyatan yang dirancang sedemikian rupa sehingga berawal dari petani dan berakhir di petani. Permasalahan di bidang penyuluhan pertanian yang sangat mendasar seiring dengan perkembangan informasi dan teknologi adalah kualitas sumberdaya penyuluhan pertanian yang dipandang perlu untuk terus ditingkatkan. Tugas dan fungsi Penyuluh Pertanian antara lain; mengusahakan sarana produksi, merubah sikap dan perilaku petani, mencarikan peluang pasar serta membantu dalam menerapkan teknologi baru.

Menurut Hawkins (1999) mengemukakan bahwa tujuan penyuluhan adalah menjamin agar peningkatan produksi pertanian yang merupakan tujuan utama kebijakan pembangunan pertanian dicapai melalui cara merangsang petani untuk memanfaatkan teknologi produksi modern dan ilmiah yang dikembangkan melalui penelitian.

Penyuluhan pertanian pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat tani sehingga diperlukan kemampuan untuk bertani lebih baik. Berarti merubah masyarakat tradisional menjadi masyarakan modern.

Menurut Mosher (dalam Soedarmanto, 1992) merinci tujuan penyuluhan menjadi tiga tujuan yakni:

1. Membantu petani untuk memperbaiki kehidupan fisiknya.

2. Membantu petani dalam usahataninya untuk mencari jenis usaha lain yang berarti penciptaan lapangan kerja yang berbasis pertanian.

3. Mengembangkan masyarakat tani yang berarti meningkatkan peradaban masyarakat tani.

Beberapa pakar penyuluhan pertanian memberikan pengertian tujuan penyuluhan yang dapat dirangkum sebagai berikut:

1. Membentuk suatu masyarakat tani yang bangga akan pekerjaannya, bebas dalam berfikir, konstruktif dalam pandangan, cakap, efisien dan percaya diri sendiri.

2. Mendorong petani untuk menghasilkan bahan makanan yang diperlukan agar mereka dapat makan dan hidup dengan baik.

3. Menambah pengetahuan petani sehingga petani dapat mengusahakan usahataninya lebih efisien, sehingga akan memperbaiki atau mempertinggi pendapatannya.

4. Membuka kesempatan bagi petani untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya agar disalurkan sehingga bakat tersebut dapat ditingkatkan.

5. Menambah kemampuan petani tentang keadaan-keadaan dan kesempatan yang ada di luar desanya (Soedarmanto,1992).

Dalam pelaksanaan penyuluhan pertanian harus mencakup tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Tujuan jangka pendek yaitu untuk menimbulkan perubahan yang lebih terarah dalam aktivitas usahatani di pedesaan, perubahan-perubahan hendaknya menyangkut: tingkat pengetahuan, kecakapan atau kemampuan sikap dan motif tindakan petani. Dengan terlaksananya perubahan itu pada diri masing-masing petani, kini dapat diharapkan para petani akan lebih terbuka menerima petunjuk dan bimbingan yang akan menguntungkannya, lebih aktif dan dinamis dalam melaksanakan usahataninya. Inilah tujuan pokok penyuluhan. Tujuan jangka panjang adalah agar tercapai peningkatan taraf hidup yang lebih terjamin.

Pada umumnya, tujuan penyuluhan pertanian adalah terciptanya peningkatan kesejahteraan petani dan keluarganya. Menurut Soedarmanto (1992) tujuan penyuluhan adalah membantu petani agar mereka mampu, sanggup dan berswadaya untuk meningkatkan produksi dan pendapatan dalam usahataninya sehingga hidupnya dapat lebih sejahtera. Dalam sistem penyuluhan pembangunan pertanian, fungsi penyuluhan pertanian tidaklah berdiri sendiri melainkan seiring dengan fungsi-fungsi lain seperti fungsi penelitian, fungsi pelayanan, fungsi pengaturan, dan fungsi pendidikan (Jarmie, 1994).

Penyuluhan pertanian menjadi jembatan antara kegiatan penelitian dan kegiatan usahatani yang dilakukan petani. Sebagai suatu kegiatan yang pada dasarnya adalah kegiatan pendidikan, penyuluhan pertanian berfungsi menyebarkan hasil-hasil penelitian yang berguna bagi perkembangan kehidupan petani. Sebaliknya, kegiatan penyuluhan pertanian dituntut pula untuk dapat mengalirkan informasi kebutuhan penelitian apa yang dirasakan petani untuk diteliti di lembaga-lembaga penelitian.

Dari berbagai tujuan penyuluhan pertanian, semuanya bermuara pada tujuan peningkatan kesejahteraan petani. Peningkatan kesejahteraan petani dapat dicapai bila penyuluhan pertanian yang dilaksanakan oleh para penyuluh benar-benar dapat memuaskan petani akan kebutuhan informasi dan pendidikan non formal yang dirasakan untuk peningkatan usahataninya.

Secara umum tujuan penyuluhan adalah untuk menambah pengetahuan, keterampilan dan merubah sikap petani dalam mengusahakan usahataninya ke arah yang lebih baik, berusahatani lebih menguntungkan dan hidupnya lebih sejahtera. Untuk itu penetapan tujuan perlu dilakukan, sebab tujuan akhir penyuluhan pertanian merupakan kekuatan pendorong proses pelaksanaan penyuluhan itu sendiri (Jabal dkk, 2003).

2.2.3. Peran Penyuluh Pertanian

Suhardiyono (1990) menyatakan bahwa penyuluhan merupakan proses interaksi antara 3 komponen pokok, yaitu adanya program/proyek, penyuluh lapangan dan petani, yang mana prosesnya dapat dinyatakan sebagai berikut:

1. Proses pertama, dikenal adanya kesenjangan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk meningkatkan produktifitas usahatani antara petani dan proyek/program pembangunan pertanian.

2. Proses kedua, program/proyek mengumpulkan informasi dari lembaga penelitian untuk paket-paket bantuan kepada petani dalam rangka meningkatkan usahatani mereka.

3. Proses ketiga, merupakan proses penyampaian paket teknologi yang telah dirumuskan kepada penyuluh-penyuluh lapangan melalui latihan maupun kursus, sehingga para penyuluh akan memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang memadai untuk melaksanakan alih dan pengetahuan.

4. Proses keempat, adalah proses penyampaian paket teknologi dari penyuluh lapangan kepada petani melalui kelompok-kelmpok tani.

5. Proses kelima, yaitu proses umpan balik tentang hasil penerapan paket-paket teknologi yang dilakukan petani.

Penyuluh pertanian adalah orang yang mengemban tugas memberikan dorongan kepada petani agar mau mengubah cara befikir, cara kerja dan cara hidup yang lebih sesuai dengan perkembangan jaman, perkembangan teknologi pertanian yang lebih maju. Dengan demikian seorang penyuluh pertanian dalam melaksanakan tugasnya mempunyai tiga peranan:

a. Berperan sebagai pendidik, memberikan pengetahuan atau cara-cara baru dalam budidaya tanaman agar petani lebih terarah dalam usahataninya, meningkatkan hasil dan mengatasi kegagalan-kegagalan dalam usaha taninya.

b. Berperan sebagai pemimpin, yang dapat membimbing dan memotivasi petani agar mau merubah cara berfikir, cara kerjanya agar timbul keterbukaan dan mau menerima cara-cara bertani baru yang lebih berdaya guna dan berhasil, sehingga tingkat hidupnya lebih sejahtera.

c. Berperan sebagai penasehat, yang dapat melayani, memberikan petunjuk-petunjuk dan membantu para petani baik dalam bentuk peragaan atau contoh-contoh kerja dalam usahatani memecahkan segala masalah yang dihadapi (Kartasapoetra, 1994).

Seorang penyuluh membantu para petani didalam usaha mereka meningkatkan produksi dan mutu produksinya guna meningkatkan kesejahteraan mereka. Oleh karena itu para penyuluh memiliki peran antara lain sebagai pembimbing, organisator dan dinamisator, pelatih teknisi, dan jembatan petani dengan lembaga penelitian dibidang pertanian sebagai berikut:

1. Penyuluh Sebagai Pembimbing Petani

Seorang penyuluh adalah pembimbing dan guru bagi petani dalam pendidikan non formal, penyuluh memiliki gagasan yang tinggi untuk mengatasi hambatan dalam pembangunan pertanian yang berasal dari petani maupun keluarganya. Seorang penyuluh harus mengenal baik sistem usahatani, bersimpati terhadap kehidupan petani serta pengambilan keputusan yang dilakukan petani baik secara teori maupun praktek. Penyuluh harus mampu memberikan praktek demontrasi tentang suatu cara atau metode budidaya suatu tanaman, membantu petani menempatkan atau menggunakan sarana produksi pertanian dan peralatan yang sesuai.

