LAPORAN PRAKTIKUM LAPANG
TATA NIAGA PERTANIAN
( Saluran Pemasaran Tanaman Apel Di Desa kayukebek Kec. Tutur Kab. Pasuruan)
KELOMPOK II
1. SOVI DWI A. (03720004)
2. IMAM SUROSO (03720033)
3. BELLA K (03720045)
4. MADALIA SOFIVA (03720057)
JURUSAN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2006
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan praktikum Tata Niaga Pertanian disusun berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan di Desa Kayukebek Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan.
Nama:
1. Sovi Dwi Agus Tiningtyas (03720004)
2. Imam Suroso (03720033)
3. Bella Kurniawan (03720045)
4. Madalia Sofiva (03720057)
Jurusan : Agribisnis
Fakultas : Pertanian
Universiatas Muhammadiyah Malang
Telah disahkan dan disetujui
Dosen Pembina Assisten
Ir. Gumoyo Mumpuni N, MP Aprida Rahimah R, SP
Mengetahui,
Ka-Laboratorium Agribisnis
Ir. Dyah Erni W, MM
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah atas segala rahmat dan karunia Allah SWT, kami dapat menyusun dan menyelesaikan laporan Tata Niaga Pertanian ini sebagai tambahan pemgetahuan dan materi di Fakultas Pertanian UMM dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitas mahasiswa agar mempunyai nilai lebih di bandingkan mahasiswa dari Fakultas Pertanian lainnya di Indonesia.
Tujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk membekali mahasiswa dan menambah pengetahuan mahasiswa tentang pengetahuan praktis di bidang Tata Niaga Pertanian atau Pemasaran Pertanian dan juga membekali mahasiswa dengan pengetahuan dasar tentang berbagai macam lembaga-lembaga atau saluran pemasaran lainnya. Di samping itu, mahasiswa di tuntut untuk dapat melakukan penelusuran secara aplikasi terhadap saluran pemasaran suatu komoditas pertanian tertentu serta mampu melakukan analisis terhadap berbagai aspek dalam bidang Tata Niaga Pertanian.
Kami selaku penyusun sangatlah tahu bahwa tak ada gading yang tak retak, maka kami berbesar hati mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan dan penyempurnaan laporan Tata Niaga Pertanian ini. Dengan demikian pemahaman secara teoritis yang disertai dengan pengalaman akan memudahkan mahasiswa dalam penyusunan laporan ini.
Malang, Desember 2006
Penyusun
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI iv
DAFTAR TABEL v
DAFTAR LAMPIRAN vi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Tujuan 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian pemasaran 3
2.2 Definisi Margin Pemasaran, Distribusi Margin, Market Share dan Elastisitas Transmisi 4
2.3 Budidaya Apel 4
BAB III KARAKTERISTIK RESPONDEN
3.1 Distrisbusi Responden Berdasarkan Usia 6
3.2 Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan 7
3.3 Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan Keluarga 9
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. HASIL PENELITIAN
4.1 Analisis Saluran Pemasaran Komoditas Apel 12
4.2 Analisis Margin Pemasaran, Distribusi Margin Dan Market Share 12
4.2.1 Saluran pemasaran 1 12
4.2.2 Saluran Pemasaran 2 14
4.2.3 Saluran Pemasaran 3 16
4.2.4 Saluran Pemasaran 4 17
4.2.5 Analisis Effisiensi Saluran Pemasaran 19
4.2.6 Hubungan Antara Margin Pemasaran dan Harga di Tingkat Pengecer 22
4.3 Analisis Elastisitas Transmisi Pemasaran 24
B. PEMBAHASAN 25
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan 27
5.2 Saran 27
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DOKUMENTASI
DAFTAR TABEL
Tabel 1.a Tabel Distribusi Petani BerdasarkanUsia.................................................6
b Tabel Distribusi Pedagang Besar Berdasarkan Usia................................6
c Tabel Distribusi Pengecer Berdasarkan Usia...........................................7
Tabel 2.a Tabel Distribusi Petani Berdasarkan Pendidikan.....................................7
b Tabel Distribusi Pedagang Besar Berdasarkan Pendidikan.....................8
c Tabel Distribusi Pengecer Berdasarkan Pendidikan................................9
Tabel 3.a Tabel Distribusi Petani Berdasarkan Tanggungan Keluarga...................9
b Tabel Distribusi Pedagang Besar Berdasarkan Tanggungan keluarga..10
c Tabel Distribusi Pengecer Berdasarkan tanggungan Keluarga..............11
Tabel 4.a Tabel Analisis Pemasaran komoditas Apel
4.b Tabel Analisis Margin Pemasaran , Distribusi margin dan market share saluran pemasaran 1.............................................................................13
4.c Tabel Analisis Margin Pemasaran , Distribusi margin dan market share saluran pemasaran 2.............................................................................14
4.d Tabel Analisis Margin Pemasaran , Distribusi margin dan market share saluran pemasaran 3.............................................................................16
4.e Tabel Analisis Margin Pemasaran , Distribusi margin dan market share saluran pemasaran 4.............................................................................18
Tabel 5.a Tabel Analisis efesiensi saluran pemasaran 1........................................19
5.b Tabel Analisis efesiensi saluran pemasaran 2........................................20
5.c Tabel Analisis efesiensi saluran pemasaran 3.......................................21
5.d Tabel Analisis efesiensi saluran pemasaran 4.......................................21
Tabel 6. Tabel hubungan antara margin pemasaran dan harga di tingkat
pengecer .................................................................. .............................22
Tabel 7. Tabel analisis elastisitas transmisi pemasaran.........................................24
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagai proses produksi yang komersial, maka pemasaran pertanian merupakan syarat mutlak yang diperlukan dalam pembangunan pertanian. Pemasaran pertanian dapat menciptakan nilai tambah melalui nilai guna tempat, guna bentuk, dan guna waktu. Dengan demikian pemasaran pertanian di anggap memberikan nilai tambah yang dapat dianggap sebagai kegiatan produktif. Pemasaran pertanian merupakan bagian dari ilmu pemasaran pada umumnya, tetapi dapat dianggap sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Anggapan ini didasarkan pada karakteristik produk pertanian serta subjek dan objek pemasaran pertanian itu sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari seringkali dijumpai petani produsen hanya menikmati bagian harga yang sangat kecil sekali di bandingkan sengan harga yang di bayarkan konsumen. Sebagai ilustrasi dalam pemasaran apel petani menerima harga sebesar Rp. 2500,- sampai dengan Rp. 3000,- per kg, sedangkan konsumen bersedia membayar sebesar Rp. 6500,- per kg dalam ilustrasi ini seolah-olah keuntungan yang diperoleh lembaga pemasaran sangat besar, tetapi telaah lebih mendalam dapat dilihat bahwa lembaga pemasaran harus mengeluarkan biaya-biaya untuk menjalankan fungsi-fungsi pemasaran dan menanggung resiko kerugian akibat proses pemasaran yang dilakukan. Jika tidak insentif yang cukup, tentu tidak terdapat lembaga pemasaran yang mengalirkan barang dari produsen ke konsumen akhir.
Pada daerah sub tropik, di tempat yang tinggi, biasanya pohon apel berbunga pada musim semi. Munculnya bunga di dahului oleh munculnya tunas produktif dan pertunasan berhenti setelah pertumbuhan buah. Pada musim panas, bunganya berkembang dan berdiferensi, sebagian tunas yang tidak berbunga akan tinggal dorman dan biasanya akan berbunga pada musim berikutnya. Buah apel ini akan masak pada musim rontok. Sedangkan untuk daerah tropik tumbuhan tanaman apel berbeda dengan yang terjadi di daerah sub tropik.