Penyuluh harus mampu memberikan bimbingan kepada petani tentang sumber dana kredit yang dapat digunakan untuk mengembangkan usaha tani mereka dan mengikuti perkembangan terhadap kebutuhan-kebutuhan petani yang berasal dari instansi-instansi terkait.

2. Penyuluh Sebagai Organisator dan Dinamisator

Dalam penyelenggaraan kegiatan penyuluhan para Penyuluh Lapangan tidak mungkin mampu untuk melakukan kunjungan ke masing-masing petani sehingga petani harus diajak untuk membentuk suatu kelompok-kelompok tani dan mengembangkan menjadi suatu lembaga ekonomi dan sosial yang memiliki peran dalam mengembangkan masyarakat sekitarnya. Dalam membentuk dan mengembangan kelompok tani, penyuluh sebagai dinamisator dan organisator.

3. Penyuluh Sebagai Teknisi

Seorang penyuluh harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan teknis yang baik karena pada suatu saat akan diminta petani memberikan saran maupun demonstrasi kegiatan usahatani yang bersifat teknis. Tanpa adanya pengetahuan dan ketrampilan teknis yang baik maka akan sulit untuk memberikan pelayanan jasa konsultan yang diminta petani.

4. Penyuluh Sebagai Jembatan Penghubung Antara Lembaga Penelitian dengan Petani

Penyuluh bertugas menyampaikan hasil temuan lembaga penelitian kepada petani. Sebaliknya, petani berkewajiban melaporkan pelaksanaan penerapan hasil temuan lembaga penelitian yang dianjurkan tersebut sebagai penghubung, selanjutnya penyuluh menyampaikan hasil penerapan teknologi yang dilakukan oleh petani kepada lembaga penelitian yang terkait sebagai bahan referensi lebih lanjut (Suhardiyono, 1992).

Vanden Ban (1999) menyatakan peranan utama penyuluhan dibanyak negara dahulu dipandang sebagai alih teknologi dari peneliti ke petani. Sekarang peranan penyuluhan lebih dipandang sebagai proses membantu petani untuk mengambil keputusan sendiri dengan cara menambah pilihan bagi mereka, dan dengan cara menolong mereka mengembangkan wawasan mengenai konsekuensi dari masing-masing pilihan itu.

2.2.4 Metode Penyuluhan Pertanian

Menurut Hornby (dalam Totok, 1988) metode atau "method" menurut asal katanya, dapat diartikan dengan cara untuk mengerjakan sesuatu kegiatan atau the way to do something. Di dalam ilmu manajemen, metode dapat diartikan sebagai sesuatu tindakan tertentu yang harus dilakukan untuk tercapainya tujuan tertentu yang telah ditetapkan atau yang telah direncanakan. Soeharno (dalam Totok, 1988) mengatakan bahwa metode di dalam ilmu manajemen diartikan sebagai cara bagaimana melaksanakan sesuatu pekerjaan. Bertitik tolak dari pengertian-pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa metode penyuluhan pertanian adalah cara yang sudah diren­canakan sebelumnya untuk melaksanakan kegiatan penyu­luhan pertanian. Menutut Ibrahim (2003) metode penyuluhan merupakan cara-cara penyampaian materi penyu­luhan secara sistematis hingga materi penyuluhan dapat dimengerti dan diterima petani sasaran.

Sebelum menentukan metode penyuluhan yang terbaik, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan: Pertama, tidak ada satu metode penyuluhan pertanian yang dianggap lebih baik dibanding metode penyuluhan pertanian lainnya. Penyuluh harus mencari metode penyuluhan terbaik berdasarkan situasi yang ada; Kedua, pada umumnya penyuluh menggunakan beberapa metode penyuluhan dalam mensukseskan program penyuluhan. Pengalaman di lapang menunjukkan bahwa semakin banyak metode penyuluhan yang digunakan dalam menginformasikan suatu inovasi, maka semakin cepat petani sasaran dapat memahaminya; Ketiga, pada umumnya dalam pelaksanaan penyuluhan dikombinasikan metode satu dengan metode lainnya, misalkan dalam demontrasi suatu teknologi baru (Jabal, 2003).

Penyuluhan Pertanian adalah merupakan suatu sistem komunikasi pembangunan yang terutama ditujukan kepada masyarakat petani dan segenap keluarganya. Sebagai suatu sistem komunikasi, sudah barang tentu penyu­luhan pertanian dapat dilaksanakan dengan berbagai cara atau metode tergantung pada :

1. Pendekatan psiko-sosialnya, yakni secara masal, kelompok, atau perorangan.

2. Media komunikasinya yaitu, lisan, tertulis, dan terproyeksi.

3. Hubungan antara komunikator dan komunikasinya, baik secara langsung maupun tidak langsung (Mardikanto, 1988).

Metode perseorangan merupakan metode penyuluhan yang ditujukan bagi petani secara perseorangan yang memperoleh perhatian khusus dari penyuluh lapangan. Seorang petani yang dikunjungi penyuluh lapangan secara individu karena ia mengalami kesulitan dalam melaksanakan kegiatan usaha taninya, misalnya mengalami kesulitan dalam memberantas hama tanaman padinya (Suhardiyono, 1990).

Kegiatan penyuluhan menggunakan metode kelompok mengarahkan sasaran kegiatannya pada petani secara berkelompok atau kelompok tani. Kegiatan ini melibatkan kegiatan tatap muka secara langsung antara penyuluh lapangan dengan kelompok tani. Sebagai contoh yaitu kegiatan penyuluhan menggunakan metode demonstrasi cara atau demonstrasi hasil (Suhardiyono, 1990).

Suhardiyono (1990) mengatakan bahwa kegiatan penyuluhan menggunakan metode massal mengarahkan sasaran kegiatannya kepada masyarakat tani pada umumnya. Dalam pelaksanaan penyuluhan menggunakan metode ini, dapat terjadi tatap muka secara langsung antara penyuluh lapangan dengan petani, misalnya dalam memperkenalkan proyek baru pada suatu daerah tertentu. Namun dapat juga tidak terjadi kontak secara langsung antar petani dengan penyuluh lapangan karena penyuluh lapangan menggunakan media radio, televisi atau sarana komunikasi yang lain.

2.3. Kerangka Pemikiran

Peran penyuluhan pertanian mempunyai kedudukan yang strategis, yaitu sebagai penyelenggara pendikdikan luar sekolah (non formal) bagi petani beserta keluarganya serta anggota masyarakat lainnya. Sehubungan dengan itu penyuluhan pertanian berfungsi sebagai tenaga penggerak dalam dinamika tentang mata rantai agribisnis, melalui manajemen alokasi sumberdaya manusia secara optimal dengan pendekatan partisipatif, keterpaduan serta proses belajar-mengajar orang dewasa yang menyangkut sistem kerja, metode dan teknologi.

Salah satu aspek penting dalam penyuluhan pertanian adalah penerapan metode penyuluhan pertanian yang tepat. Sehingga diharapkan penerapan metode penyuluhan yang sesuai dan tepat sasaran mampu memberikan perkembangan yang bersifat positif pada usahatani, baik dari sisi teknologi, produksi maupun petani itu sendiri.

Bagan 1: Skema kerangka pemikiran


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Pemilihan Lokasi

Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja yaitu di Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada pertimbangan:

1. Kabupaten Malang dipilih karena memiliki potensi yang cukup besar di sektor pertanian.

2. Kecamatan Dau dipilih melalui rekomendasi dari Dinas Pertanian Kabupaten Malang karena merupakan daerah yang memiliki rutinitas kegiatan Penyuluhan Pertanian.

3.2 Metode Pengambilan Responden

Dalam pengambilan tempat metode yang digunakan adalah purposive (sengaja). Peneliti sengaja menggunakan metode ini karena peneliti dalam mengadakan penelitian tidak secara acak (random) melainkan secara disengaja dengan pertimbangan bahwa di Kecamatan Dau Kabupaten Malang merupakan daerah yang memiliki rutinitas kegiatan Penyuluhan Pertanian. Sampel penelitian ini disesuaikan dengan tujuan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Para Petugas Penyuluh Lapang di Kecamatan Dau Kabupaten Malang sebanyak 4 petugas.