Tanaman apel yang dibudidayakan hingga sekarang merupakan hasil silangan antara M.Sylvestris Miller, M.Dasyphylla Borkh, M.Pumila Miller dan beberapa jenis lainnya yang berasal dari Asia.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum tata niaga ini adalah agar mahasiswa atau praktikan diharapkan mampu memahami saluran pemasaran yang dimulai dari tingkatan produsen sampai pada konsumen akhir serta mengetahui model atau level dari saluran pemasaran tersebut sehingga mahasiswa mengenal berbagai macam saluran, lembaga-lembaga pemasaran serta mampu melakukan penentuan model atau level dari saluran pemasaran tersebut dan agar mahasiswa mengetahui serta bisa menganalisis margin pemasaran, distribusi margin, market share dan elastisitas transmisi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian pemasaran
Dalam pemasaran komoditi pertanian terdapat pelaku-pelaku ekonomi yang terlibat secara langsung ataupun tidak langsung, dengan cara melaksanakan fungsi-fungsi pemasaran. Komoditi-komoditi yang dipasarkan juga bervariasi kualitas dengan harga yang beragam pula. Fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan lembaga-lembaga pemasaran juga bervariasi. Komplektisitas permasalahan pemasaran komoditi pertanian ini menuntut adanya suatu pendekatan (approach), sehingga permasalahan yang diteliti menjadi jelas dan menjadi lebih mudah untuk diselesaikan.
Sudiyono (2001), menjelaskan bahwa komoditi pertanian yang diperjual belikan beraneka ragam, lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran juga banyak, satu lembaga pemasaran dapat melakukan satu atau lebih fungsi pemasaran, serta adanya kekuatan pembeli dan penjualan dalam menentukan harga. Dalam mempelajari pemasaran pertanian terdapat lima pendekatan, yaitu pendekatan komoditi, pendekatan lembaga, pendekatan fungsi, pendekatan teori ilmu ekonomi dAn pendekatan sistem.
Lembaga pemasaran adalah badan usaha atau individu yang menyelenggarakan pemasaran, menyalurkan jasa dan komoditi dari produsen kepada konsumen akhir serta mempunyai hubungan dengan badan usaha atau individu lainnya. Lembaga pemasaran ini timbul karena adanya keinginan konsumen untuk memperoleh komoditi yang sesuai dengan waktu, tempat dan bentuk yang diinginkan konsumen (Sudiyono, 2001).
Menurut Kartasapoetra (1992), Pemasaran atau Ilmu Tata Niaga yaitu meliputi segala kegiatan usaha yang di utamakan atau diperlukan agar barang-barang hasil produksi dimungkinkan akan mengalir secara lancar ke sektor konsumsi. Dalam hal melancarkan penyampaian dam pemindahan barang-barang dari produsen ke pasar (para konsumen) peranan lembaga-lembaga pemasaran adalah demikian besar. Lembaga pemasaran adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan jaringan lalu lintas barang di masyarakat.
2.2 Definisi Margin Pemasaran, Distribusi Margin, Market Share dan Elastisitas Transmisi
Margin pemasaran dapat ditinjau dari 2 sisi yaitu sudut pandang harga dan biaya pemasaran. Yang dimaksud margin pemasaran adalah selisih harga yang dibayar konsumen akhir dan harga yang diterima petani produsen. Selama proses pemasaran terdapat beberapa lembaga pemasaran yang terlibat dalam aktivitas pemasaran ini, maka dapat dianalisis distribusi margin pemasaran diantara lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat tersebut (Sudiyono, 2001) Distribusi margin adalah pembagaian antara semua komponen biaya yang dikelurkan dalam proses memasarkan suatu komoditas pertanian tertentu dan keuntungan yang didapatkan pada masing-masing lembaga dengan margin pemasaran yang kemudian dikalikan 100%. Market share adalah pembagian semua komponen (harga, keuntungan dan biaya) yang terdapat pada masing-masing lembaga yang terdapat pada saluran pemasaran tersebut dengan harga jual ditingkat pengecer yang kemudian dikalikan 100%.
Elastiistas transmisi digunakan untuk menjelaskan perpandingan prosentase perubahan harga ditingkat pengecer dengan prosentase perubahan harga ditingkat petani produsen. Analisis transmisi ini membrikan gambaran bagaiman harga yang diterima konsumen akhir ditransmisikan kepada petani produsen.
2.3 Budidaya Apel
Di Indonesia lebih dari 80% jenis yang di tanam petani adalah kultivar “Rome Beauty”, “Manalagi”, “Princess Noble”.
1) Rome Beauty: daunnya agak lonjong, panjang tangkai daun dapat mencapai 3 cm dalam satu dongkol bunga terdapat 6 bunga, Buahnya bulat gepeng, warna kulit buahnya kuning kehijauan dan rasa daging buahnya manis disertai rasa asam.
2) Manalagi: bentuk buahnya bulat, kecil, warna buahnya kuning kehijauan, daging buahnya manis dengan aroma yang enak tanpa ada rasa masam. Harganya paling mahal di Indonesia.
3) Princess Noble: buahnya lonjong, kecil, warna kulit buahnya hijau, daging buahnya putih berair dan agak masam (Ashari,1995: 281)
Pada dataran tinggi, tanaman apel memerlukan sinar matahari cukup, tem-peratur sejuk serta kelembapan cukup. Pada daerah tropik, memerlukan kondisi yang sejuk, tinggi tempat antara 16-27o C, memerlukan penyinaran lebih dari 50% selama sehari, curah hujan antara 1000-2500 mm, kelembapan relatif 75-85%. Karena itu tanaman apel tidak usah ternaungi, dan tidak cocok terhadap kabut dan halimun (AAK, 1993).
Tamanan apel kadang-kadang mulai berbuah pada tahun kedua, tergantung dari kualitas dan ukuran bibit yang ditanam. Namun seperti halnya dengan tana-man keras/ buah-buahan lain, biasa produk awal tidak dijadikan buah, dengan jalan menggugurkan bunga yang jadi. Tujuannya untuk membentuk pohon yang kuat dulu dan mempunyai kerangka pohon yang baik. Pohon apel dapat dibuahkan setelah berumur dua tahun atau lebih (Kartasapoetra, 1992).
Apel ‘Rome beauty’ adalah kultivar yang paling produktif di Indonesia, tanaman ini mampu menghasilkan buah sebanyak 25 ton/ha. Buah apel dipetik se-belum masak betul, untuk menjaga jangan sampai terlambat petik karena akan tu-run kualitasnya. Buah apel biasanya dipetik beserta tangkai buahnya, sortasi dila-kukan berdasarkan ukuran besar, warna dan bentuknya. Setelah buah dipetik dimasukan dalam keranjang atau karton dan dijaga jangan sampai terjadi kerusakan fisik. Di pasar, buah apel dijual dalam kemasan jala plastik sehingga penampilan sangat menarik (Sudiono, 2001).
BAB III
KARAKTERISTIK RESPONDEN
3.1 Distrisbusi Responden Berdasarkan Usia
3.1.1 Petani
Tabel 1.a. Tabel Distribusi Petani Berdasarkan Usia
No Kriteria Usia Jumlah
(Orang) Prosentase
(%)
1 < 20 Th -
2 20 – 30 Th 1 25
3 > 30 Th 3 75
Total 100
Sumber: Data Primer, 2006
Dari data diatas, menurut distrisbusi responden berdasarkan usia dapat diketahui bahwa dari 4 responden Petani yang berumur 20 – 30 tahun sebanyak 1 orang dengan prosentase sebesar 25%. Sedangkan petani yang berumur diatas 30 tahun sebanyak 3 orang, dengan prosentase sebesar 75%, sehingga dapat disimpulkan sebagian besar petani apel di Desa Nongkojajar berumur diatas 30 tahun. Petani apel kebanyakan berumur di atas 30 tahun karena kami sengaja mengambil responden yang sudah lama berpengalaman dalam bidang bertani apel.