2. Para Petani di Kecamatan Dau yang mengikuti kegiatan Penyuluhan Pertanian (40 petani).

3.3 Metode Pengumpulan Data

Jenis data yang digunakan adalah data primer dam data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari responden dan juga melalui wawancara berdasarkan daftar pertanyaan yang sebelumnya telah dipersiapkan, sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi atau lembaga terkait yang sesuai dan berhubungan dengan penelitian ini. Untuk mendapatkan data yang diinginkan dalam penyusunan penelitian ini, maka peneliti menggunakan beberapa jenis pengambilan data dan beberapa alat yang digunakan dalam pengambilan data primer. Antara lain:

a). Interview

Yaitu dengan mengadakan wawancara langsung dengan responden yaitu, Petugas Penyuluh Lapang, Petani dan Petugas Dinas Pertanian Kab. Malang

b). Observasi

Yaitu pengumpulan data dengan jalan mengadakan pengamatan secara langsung pada obyek yang diteliti untuk mengetahui fakta-fakta yang ada pada obyek penelitian.

c). Questionaire

Yaitu perolehan data secara questionnaire yang melibatkan responden. Data ini diperoleh berdasarkan hasil dari pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada responden yaitu, Petugas Penyuluh Lapang, Petani dan Petugas Dinas Pertanian Kab. Malang yang ada hubungannya dengan seputar permasalahan penyuluhan pertanian.

d). Dokumentasi

Yaitu data yang bertujuan mengganbarkan secara reel aktifitas yang terjadi di lapang yang diharapkan mampu menggambarkan data-data yang diperoleh melalui, observasi, wawancara maupun questionnaire.

3.4 Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan adalah penelitian ini merupakan metode deskriptif kualitatif. Intepretasi data dekriptif kualitatif didukung dengan uraian verbal, grafis, sajian data dan tabel. Metode ini akan memberikan suatu penjelasan atau gambaran mengenai berbagai macam hal yang berhubungan dengan kajian data-data pada penelitian. Beberapa hal yang akan dikaji dalam penelitian ini terdiri dari:

1. Karakteristik petani dan penyuluh didaerah penelitian

2. Model/metode penyuluhan yang dilakukan oleh masing-masing petugas penyuluh lapang sesuai dengn karakteristik usahatani dan petani pada daerah penelitian.

3. Berbagai macam kendala/persoalan yang dihadapi oleh penyuluh dalam melakukan penyuluhan pada derah penelitian.

4. Deskripsi sikap petani terhadap penyuluhan pertanian pertanian di Kecamatan Dau.

BAB IV

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

4.1. Keadaaan Geografis Daerah Penelitian

Sebagai Kecamatan di Kabupaten Malang yang diapit dua Kotamadya, Kecamatan Dau memiliki peran vital yang cukup strategis. Walau wilayahnya tidak seluas kecamatan lain di Kabupaten Malang, namun peran kecamatan ini tidak bisa diabaikan apalagi mengingat posisinya sebagai penghubung antara Kota Malang dengan Kota Batu.

Mengacu pada data potensi kecamatan, letak geografis desa-desa di wilayah Kecamatan Dau berada di lereng dan lembah (dominan lereng) dengan topografi dapat dibagi menjadi 2 bagian utama yaitu daerah lereng/ bukit sebanyak 2 desa/ kelurahan dan daerah dataran sebanyak 8 desa/ kelurahan. Luas kawasan Kecamatan Dau secara keseluruhan adalah sekitar 5.618,587 Ha atau sekitar 8,15 persen dari total luas Kabupaten Malang. Adapun batas-batas wilayah Kecamatan Dau adalah sebagai berikut:

Sebelah Utara : Kecamatan Karangploso

Sebelah Timur : Kota Malang

Sebelah Selatan : Kecamatan Wagir

Sebelah Barat : Kota Batu

4.2. Keadaan Penduduk

4.2.1. Keadaan Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Usia

Jumlah penduduk Kecamatan Dau sebanyak 56.782 jiwa. Penduduk Kecamatan Dau sebagian besar dalam usia produktif baik laki-laki maupun perempuan. Seperti yang terlihat pada tabel berikut:

Tabel 1: Keadaan Penduduk Kecamatan Dau Menurut Jenis Kelamin dan Usia

Usia

Laki-Laki

Perempuan

< 15 tahun

15- 50 tahun

> 50 tahun

7.150

15.893

5.275

6.732

16.214

5.518

Jumlah

28.318

28.464

Sumber: Data Monografi Kecamatan Dau, 2007

Penduduk Kecamatan Dau yang berusia dibawah 15 tahun berjumlah 13.882 orang. Sedangkan penduduk yang berusia antara 15-50 tahun berjumlah 32.107 orang. Penduduk yang termasuk berusia tua (lebih dari 50 tahun) berjumlah 10.793 orang. Penduduk yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak yaitu sebanyak 28.464 orang dibanding penduduk yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 28.318 orang.

4.2.2. Mata Pencaharian Penduduk

Penduduk Kecamatan Dau sebagian besar di bidang pertanian baik sebagai petani pemilik, penggarap, maupun buruh tani. Mata pencaharian penduduk Kecamatan Dau dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2. Mata Pencaharian Penduduk Kecamatan Dau

Mata Pencaharian

Jumlah (orang)

Petani

  • Pemilik dan penggarap
  • Buruh tani

Peternakan

Jasa

Pedagang/ Swasta

Industri

PNS/ ABRI

Total

6.450

5.163

5.838

298

1.080

174

433

19.436

Sumber: Data Monografi Kecamatan Dau, 2007

Penduduk Kecamatan Dau yang bekerja di bidang pertanian sebanyak 11.613 orang baik sebagai petani pemilik, penggarap maupun buruh tani. Penduduk yang bekerja di bidang peternakan sebanyak 5.838 orang. Penduduk yang bekerja di bidang jasa sebanyak 298 orang. Penduduk yang bekerja sebagai pedagang ataupun swasta sebanyak 1.080 orang. Penduduk Kecamatan Dau yang bekerja di bidang industri sebanyak 174 orang dan yang bekerja sebagai pegawai negeri atau ABRI sebanyak 433 orang.

4.2.3. Kondisi Religius

Penduduk Kecamatan Dau mayoritas beragama Islam seperti pada umumnya masyarakat di Indonesia. Keadaan penduduk Kecamatan Dau menurut kepercayannya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3. Keadaan Penduduk Kecamatan Dau Menurut Agama

Agama

Jumlah ( orang)

Islam

Kristen

Katolik

Hindu

Budha

Total

55.345

960

367

13

16

56.701

Sumber: Data Monografi Kecamatan Dau, 2007

Penduduk Kecamatan Dau yang beragama Islam sebanyak 55.345 orang, beragama Kristen sebanyak 960 orang, Katolik sebanyak 367 orang, Hindu sebanyak 13 orang dan yang beragama Budha sebanyak 16 orang. Meskipun penduduk Kecamatan Dau berlainan agama, tetapi tidak pernah terjadi pertengkaran antar agama. Mereka sudah terbiasa hidup rukun dan saling menghormati antar pemeluk agama.

4.3. Pendidikan

4.3.1. Jenjang Pendidikan

Seperti pada umumnya penduduk desa, sebagian besar penduduk Kecamatan Dau berpendidikan Sekolah Dasar. Tetapi ada juga yang berhasil menyelesaikan pendidikan sampai jenjang sarjana.. Tingkat pendidikan penduduk Kecamatan Dau dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4. Tingkat Pendidikan Penduduk Kecamatan Dau

Tingkat Pendidikan

Jumlah (orang)

Belum Sekolah

3.229

Tidak Pernah Sekolah

3.714

Tidak Tamat SD/MI

14.819

Tamat SD/MI

18.858

Tamat SMP/MTs

9.228

Tamat SMA/MA

4.917

Tamat Perguruan Tinggi

2.017

Jumlah

56.782

Sumber: Data Monografi Kecamatan Dau, 2007

Penduduk yang belum sekolah di Kecamayan Dau sebanyak 3.229 orang. Penduduk yang tidak pernah bersekolah sebanyak 3.714 orang dan yang tidak tamat SD/MI sebanyak 14.819 orang. Penduduk yang lulus Sekolah Dasar sebanyak 18.858 orang. Penduduk yang berpendidikan SLTP sebanyak 9.228 orang dan yang berpendidikan hingga lulus SMU sebanyak 4.917 orang. Penduduk Dau yang berhasil menempuh pendidikan Perguruan Tinggi sebanyak 2.017 orang. Berdasarkan pada data monografi yang tercantum pada table 4 menggambarkan bahwa masyarakat Kecamatan Dau memiliki kesadaran yang tinggi terhadap pendidikan, walaupun ada beberapa yang tidak bisa menamatkan pendidikan dasar.

4.3.2. Jumlah Sekolah

Lembaga pendidikan merupakan sarana untuk mencetak generasi penerus bangsa dan memegang kendali terhadap proses pemebentukan generasi selanjutnya, mengingat pendidikan merupakan modal dasar yang sangat diperlukan dalam pembentukan generasi penerus yang berkualitas. Jumlah sekolah menggambarkan tingkat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan bagi generasi penerus selanjutnya. Jumlah sarana pendidikan di Kecamatan Dau dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5. Jumlah Sarana Pendidikan di Kecamatan Dau

Sekolah

Jumlah

TK

SD/MI

SLTP/MTS

SMU/SMK


Total

30

27

9

3

69

Sumber: Data Monografi Kecamatan Dau, 2007

Jumlah bangunan sekolah di Kecamatan Dau sebanyak 69 buah terdiri dari 30 TK, SD/MI sebanyak 27, 9 buah SLTP/ MTS, dan SMU/SMK sebanyak 3 buah. Dengan banyaknya bangunan sekolah yang ada diharapkan masyarakat dapat menikmati pendidikan sampai ke jenjang yang tinggi.