3.1.2 Pedagang Besar
Tabel 1.b. Tabel Distribusi Pedagang Besar Berdasarkan Usia
No Kriteria Usia Jumlah
(Orang) Prosentase
(%)
1 < 20 Th - -
2 20 – 30 Th - -
3 > 30 Th 4 100
Total 100
Sumber: Data Primer, 2006
Dari data diatas, menurut distrisbusi responden berdasarkan usia dapat diketahui bahwa dari ke 4 responden pedagang besar apel di Desa Nongkojajar, Semua berumur diatas 30 tahun, dengan presentase 100 %. Hal ini dikarenakan pedagang besar yang ada di Desa kayukebek hanya terdiri dari 3 orang, itupun merupakan pedagang besar yang sudah sejak lama dipercaya oleh masyarakat petani apel di desa Kayukebek.
3.1.2 Pengecer
Tabel 1.c. Tabel Distribusi Pengecer Berdasarkan Usia
No Kriteria Usia Jumlah
(Orang) Prosentase
(%)
1 < 20 Th - -
2 20 – 30 Th - -
3 > 30 Th 4 100
Total 100
Sumber: Data Primer, 2006
Dari data diatas, menurut distrisbusi responden berdasarkan usia dapat diketahui bahwa dari 4 responden pengecer apel di Desa Nongkojajar, Semuanya berumur di atas 30 tahun, dengan presentase sebessar 100 %. Hal ini dikarenakan karena ketidak sengajaan kami waktu kami melakukan penelitian. Sebenarnya banyak juga pengecer yang berumur di bawah 30 tahun.
3.2 Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan
3.2.1 Petani
Tabel 2.a. Tabel distribusi Petani Berdasarkan pendidikan
No Kriteria
Pendidikan Jumlah
(Orang) Prosentase
(%)
1 < SD - -
2 SD 2 50
3 SMP 1 25
4 SMA -
5 > SMA 1 25
Total 100
Sumber: Data Primer, 2006
Dari data diatas, menurut distribusi responden berdasarkan pendidikan dapat diketahui bahwa dari 4 petani responden yang berpendidikan SD sebanyak 2 orang dengan prosentase sebesar 50%. Sedangkan petani yang berpendidikan SMP sebanyak 1 orang, dengan prosentase sebesar 25%, dan yang berpendidikan diatas SMA sebanyak 1 orang, dengan prosentase sebesar 25%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar petani apel di Nongkojajar berpendidikan SD. Hal ini dikarenakan, karena adanya faktor ekonomi yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinnggi, dan pilihan terletak pada usaha tani.
3.2.2 Pedagang Besar
Tabel 2.b. Tabel distribusi Pedagang Besar Berdasarkan pendidikan
No Kriteria
Pendidikan Jumlah
(Orang) Prosentase
(%)
1 < SD - -
2 SD - -
3 SMP 2 75
4 SMA 1 25
5 > SMA - -
Total 100
Sumber: Data Primer, 2006
Dari data diatas, menurut distribusi responden berdasarkan pendidikan dapat diketahui bahwa dari 4 responden pedagang besar yang berpendidikan SMP sebanyak 3 orang dengan prosentase sebesar 75%. Sedangkan pedagang besar yang berpendidikan SMA sebanyak 1 orang, dengan prosentase sebesar 25%, sehingga dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pedagang besar apel di Nongkojajar berpendidikan SMP. Dengan melihat prosentase seperti itu, terdapat pendidikan yang lebih baik bagi pedagang besar.