4.3.3. Jumlah Fasilitas Umum

Di Kecamatan Dau, pembangunan fasilitas umum sudah cukup memadai. Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya pembangunan fasilitas umum diantaranya Rumah Sakit, Posyandu dan Tempat Peribadatan.

Tabel 6. Jumlah Fasilitas Umum di Kecamatan Dau

Sarana

Jumlah

Rumah Sakit

Praktek Dokter & Bidan

Posyandu

Tempat Peribadatan

  • Masjid
  • Musholla
  • Gereja
  • Vihara
  • Pura

0

38

59

58

135

7

0

1

Sumber: Data Monografi Kecamatan Dau, 2007

Kecamatan Dau belum memiliki Rumah sakit, akan tetapi kebutuhan masyarakat akan sarana kesehatan dapat ditunjang dengan banyaknya tempat praktek dokter dan bidan yang berjumlah 38 buah.Sedangkan jumlah posyandu sebanyak 59 buah sedangkan tempat peribadatan lebih banyak masjid dan musholla dibandingkan tempat peribadatan agama lain karena memang mayoritas penduduk Kecamatan Dau beragama Islam.

4.4. Luas Lahan Menurut Penggunaan Tanah

Lahan pertanian yang ada di Kecamatan Dau sebagian besar berupa Tegal. Luas lahan di Kecamatan Dau menurut penggunaannya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 7. Luas Lahan Menurut Penggunaan Tanah

Jenis Lahan

Luas (Ha)

Sawah

492

Tegal

1.972

Perkebunan

350

Total

2.814

Sumber: Data Monografi Kecamatan Dau, 2007

Jumlah sawah yang dimiliki oleh penduduk Kecamatan Dau seluas 492 Ha dan lahan berupa tegal seluas 1.972 Ha. Sedangkan lahan perkebunan seluas 350 Ha.

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Karakteristik Responden

Responden dalam penelitian ini adalah penyuluh dan petani yang telah menjadi anggota penyuluhan di Kecamatan Dau. Karakteristik yang dimiliki petani dan penyuluh berbeda antara satu dengan yang lainnya, oleh karena itu di dalam penelitian ini perlu di informasikan berdasarkan hasil penelitian, yang meliputi umur, tingkat pendidikan, luas kepemilikan lahan serta komoditas yang ditanam petani.

5.1.1 Umur Responden

Umur responden dalam penelitian ini adalah umur petani pada saat di lakukan penelitian. Dalam penelitian ini karakteristik responden berdasarkan umur sangat berpengaruh pada perkembangan kelompok tani dan petani yang mengikuti kegiatan penyuluhan. Bagi petugas penyuluh lapang, umur akan sangat mempengaruhi pengalaman dan jam kerja sebagai penyuluh pertanian sekaligus pola kerja dan kemampuan petugas penyuluh itu sendiri. Selain itu, umur juga mempengaruhi produktivitas seseorang yang pada akhirnya akan berpengaruh pada cara kerja seseorang. Pada usia produktif seseorang akan memiliki kondisi fisik yang kuat dan daya pikir yang tinggi sehingga mempengaruhi produktivitas dan cara pandang seseorang. Berikut ini adalah karakteristik responden kelompok tani berdasarkan umur:

Tabel 8. Tingkat Umur Responden

No

Tingkat Umur (tahun)

Penyuluh

Petani

Jumlah (orang)

Presentase (%)

Jumlah (orang)

Presentase (%)

1

<40

0

0

5

12.5

2

40-50

3

75

24

60

3

>50

1

25

11

27.5

Total

4

100

40

100

Sumber: Data Primer Diolah, 2008

Berdasarkan hasil penelitian tingkat umur yang paling dominan pada petani adalah 40-50 tahun. Sedangkan pada responden penyuluh, tingkat umur yang paling dominan adalah 40-50 tahun. Pada usia produktif petani maupun penyuluh dapat mengembangkan usahanya dengan maksimal, pertanian di Kecamatan Dau dapat berkembang dengan lebih baik.

5.1.2 Tingkat Pendidikan Responden

Tingkat pendidikan formal atau pendidikan yang responden peroleh dari bangku sekolah mempengaruhi cara pandang, pola pikir dan wawasan seseorang. Semakin tinggi seseorang menempuh pendidikan formal semakin luas cara pandang, pola pikir, dan wawasan mereka sehingga membuat orang tersebut semakin terbuka dan kritis terhadap informasi, masukan dan pendapat yang berupa pembaharuan atau inovasi serta pengambilan keputusan. Tidak menutup kemungkinan orang yang berpendidikan rendah juga memiliki wawasan yang luas dan tingkat kekritisan yang tinggi terhadap informasi baru yang petani terima.

Hal ini disebabkan kesadaran mereka tentang pentingnya informasi dan hubungan dengan pihak luar yang mereka bina. Berikut ini adalah karakteristik responden kelompok tani berdasarkan pendidikan formalnya:

Tabel 9. Tingkat Pendidikan Responden

No

Tingkat Pendidikan (tahun)

Penyuluh

Petani

Jumlah (orang)

Presentase (%)

Jumlah (orang)

Presentase (%)

1

SD

0

0

18

45

2

SMP

0

0

13

32.5

3

SMA

1

25

7

17.5

4

D1-S1

3

75

2

5

Total

4

100

40

100

Sumber: Data Primer Diolah, 2008

Seperti halnya petani pada masyarakat tani di Kecamatan Dau ini, petani di daerah penelitian ini rata-rata berpendidikan dasar sehingga mereka tidak memiliki keahlian khusus yang bisa diandalkan untuk mencari pekerjaan lain namun mereka hanya mengandalkan fisik saja. Walaupun ada responden yang tidak menempuh pendidikan formal sampai tinggi, namun mereka sering mengikuti pendidikan non formal yaitu penyuluhan-penyuluhan maupun pelatihan di bidang pertanian. Namun ada juga beberapa respoden yang sempat menyelesaikan pendidikannya hingga ke jenjang tinggi yaitu setingkat S1.

Semakin sering seseorang mengikuti penyuluhan dan pelatihan pertanian akan menambah wawasan seseorang tersebut terutama dalam mengembangkan usahatani yang mereka tekuni dan memperoleh informasi teknologi baru atau inovasi.

Jadi walaupun tidak berpendidikan tinggi namun pendidikan non formal dapat membantu mereka menambah wawasan tentang pertanian. Begitu pula tingkat pendidikan yang didapat oleh penyuluh pertanian di Kecamatan Dau ini rata-rata menempuh pendidikan sarjana namun ada juga yang menempuh Diploma setingkat dengan Sarjana.

Karakter petani di Kecamatan Dau sangat bervariasi, tetapi mempunyai beberapa persamaan dasar yaitu: cukup tanggap terhadap perubahan, mudah menerima dan menerapkan teknologi serta inovasi baru. Petani memberikan respon yang baik terhadap kehadiran penyuluh di Kecamatan Dau. Hal ini nampak dari respon positif terhadap program-program yang diadakan penyuluh serta menganggap penyuluh sebagai moderator perkembangan pertanian di Kecamatan Dau.

5.1.3 Luas Kepemilikan Lahan Petani

Luas lahan yang dimilki petani berpengaruh terhadap minat petani dalam menerima teknologi maupun informasi dalam pembangunan dibidang pertanian. Luas lahan yang sempit, mempengaruhi kurangnya keinginan atau minat petani untuk menerapkan teknologi baru guna meningkatkan usaha taninya. Berdasarkan luas lahan responden petani di Kecamatan Dau, maka dapat dibedakan dalam beberapa golongan sebagai berikut:

Tabel 10. Luas Kepemilikan Lahan Petani

No

Luas Lahan (Ha)

Petani

Jumlah (orang)

Presentase (%)

1

<0,3 Ha

11

27.5

2

0,3 - 0,7 Ha

17

42.5

3

>0,7 Ha

12

30

Total

40

100

Sumber: Data Primer Diolah, 2008

Dari tabel diatas dapat dilihat luas kepemilikan lahan yang dimiliki petani sebagian besar antara 0,3 hingga 0,7 Ha yakni 42,5% dari responden. Luas lahan sangat mempengaruhi petani dalam penerimaan suatu teknologi sebagai upaya peningkatan hasil produksi.