3.2.3 Pengecer
Tabel 2.c. Tabel distribusi Pengecer Berdasarkan pendidikan
No Kriteria
Pendidikan Jumlah
(Orang) Prosentase
(%)
1 < SD - -
2 SD 2 50
3 SMP 2 50
4 SMA - -
5 > SMA - -
Total 100
Sumber: Data Primer, 2006
Dari data diatas, menurut distribusi responden berdasarkan pendidikan dapat diketahui bahwa dari 4 responden pengecer yang berpendidikan SD sebanyak 2 orang dengan prosentase sebesar 50%. Sedangkan pengecer yang berpendidikan SMP sebanyak 2 orang, dengan prosentase sebesar 50%, sehingga dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pengecer apel di Nongkojajar berpendidikan antara SD hingga SMP.
3.3 Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan Keluarga
3.3.1 Petani
Tabel 3.a. Tabel distribusi Petani Berdasarkan Tanggungan Keluarga
No Kriteria Jumlah
Tanggungan Jumlah
(Orang) Prosentase
(%)
1 < 2 - -
2 2 – 5 4 100
3 > 5 - -
Total 100
Sumber: Data Primer, 2006
Dari data diatas, menurut distribusi responden berdasarkan jumlah tanggungan keluarga dapat diketahui bahwa dari 4 petani, yang semuanya mempunyai tanggungan keluarga sebanyak 2–5 orang dengan prosentase sebesar 100%. Hal ini dapat terjadi dikarenakan mungkin sebagian besar petani di Desa Kayukebek ikut serta dalam peningkatan progam KB. Sehingga tanggunan keluarga mereka hanya sebatas 2-5 orang saja tidak lebih.
3.2.4 Pedagang Besar
Tabel 3.b. Tabel distribusi Pedagang Besar Berdasarkan Tanggungan Keluarga
No Kriteria Jumlah
Tanggungan Jumlah
(Orang) Prosentase
(%)
1 < 2 - -
2 2 – 5 4 100
3 > 5 - -
Total 100
Sumber: Data Primer, 2006
Dari data diatas, menurut distribusi responden berdasarkan jumlah tanggungan keluarga dapat diketahui bahwa dari 4 pedagang besar responden, semuanya mempunyai tanggungan keluarga sebanyak 2–5 orang dengan prosentase sebesar 100%. Hal ini dapat terjadi dikarenakan mungkin sebagian besar pedagang besar di Desa Kayukebek ikut serta dalam peningkatan progam KB. Sehingga tanggunan keluarga mereka hanya sebatas 2-5 orang saja tidak lebih.
3.2.5 Pengecer
Tabel 3.c. Tabel distribusi Pengecer Berdasarkan Tanggungan Keluarga
No Kriteria Jumlah
Tanggungan Jumlah
(Orang) Prosentase
(%)
1 < 2 - -
2 2 – 5 4 -
3 > 5 - -
Total 100
Sumber: Data Primer, 2006
Dari data diatas, menurut distribusi responden berdasarkan jumlah tanggungan keluarga dapat diketahui bahwa dari 4 pengecer responden, semuanya mempunyai tanggungan keluarga sebanyak 2–5 orang dengan persentase sebesar 100%. Hal ini dapat terjadi dikarenakan mungkin sebagian besar pengecer di Nongkojajar ikut serta dalam peningkatan progam KB. Sehingga tanggunan keluarga mereka hanya sebatas 2-5 orang saja tidak lebih.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. HASIL PENELITIAN
4.1 Analisis Saluran Pemasaran Komoditas Apel
Tabel 4.a. Tabel Analisis Saluran Pemasaran Komoditas Apel
No Nama
Petani Nama
Pedagang Besar Nama pengecer
1 Sutikno H. Rochim Hermanto
2 Gatot H. Rochim Tari
3 Sirianom H. Wahid Sutilah
4 Sumarto H. Ma’ruf Ngateni
Sumber: data Primer, 2006
1. Petani / Produsen 1 Pedagang Besar 1 Pengecer 1
Konsumen Akhir
2. Petani / Produsen 2 Pedagang Besar 2 Pengecer 2
Konsumen Akhir
3. Petani / Produsen 3 Pedagang Besar 3 Pengecer 3
Konsumen Akhir
4. Petani / Produsen 4 Pedagang Besar 4 Pengecer 4
Konsumen Akhir
4.2 Analisis Margin Pemasaran, Distribusi Margin Dan Market Share
4.2.1 Saluran pemasaran 1
Saluran pemasaran komoditas Apel adalah:
Petani (Sutikno) Pedagang Besar (H. Rochim) Pengecer (Suparman) Konsumen Akhir
Tabel 4.b. Tabel analisis margin pemasaran, distribusi margin dan market share saluran pemasaran 1
No Uraian Nilai
(Rp / Kg) Distribusi
Margin (%) Share (%)
1 Petani
- Harga jual (Pf)
3500
-
66.67
2 Pedagang Besar
- Harga beli
- Biaya Tranportasi Pembelian
- Pemetikan
- Biaya Pembersihan
- Baiaya sortasi
- Biaya grading
- B. Bongkar muat
- Pengemasan
- Pembelian dos apel
- Pembelian Kranjang
- Transportasi penjualan
- Harga jual
- Keuntungan
3500
20
106.6
24
24
24
24
24
200
83.3
400
4850
420
-
1.14
6.09
1.37
1.37
1.37
1.37
1.37
11.43
4.76
22.86 -
24 %
66.67
0.38
2.03
0.46
0.46
0.46
0.46
0.46
3.81
1.59
7.62
92.38
8
3 Pengecer
- Harga beli
- Biaya Bongkar Muat
- Biaya transportasi pembelian
- Biaya grading
- Harga Jual
- Keuntungan
4850
25
50
25
5250
300
-
1.43
2.86
1.43
-
17.44
92.38
0.48
0.95
0.48
100
5.71
4 Margin (Pr – Pf) 1750
Sumber: data Primer, 2006
Perhitungan Secara Matematis
Margin Pemasaran (MP) = harga Jual pengecer (Pr) – Harga Jual Petani (Pf)
Saluran Pemasaran 1
MP 1 = Pr 1 – Pf 1
MP 1 = 5250 – 3500
MP 1 = 1750
Distribusi Margin (DM) =
Contoh :Biaya Tranportasi Pembelian Dari Pedagang Besar
DM =
= 0.24 x 100%
= 1.14 %:
Keuntungan Pedagang Besar
DM =
= 0.1142 x 100%
= 24 %
Share Pemasaran (SP) =
Komponen harga Jual di Tingkat Petani
SP =
= 0.666 x 100%
= 66.67 %
4.2.2 Saluran Pemasaran 2
Saluran pemasaran komoditas Apel adalah:
Petani (Gatot) Pedagang Besar (Hermanto) Pengecer (Tari) Konsumen Akhir
Tabel 4.c. Tabel analisis margin pemasaran, distribusi margin dan market share saluran pemasaran 2
No Uraian Nilai
(Rp / Kg) Distribusi
Margin (%) Share (%)
1 Petani
- Harga jual (Pf)
2000
-
52.63
2 Pedagang Besar
- Harga beli
- Biaya Tranportasi Pembelian
- Biaya Pembersihan
- Baiaya sortasi
- Biaya grading
- B. Bongkar muat
- Pengemasan
- Pembelian dos apel
- Pembelian kranjang
- Pemetikan
- Transportasi penjualan
- Harga jual
- Keuntungan
2000
15
22.5
22.5
22.5
22.5
22.5
200
83.3
100
340
3400
549
-
0.83
1.25
1.25
1.25
1.25
1.25
11.11
4.63
5.55
18.89
-
30.5
52.63
0.39
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