5.1.4 Lama Masa Kerja Petugas Penyuluh Lapang

Bagi petugas penyuluh lapang, lama masa kerja akan sangat mem- pengaruhi pengalaman dan keahlian sebagai penyuluh pertanian sekaligus pola kerja dan kemampuan petugas penyuluh itu sendiri. Dengan masa kerja yang lama, maka dapat memberikan kemudahan bagi petugas penyuluh lapang dalam memberikan solsi dan membantu permasalahan yang dihadapi petani karena telah memiliki banyak pengalaman dan referinsi solusi pada masalah-masalah yang dihadapi petani. Berikut tabel lama masa kerja petugas penyuluh lapang di Kecamata Dau:

Tabel 11. Lama Masa Kerja PPL

No

Nama

Lama Masa Kerja

Ditugaskan di Kecamatan Dau (tahun)

Lama Masa Kerja di Kecamatan Dau

1.

Prayitno

30 tahun

1977

30 tahun

2.

Hartono

30 tahun

2004

4 tahun

3.

Jumadi

27 tahun

2004

4 tahun

4.

Musinem

14 tahun

1994

14 tahun

Sumber: Data Primer Diolah, 2008

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa petugas terlama yang ditempatkan di Kecamatan Dau adalah Bapak Prayitno dan Ibu Musinem yang masing-masing telah bekerja selama 30 tahun dan 14 tahun. Sedangkan Bapak Hartono dan Bapak Jumadi baru ditugaskan di Kecamatan Dau sejak tahun 2004 (4 tahun) walaupun telah bekerja sebagai petugas penyuluh lapang selama 30 tahun dan 27 tahun.

Lama masa kerja petugas penyuluh lapang di suatu tempat akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan seorang petugas dalam memahami karak- teristik petani dan pertanian di daerah tempat bertugas. Bagi Bapak Hartono dan Bapak Jumadi yang baru bertugas selama 4 tahun di Kecamatan Dau tentu membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan kondisi pertanian dan karateristik petani di Kecamatan Dau.

5.1.5 Komoditas yang Dibudidayakan Petani

Salah satu kunci dari upaya peningkatan pendapatan petani adalah dengan memilih komoditas yang tepat. Akan tetapi pemilihan komoditas harus disesuaikan dengan keadaan geografis lahan dan kesuburan lahan.

Ketinggian tempat di atas permukaan laut di Kecamatan Dau sangan berfariasi antara desa satu dengan lainnya, yaitu antara 450m dpl hingga 800m dpl. Hal ini menyebabkan komoditas yang bibudidayakan di Kecamatan Dau sangat bervariasi. Berdasarkan komoditas yang dibudidayakan petani di Kecamatan Dau, maka dapat dibedakan dalam beberapa golongan sebagai berikut:

Tabel 12. Komoditas yang Dibudidayakan Petani

No

Komoditas

Petani

Jumlah (orang)

Presentase (%)

1

Jeruk

4

10

2

Bawang

7

17.5

3

Cabe

5

12.5

4

Kubis

1

2.5

5

Padi

9

22.5

6

Jagung

11

27.5

7

Tebu

3

7.5

Total

40

100

Sumber: Data Primer Diolah, 2008

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa 50% petani responden memilih komoditas Padi dan Jagung. Sedangkan untuk responden yang berasal dari desa dataran tinggi lebih memilih menanam bawang merah, yaitu sebesar 17,5%.

5.2 Peranan Penyuluhan Pertanian di Kecamatan Dau

Penyuluh pertanian perlu merencanakan beberapa hal yang dapat membantu petani dalam membentuk pendapat yang sehat dan mengambil keputusan yang efektif serta dapat meningkatkan produktivitas kelompok tani yang ada di Kecamatan Dau. Pendapat petani dan keputusannya berdasarkan kepada citra mereka tentang kenyataan hidup dan dugaan mereka terhadap konsekuensi tindakannya.

Penyuluh pertanian bertugas membantu petani untuk memberi pengalaman dan mencapai konsekuensi yang diharapkan sehingga petani menjadi lebih baik dalam penyesuaian diri dikehidupannya. Agar dapat berkomunikasi dengan petani, maka seorang penyuluh harus memiliki dasar-dasar pengetahuan praktek usahatani, dapat memahami tentang keadaan petani, mau mendengarkan dan mengerti terhadap keluhan-keluhan yang disampaikan oleh petani. Selain itu, penyuluh harus memiliki kemampuan bergaul, diperlukan sikap sabar, penuh pengertian dan perhatian serta rendah hati.

Berdasar pada penelitian yang dilakukan, dari 40 reponden petani, 65% diantaranya menyatakan bahwa penyuluhan pertanian memberikan peranan yang berarti dalam pengembangan pertanian di Kecamatan Dau. Kondisi awal pertanian ketika petugas penyuluh pertanian ditempatkan di Kecamatan Dau belum berkembang seperti saat ini. Jika dibandingkan dengan kondisi saat ini dulu produksi pertanian masih rendah, pengetahuan petani terbatas dan penggunaan pupuk anorganik masih rendah. Bila dibandingkan dengan sekarang menunjukkan keadaan yang berbeda, dimana produksi pertanian mengalami kenaikan dan keadaan pertanian menjadi lebih baik. Tetapi seiring berjalannya waktu, penggunaan pupuk anorganik semakin meningkat, sehingga menimbulkan kerusakan tanah dan tanaman karena penggunaan yang melebihi dosis yang diperbolehkan. Penyuluh memberikan beberapa kontribusi dalam pengembangan pertanian di Kecamatan Dau diantaranya dalam peningkatan ketahanan pangan, program kemitraan, studi lapang, penyebar informasi, pengujian berbagai komoditas serta sebagai stimulator kegiatan petani.

Sejauh ini petani dapat menerima materi yang diberikan oleh penyuluh dengan baik. Hal ini dikarenakan materi yang diberikan oleh penyuluh berdasarkan kebutuhan yang diperlukan oleh petani. Antusiasme petani terhadap materi yang diberikan cukup bagus. Penyuluhan pertanian masih dibutuhkan di era modern saat ini, karena akan terus melatih petani untuk mengadopsi teknologi yang tidak akan pernah berhenti berkembang serta meningkatkan kualitas dan ketrampilan petani.

Penyuluh melakukan berbagai hal untuk memperbaiki kinerja mereka, salah satunya dengan tetap menjaga kreatifitas dalam penyampaian materi penyuluhan. Variasi materi diperlukan agar petani tidak bosan serta dapat memahami materi dengan baik. Penyuluh selalu mencari informasi terbaru yang berkaitan dengan materi yang akan disampaikan melalui dinas atau lembaga terkait, media cetak, media elektronik dan literatur terkait. Selain itu, penyuluh juga melakukan studi banding dengan penyuluh di daerah lain, sehingga dapat saling bertukar informasi.

Penyuluh menerapkan beberapa konsep agar program-program pertanian di Kecamatan Dau dapat sukses dan mencapai tujuan. Faktor yang paling penting adalah menjaga komunikasi yang baik dan berkelanjutan dengan petani. Selain itu penyuluh juga selalu bermusyawarah dengan petani jika terdapat masalah atau kesulitan-kesulitan.

Pertemuan rutin dan berkala sesuai kebutuhan disertai acara arisan digunakan penyuluh dalam memberikan informasi, teknologi serta evaluasi kegiatan kepada petani. Berbagai bentuk kegiatan yang dilakukan penyuluh, dapat dilihat pada tabel 13 berikut ini.

Tabel 13. Bentuk Kegiatan Penyuluhan

Metode Kelompok

Metode Perorangan

Pertemuan rutin sebulan sekali

Silaturahmi/anjangsana

Penyuluhan disertai diskusi dan tanya jawab

Musyawarah

Turun lapang

Acara kekeluargaan

Survey lapang

Survey lapang

Studi banding

Pelatihan

Pelatihan

Demplot

Demplot

Sumber: Data Primer Diolah, 2008

Penyuluh selalu melakukan evaluasi kerja pada akhir kegiatan. Evaluasi ini dilakukan agar penyuluh dapat terus memperbaiki kinerja yang dilakukan serta tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan. Evaluasi keja dilakukan pada berbagai tahap, diantaranya setelah panen, setiap bulan, setiap triwulan/semester, serta setiap tahun.

5.3 Metode Penyuluhan Pertanian

Salah satu aspek yang sangat penting dalam kegiatan penyuluhan pertanian adalah penerapan metode penyuluhan. Aspek ini perlu diperhatikan sebab pengetahuan dan kemampuan petani sasaran dalam memahami suatu inovasi pada umumnya sangat terbatas. Dalam menerapkan metode penyuluhan, agar dapat berkomunikasi dengan petani, maka seorang penyuluh harus memiliki dasar-dasar pengetahuan praktek usaha tani, dapat memahami tentang keadaan petani, mau mendengarkan dan mengerti terhadap keluhan-keluhan yang disampaikan oleh petani. Selain itu, penyuluh harus memiliki kemampuan bergaul, diperlukan sikap sabar, penuh pengertian dan perhatian serta rendah hati. Berikut beberapa metode penyuluhan yang diterapkan petugas penyuluh lapang dalam upaya memberikan informasi, inovasi maupun program baru kepada petani:

5.3.1 Melakukan Demplot

Dalam menerima informasi, inovasi maupun program baru, petugas penyuluh lapang tidak secara langsung menyampaikan informasi, inovasi maupun program baru tersebut kepada petani. Sebagai langkah awal, petugas terlebih dahulu menimbang informasi, inovasi maupun program baru tersebut sesuai dengan kondisi pertanian dan karakteristik petani di Kecamatan Dau, sekaligus mampu memberikan tambahan pendapatan bagi petani. Sebagai contoh kasus, pada tahun 2005 Dinas Pertanian memberikan program budidaya tanaman jarak yang dapat bermanfaat sebagai biopremium. Akan tetapi pada saat itu, petugas penyuluh lapang memilih untuk tidak memberikan informasi tersebut kepada petani dengan alasan belum adanya informasi pasar yang jelas. Sehingga dikhawatirkan program tersebut tidak memberikan keuntungan bagi petani.

Apabila informasi, inovasi maupun program baru dirasa sesuai untuk diterapkan di Kecamatan Dau, tahap selanjutnya adalah melaksnakan demplot atau uji coba tanam sebelum menyampaikan kepada petani. Manfaat dari demplot adalah sebagai sarana penelitian bagi petugas sekaligus sebagai sarana percontohan bagi petani. Lahan untuk demplot biasanya menggunakan lahan anggota kelompok tani yang bersedia digunakan lahannya. Salah satu bentuk pelaksanaan demplot yang dilaksanakan petugas penyuluh lapang adalah melaksanakan demplot untuk penanaman padi hibrida. Pada tahun 2007, Pemerintah mencanangkan program swasembada pangan dengan upaya memberikan bantuan padi hibrida dengan harapan peningkatan produksi. Karena memliki beberapa perlakuan khusus, sebelum menyampaikan kepada petani petugas terlebih dahulu melakukan uji coba penanaman padi hibrida. Demplot padi hibrida di Kecamatan Dau diulaksanakan di dusun Semanding desa Sumbersekar dengan luas lahan 0,1Ha.

Pada demplot tanaman padi hibrida, dusun Semanding dipilih oleh petugas penyuluh lapang sebagai tempat demplot karena lahan sawah di dusun Semanding desa Sumbersekar merupakan lahan dengan sistim irigasi yang lebih baik apabila dibandingkan dengan lahan sawah di desa lain di Kecamatan Dau. Tidak semua desa di Kecamatan Dau memiliki lahan sawah, dari total 492Ha lahan sawah yang terdapat di Kecamatan Dau, desa Sumbersekar memiliki area sawah dengan irigasi teknis terluas yaitu seluas 96Ha atau 19,5% dari total lahan sawah di Kecamatan Dau. Selain itu akses transportasi ke dusun Semanding juga lebih dekat apabila ditempuh dari kantor penyuluhan pertanian. Pemilihan lahan untuk demplot biasanya disesuaikan dengan komoditas yang akan ditanam.

Bagan 2: Metode Demplot


5.3.2 Agenda Pertemuan

Setelah melakukan penelitian pada lahan demplot dan dirasa layak untuk diinformasikan kepada petani, langkah selanjutnya adalah mensosialisasikan informasi, inovasi maupun program baru tersebut kepada petani. Penyampaian informasi, inovasi maupun program baru biasa dilakukan pada saat pertemuam rutin yang dilaksanakan kelompok tani di setiap desa yang dilaksanakan setiap bulan di minggu ke 4. Selain pertemuan kelompok tani, informasi, inovasi maupun program baru juga biasa disampaikan pada pertemuan GAPOKTAN (Gabungan Kelompok Tani) yang dihadiri para pengurus kelompok tani dari setiap desa. Pertemuan GAPOKTAN dilaksanakan setiap 2 bulan sekali pada minggu pertama.

Selain dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyampaikan informasi, inovasi maupun program baru, pertemuan rutin juga biasa digunakan sebagai forum diskusi antara petani dengan penyuluh untuk mendiskusikan berbagai masalah yang dihadapi petani. Agenda pertemuan bersifat fleksibel tergantung kebutuhan petani. Hasil dari pertemuan rutin biasanya memuat rencana tentang demonstrasi cara, demonstrasi hasil, pertemuan lapang yang disesuaikan topic pertemuan.

5.3.3 Demonstrasi

Setelah petani memiliki minat untuk mencoba suatu inovasi maupun program baru, tahap selanjutnya adalah melakukan demonstrasi kepada petani, baik demonstrasi cara maupun demonstrasi hasil. Biasanya guna menambah minat petani, yang terlebih dahulu ditawarkan oleh petugas penyuluh lapang adalah demonstrasi hasil dengan cara melakukan survey ke daerah lain yang telah berhasil menerapkan suatu inovasi maupun program baru yang disosialisasikan petugas. Demonstrasi hasil biasanya hanya diikuti perwakilan dari pengurus kelompok tani yang selanjutnya perwakilan kelompok tani tersebut bertugas menyampaikan informasi yang diperoleh kepada anggota kelompok tani.

Salah satu contoh demonstrasi hasil yang pernah dilaksanakan petugas penyuluh lapang dan petani Kecamatan Dau adalah pada bulan Maret 2007 ketika petugas penyuluh lapang mendapat tawaran untuk bekerjasama dengan PT. Dupont guna pembenihan jagung hibrida. Untuk meyakinkan petani, petugas penyuluh lapang bersama perwakilan PT. Dupont memfasilitasi petani untuk melakukan survey ke daerah yang telah terlebih dahulu melakukan kerjasama dengan PT. Dupont yang dilaksanakan di Kecamatan Sumberpucung. Ketika berada di Sumberpucung, petani dari Kecamatan Dau berkesempatan untuk berdiskusi secara langsung dengan petani setempat tentang keuntungan bekerjasama hingga proses penanaman.

Pelaksanaan Kegiatan demonstrasi hasil tidak dilaksnakan pada setiap program yang dicanangkan petugas. Demonstrasi hasil yang bersifat survey ke daerah lain pada umumnya biaya akomodsi difasilitasi oleh pihak yang menawarkan program, baik pihak Pemerintah atau pihak swasta. Dengan keadaan seperti ini perlu dikaji lebih dalam sejauh mana efektifits kegiatan survey, apakah kegiatan survey benar-benar dibutuhkan petani atau hanya sebagai ajang rekreasi, sehingga menyimpang dari efektifitas penerapan metode panyuluhan.

Dalam pelaksanaan demonstrasi hasil, biasanya diikuti dengan demonstrasi cara, sehingga petani dapat memahami proses praktek secara langsung. Bila ditinjau dari waktu dan tempat, demonstrasi cara dapat dibedakan menjadi 2; pertama, demonstrasi cara dilaksanakan bersamaan dengan demonstrasi hasil yang dilaksanakan di daerah survey. Yang kedua, demonstasi cara dilaksanakan di lahan demplot yang telah dipersiapkan oleh petugas. Demonstrasi cara yang pernah dilaksanakan di lahan demplot adalah praktek penanaman padi hibrida sekaligus demonstrasi hasil penanaman padi hibrida yang telah berumur satu bulan yang dilaksanakan di dusun Semanding. Praktek yang dilaksanakan di lahan demlpot pada awalnya hanya diikuti oleh perwakilan kelompok tani, kemudian apabila ada ketertarikan dari pihak petani, demonstrasi cara dapat diagendakan untuk dilaksanakan pada tingkat kelompok tani disetiap desa. Lahan demplot untuk tingkat kelompok tani biasanya menggunakan lahan “Ganjaran” yang dimiliki oleh perangkat desa setempat.

Keuntungan dari pelaksanaan demonstrasi adalah adanya kesanggupan melihat suatu metode baru untuk dituangkan dalam praktek. Tidak diperlukan adanya rasa saling percaya yang tinggi antara petani dan penyuluh, karena petani dapat melihat sendiri segala sesuatunya dengan jelas. Secara psikologis, dalam pelaksanaan demonstrasi dapat menjadi sangat sulit apabila masih merupakan percontohan. Harus diperoleh hasil yang baik selama proses demonstrasi, sekaligus menunjukkan hasilnya.

Bagan 3: Metode Demonstrasi


5.3.4 Kunjungan Perorangan

Kunjungan individu biasa dilaksanakan oleh petugas penyuluh lapang ketika petani dalam proses penerapan inovasi maupu program penyuluhan. Tujuan dari kunjungan ini adalah untuk mendiskusikan berbagai kendala yang dihadapi petani selama menerapkan inovasi maupun program penyuluhan. Untuk mengetahui keadaan umum petani binaan, petugas penyuluh lapang terlebih dahulu berkunjung ke rumah ketua kelompok tani di desa binaan guna menggali informasi keadaan anggota kelompok tani pasca mengikuti program penyuluhan. Dari kunjungan tersebut petugas dapat mengetahui kondisi umun petani pasca mengikuti program penyuluhan, sehingga apabila ada kendala yang dihadapi petani dapat segera ditindak lanjuti.