5.26
2.19
2.63
8.95
89.47
14.45
3 Pengecer
- Harga beli
- Biaya Bongkar Muat
- Biaya transportasi pembelian
- Biaya grading
- Harga Jual
- Keuntungan
3400
33.3
83.3
33.3
3800
250
-
1.85
4.63
1.85
-
13.89
89.47
0.88
2.19
0.88
100
6.58
4 Margin (Pr – Pf) 1800
Sumber: data Primer, 2006
Perhitungan Secara Matematis :
Margin pemasaran (MP) = harga Jual pengecer (Pr) – Harga Jual Petani (Pf)
Saluran Pemasaran 2
MP 2 = Pr 2 – Pf 2
MP 2 = 3800 - 2000
MP 2 = 1800
Distribusi Margin (DM) =
Contoh: Biaya Tranportasi Pembelian di Tingkat Pedagang Besar
DM =
= 0.305 x 100%
= 0.83 %
Keuntungan Pedagang besar
DM =
= 0.0083 x 100%
= 30.5 %
Share Pemasaran (SP) =
Komponen harga Jual di Tingkat Petani
SP =
= 0.526 x 100%
= 52.63 %
4.2.3 Saluran Pemasaran 3
Saluran pemasaran komoditas Apel adalah:
Petani (Sirianom) Pedagang Besar (H. Wahid) Pengecer
(Sutilah ) Konsumen Akhir
Tabel 4.d. Tabel analisis margin pemasaran, distribusi margin dan market share saluran pemasaran 3
No Uraian Nilai
(Rp / Kg) Distribusi
Margin (%) Share (%)
1 Petani
- Harga jual (Pf)
2200
-
55
2 Pedagang Besar
- Harga beli
- Biaya Tranportasi Pembelian
- Biaya Pembersihan
- Baiaya sortasi
- Biaya grading
- B. Bongkar muat
- Pengemasan
- Pembelian dos apel
- Pembelian kranjang
- Pemetikan
- Transportasi penjualan
- Harga jual
- Keuntungan
2200
16.67
33.3
33.3
33.3
33.3
33.3
200
83.3
33.3
133.3
3450
617
-
0.93
1.85
1.85
1.85
1.85
1.85
11.11
4.63
1.85
7.41
-
34.28
55
0.42
0.83
0.83
0.83
0.83
0.83
5
2.08
0.83
3.33
86.25
15.42
3 Pengecer
- Harga beli
- Biaya Bongkar Muat
- Biaya transportasi pembelian
- Biaya grading
- Harga Jual
- Keuntungan
3450
40
100
40
4000
370
-
2.22
5.55
2.22
-
20.55
86.25
1
2.5
1
100
9.25
4 Margin (Pr – Pf) 1800
Sumber: data Primer, 2006
Perhitungan Secara Matematis :
Margin pemasaran (MP) = harga Jual pengecer (Pr) – Harga Jual Petani (Pf)
Saluran pemasaran 3
MP 3 = Pr 3 – Pf 3
MP 3 = 4000 – 2200
MP 3 = 1800
Distribusi Margin (DM) =
Contoh: Biaya Tranportasi Pembelian di Tingkat Pedagang Besar
DM =
= 0.3427 x 100%
= 34.28 %
Keuntungan Pedagang Besar
DM =
= 0.00926 x 100%
= 0.93 %:
Share Pemasaran (SP) =
Komponen harga Jual di Tingkat Petani
SP =
= 0.55 x 100%
= 55 %
4.2.4 Saluran Pemasaran 4
Saluran pemasaran komoditas Apel adalah:
Petani (Sumarto) Pedagang Besar (H. Ma’ruf) Pengecer
(Ngateni) Konsumen Akhir
Tabel 4.e. Tabel analisis margin pemasaran, distribusi margin dan market share saluran pemasaran 4
No Uraian Nilai
(Rp / Kg) Distribusi
Margin (%) Share (%)
1 Petani
- Harga jual (Pf)
1500
-
50
2 Pedagang Besar
- Harga beli
- Biaya Tranportasi Pembelian
- Biaya Pembersihan
- Baiaya sortasi
- Biaya grading
- B. Bongkar muat
- Pengemasan
- Pembelian dos apel
- Pembelian Kranjang
- Pemetikan
- Transportasi