Setelah mendapatkan informasi dari ketua kelompok tani dan mendapakan informasi nama-nama petani yang menemui kendala dalam mengikuti program penyuluhan, petugas melanjutkan kunjung ke rumah-rumah petani tersebut. Kunjungan tersebut dapat dimanfaatkan sebagi tempat berdiskusi antara petani dengan petugas. Setelah mengetahui kendala yang dihadapi petani dan memberikan solusi secara teori, langkah selanjutnya adalah melaksanakan kunjungan ke lahan petani sehingga petugas penyuluh juga dapat menjelaskan penanganan masalah yang dihadapi petani secara praktek. Apabila kendala dialami lebih dari satu petani, langkah yang ditempuh adalah mengadakan studi lapang secara kelompok yang biasanya bertempat di salah satu lahan petani yang juga dihadiri oleh petani lain.

Bagan 4: Metode Kunjungan Perorangan


5.4 Kendala yang Dihadapi oleh Petugas Penyuluh Lapang di Kecamatan Dau

5.4.1 Kendala Teknis

Dalam menghadapi musim tanam, sering kali kelompok tani meminta pendapat dan rekomendasi petugas penyuluh lapang tentang komoditas yang tepat dan layak untuk dibudidayakan dalam suatu musim tanam tertentu. Pemilihan komoditas harus disesuaikan dengan kesuburan tanah, keadaan cuaca dan musim sehingga diharapkan komoditas yang dipilih mampu memberikan keuntungan bagi petani. Akan tetapi kendala yang dihadapi oleh penyuluh dalam memberikan rekomendasi komoditas adalah kondisi cuaca serta musim yang tidak menentu akibat pemanasan global. Luas lahan tadah hujan (tegal) di Kecamata Dau mencapai 1.972 Ha atau 70% dari total lahan pertanian di Kecamatan Dau. Lahan irigasi teknis di Kecamatan dau mencapai 492 Ha. Akan tetapi lahan irigasi juga tidak lepas dari kendala yaitu pengairan tidak lancar, dikarenakan sumber air mengering dan musim kemarau yang lebih panjang.

Keadaan ini tentu saja menyulitkan petugas penyuluh lapang dalam merekomendasikan komoditas bagi petani. Belum lagi apabila dalam satu musim tanam terdapat program bantuan benih dari Pemerintah maupun pihak swata yang secara tidak langsung direkomendasikan oleh penyuluh untuk dibudidayakan. Apabila terjadi kegagalan tanam akibat kondisi musim dan cuaca yang tidak menentu, tidak jarang petugas penyuluh lapang dipersalahkan oleh petani. Selain itu secara moril petugas juga merasa turut bertanggung jawab atas kegagalan yang dialami oleh petani.

Bagan 5: Kendala Teknis


5.4.2 Kendala Sosial

Peranan penyuluh adalah sebagai pembimbing dan mengarahkan petani guna mendapatkan hasil produksi dan pendapatan yang meningkat. Dengan kondisi seperti ini, maka seorang penyuluh harus mampu memberikan solusi terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi petani. Dalam hal ini harapan petani adalah penyuluh dapat berperan sebagai fasilitator akan adanya bantuan modal, bantuan saprodi dan informasi pemasaran. Tidak jarang peran penyuluh dalam memberikan bantuan modal, bantuan saprodi dan informasi pemasaran menjadi tolak ukur petani akan kinerja petugas penyuluh lapang.

Selama ini memang 72,5% petani responden menyatakan bahwa bantuan modal dan saprodi yang diberikan melalui penyuluhan pertanian dalam satu tahun dalam kisaran 2-3 kali. Akan tetapi keterbatasan jumlah bantuan modal menyebabkan petugas penyuluh lapang tidak dapat memberikan bantuan modal keseluruh petani. Dalam satu tahun terakhir, bentuk bantuan yang diperoleh baik dari Pemerintah maupun pihak swasta adalah dalam bentuk benih jagung dan padi, sehingga bagi petani yang lebih bertempat tinggal di dataran tinggi tidak diprioritaskan untuk menerima bantuan.

Bagan 6: Kendala Sosial


5.4.3 Kendala Ekonomis

Salah satu tujuan dari penyuluhan pertanian adalah mampu membina petani untuk memperoleh hasil produksi yang meningkat. Akan tetapi sering kai peningkatan produksi tidak diikuti oleh harga jual dan pasar hasil panen yang menunjang bagi petani. Hal ini menjadi kendala bagi petugas penyuluh lapang. Dengan adanya situasi ini petani mengharapkan petugas penyuluh lapang mampu memberikan informasi pasar yang mampu memberikan keuntungan bagi petani. Salah satu cara yang ditempuh oleh petugas penyuluh lapang adalah memfasilitasi petani untuk melakukan kerjasama pembenihan dengan perusahaan industri benih untuk bekerja sama dengan petani di Kecamatan Dau.

Adanya kesepakatan tentang harga beli dan pasar yang pasti dalam sistim kerja sama pembenihan diharapkan memberikan tambahan pendapatan bagi petani.

5.4.2 Sarana Penyuluhan

Penyuluhan pertanian di Kecamatan Dau belum memiliki kantor sendiri. Selama ini kantor penyuluhan masih berada di salah satu ruang dari kantor Kecamatan Dau. Karena keterbatasan tempat, sarana dan prasarana yang digunakan penyuluh masih sangat minim dan belum adanya aula pertemuan, maka sarana pelatihan atau penyuluhan menggunakan rumah petani, biasanya bertempat di rumah ketua kelompok tani. Kendala lain yang dihadapi adalah minimya lahan untuk demplot. Selama ini keterbatasan lahan demplt dapat diatasi karena tanah kelompok tani mengajukan peminjaman lahan “Ganjaran” milik perangkat desa. Penyuluhan pertanian di Kecamatan Dau juga belum memiliki perpustakaan sehingga akses informasi baru bagi petani sangat terbatas.

Bagan 7: Kendala Sarana Penyuluhan


Tabel 14. Kendala Penyuluhan Pertanian di Kecamatan Dau

Jenis Kendala

Bentuk Kendala

Dampak Kendala

Kendala Teknis

· Kondisi musim dan cuaca yang sulit diprediksi akibat pemanasan global

· Tidak lancarnya sistim irigasi pada lahan sawah

· PPL sulit merekomendasikan komoditas yang sesuai untuk dibudidayakan

· Apabila terjadi kegagalan akibat kesalahan rekomendasi PPL, maka PPL dipersalahkan oleh petani.

Kendala Sosial

Tuntutan petani akan kontinyuitas bantuan, baik berupa: modal bantuan saprodi, informasi kerjasama dan pemasaran

Bantuan akan modal, saprodi dan informasi menjadi tolak ukur kinerja penyuluh

Kendala Ekonomis

Harga beli panen yang rendah hampir terjadi pada setiap musim panen

Petani mengalami kerugian, dan bila komoditas yang ditanam merupakan rekomendasi PPL, maka menjadi beban moril bagi PPL

Kendala

Sarana Penyuluhan

Keterbatasan fasilitas penyuluhan pertanian di Kecamatan Dau meliputi belum dimilikinya:

· Kantor penyuluhan pertanian

· Aula pertemuan

· Keterbatasan lahan demplot

· Perpustakaan

Kinerja petugas penyuluh tidak bisa selalu optimal karena keterbatasan informasi dan fasilitas

5.5 Deskripsi Sikap Petani Terhadap Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian

Sikap petani terhadap adanya penyuluhan, di Kecamatan Dau Kabupaten Malang, sebanyak 65 % responden menyatakan dukungannya pada semua kegiatan yang ada dalam program penyuluhan. Hal ini terlihat dari keaktifan responden dalam mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh penyuluh. Bentuk kegiatan yang diikuti oleh petani adalah pertemuan rutin bulanan di setiap desa yang diadakan pada setiap minggu ke 4 pada setiap bulannya dan pertemuan GAPOKTAN se-Kecamatan Dau yang diikuti oleh perwakilan kelompok tani dari setiap desa. Sebanyak 36 dari 40 petani responden menyatakan puas dengan kinerja penyuluh di Kecamatan Dau Kabupaten Malang, karena kualitas penyuluh yang cukup baik dan mampu memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi petani.

Dalam satu bulan petani mengikuti kegiatan penyuluhan dilaksanakan sebanyak 2-3 kali. Bentuk kegiatan bersifat kondisional sesuai dengan kebutuhan petani. Selain pertemuan rutin yang dilaksanakan setiap bulan, bentuk kegiatan lain yang dilaksanakan dalam penyuluhan pertanian adalah studi lapang dan survey. Pada setiap kunjungan penyuluh kepada kelompok tani, penyuluh harus mendorong kelompok tani tersebut untuk membahas keberhasilan dan kekurangan kelompok dalam berusaha tani serta mengarahkannya untuk mengatasi kekurang berhasilannya tersebut. Disamping itu, penyuluh harus berusaha mengorganisir suatu demonstrasi atau praktek.

Sebanyak 57,5 % responden menyatakan adanya cukup variasi kegiatan dan materi yang diberikankan oleh petugas penyuluh di Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Hal ini disebabkan cara penyuluh dalam menyampaikan informasi kepada petani mudah dipahami dan cukup sering melakukan demonstrasi praktek pertanian walaupun masih adanya keterbatasan alat-alat teknologi yang digunakan, namun secara teori dan teknis cukup menguasai .

Pelayanan yang diberikan penyuluh terhadap petani cukup memuaskan, dan sebanyak 72% responden menyatakan adanya komunikasi yang baik antara penyuluh dengan petani. Komunikasi yang baik antara penyuluh dan petani mampu menungjang tingkat pemahaman petani akan suatu teknologi dan inovasi baru dibidang pertanian. Keragaman usia dan tingkat pendidikan petani sangat mempengaruhi pemahaman dan kemampuan petani dalam menyerap dan menerapkan informasi yang diberikan oleh petuga penyuluh lapang.

Dalam penelitian ini petani menyatakan bahwa penyuluh berperan yang nyata dalam perkembangan usaha tani di Kecamatan Dau Kabupaten Malang, hal ini nampak dari 47,5 % petani mengalami perubahan yang lebih baik pada teknik usaha taninya. Peran penyuluh pertanian dalam mengusahakan bantuan modal dan memberi informasi mengenai sumber dana kredit sudah optimal, penyuluh berusaha merekomendasi kelompok tani agar bisa mendapatkan bantuan dari Dinas Pertanian maupun perusahaan-perusahaan terkait. Namun, ada juga responden yang menyatakan kurang baik mengenai peran penyuluh tersebut. Ini disebabkan karena kurang puasnya responden terhadap usaha yang dilakukan penyuluh pertanian dalam mengupayakan bantuan ataupun modal yang belum terlaksana selama ini. Tetapi jika dilihat dari keseluruhan tanggapan dari beberapa responden anggota kelompok tani, maka peran penyuluh pertanian di Kecamatan Dau cukup baik karena penyuluh dirasa telah cukup optimal dalam memenuhi perannya sebagai pembimbing. Sebanyak 47% responden menyatakan, dalam 1 tahun penyuluh memberikan atau mengusahakan bantuan modal untuk usaha tani sebanyak 2 kali. Tidak dapat meratanya bantuan modak maupun saprodi yang diusahakan oleh petugas penyuluh dikarenakan minimnya jumlah bantuan dan bentuk bantuan yang tidak sesuai dengan kebutuhan petani.

Sebanyak 65% responden menyatakan bahwa program-program yang dilakukan dalam penyuluhan telah sesuai dengan kebutuhan usaha tani di Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Penyuluh juga berperan dalam mengambil keputusan di kelompok tani dengan cara musyawarah mufakat namun, penyuluh hanya bertindak sebagai pengarah sedangkan keputusan mutlak sepenuhnya ditangan kelompok. Tetapi ada juga beberapa responden yang kurang begitu sependapat jika penyuluh harus ikut andil dalam rapat anggota, mereka berpikir segala sesuatu keputusan hanya berdasarkan persetujuan anggota kelompok tani semata. Presensi kunjungan penyuluh sudah dirasa optimal, hal ini dibuktikan dengan kehadiran penyuluh dalam suatu kegiatan rutin kelompok walaupun terkadang sesekali mereka tidak hadir karena ada sesuatu hal yang tidak bisa ditinggalkan.

Penggunaan inovasi dan teknologi terbaru dalam usaha tani, merupakan hal yang sering dilakukan, terbukti dengan 50% responden yang menyatakan demikian karena penyuluh selalu memberikan informasi dan memperkenalkan teknologi-teknologi terapan, walaupun dalam pengaplikasiannya masih kurang optimal. Sedangkan 40% responden yang lainnya menyatakan tidak selalu menerapkan teknologi atau inovasi yang disampaikan oleh penyuluh dengan alasan tidak selalu sesuai dengan kebutuhan petani. Selain penyuluh pertanian, ada juga organisasi pertanian atau LSM yang memberikan penyuluh untuk menambah wawasan para petani dan hal ini memang disambut baik oleh masing-masing anggota kelompok tani. Karena dengan adanya LSM, para petani dapat menambah wawasan dan bertukar pikiran untuk menambah pengalaman bertani mereka.

Dalam suatu organisasi atau kelompok pasti sangat dibutuhkan fasilitas yang memadai untuk menunjang keefektifan kelompok. Sebanyak 47,5% responden menyatakan adanya kelengkapan yang cukup pada sarana dan prasarana yang dimiliki kelompok tani walaupun masih memerlukan pembenahan. Ini dikarenakan kurangnya modal dari kelompok maupun belum adanya bantuan dari Dinas Pertanian setempat. Tetapi hal ini tidak mengurangi niat kelompok tani untuk berusaha meningkatkan produktivitas usahataninya dengan keterbatasan fasilitas yang dimilikinya.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian mengenai Kajian Metode dan Kendala Penyuluhan Pertanian di Kecamatan Dau Kabupaten Malang, dapat ditarik kesimpulan bahwa:

1. Dalam menerapkan metode penyuluhan, langkah awal yang dilakukan PPL adalah melaksanakan demplot, tempat pelaksanaan demplot disesuaikan dengan komoditas yang akan dibudidayakan.

2. Hasil dari demplot disosialisasikan pada pertemuan rutin kelompok tani dan GAPOKTAN yang kemudian ditindak lanjuti dengan pelaksanaan demonstrasi, baik berupa demonstrasi hasil maupun demonstrasi cara.

3. Dalam menaggulangi permasalahan yang dihadapi petani, PPL melakukan kunjungan perorangan yang bila diperlukan dapat ditindaklanjuti dengan studi lapang atau praktek lapang.

4. Kendala-kendala yang dihadapi petugas penyuluh lapang antara lain; kendala teknis yang meliputi kondisi musim dan cuaca yang sulit diprediksi akibat pemanasan global dan keterbatasan sistim irigasi, kendala sosial meliputi tuntutan kontinyuitas bantuan modal, saprodi dan informasi yang difasilitatori PPL, kendala ekonomis yang meliputi rendahnya harga pada saat musim panen dan kendala sarana penyuluhan yang meliputi belum dimilikinya saran kantor penyuluhan, aula pertemuan, perpustakaan dan keterbatasn lahan demplot.

5. Dalam kegiatan penyuluhan pertanian, sebanyak 65 % responden menyatakan dukungannya pada semua kegiatan yang ada dalam program penyuluhanyang dapat dilihat dari keaktifan responden dalam mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh penyuluh.

6. Dalam satu bulan petani mengikuti kegiatan penyuluhan dilaksanakan sebanyak 2-3 kali. Bentuk kegiatan bersifat kondisional sesuai dengan kebutuhan petani. Petani menyatakan adanya cukup variasi kegiatan dan materi yang diberikankan oleh petugas penyuluh di Kecamatan Dau Kabupaten MalangSebanyak 65% responden menyatakan bahwa program-program yang dilakukan dalam penyuluhan telah sesuai dengan kebutuhan usaha tani di Kecamatan Dau Kabupaten Malang.

7. Sebanyak 47,5% responden menyatakan adanya kelengkapan yang cukup pada sarana dan prasarana yang dimiliki kelompok tani walaupun masih memerlukan pembenahan. Ini dikarenakan kurangnya modal dari kelompok maupun belum adanya bantuan dari Dinas Pertanian setempat.

6.2 Saran

Saran yang bisa disampaikan dalam penelitian ini adalah:

1. Perlu adanya suatu usaha dari petugas penyuluh lapang untuk lebih meningkatkan berbagai peranan peranan penyuluhan pertanian yang mampu memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan pendapatan petani dengan berupaya memberikan informasi pemasaran bagi petani.

2. Untuk memperlancar proses penyuluhan perlu adanya upaya peningkatan hubungan antara petugas penyuluh lapang dengan petani dengan cara meningkatjan frekuensi kunjungan dan kegiatan, peningkatan kemanfaatan materi penyuluhan dan sosialisasi suatu program atau materi secara lebih intensif.

3. Perlu adanya perhatian lebih dari Dinas terkait guna mengatasi permasalahan yang dihadapi petugas penyuluh lapang, terutama masalah fasilitas penyuluhan yang masih sangat minim di Kecamatan Dau, dengan harapan mampu meningkatkan kinerja penyuluhan pertanian.

2 komentar: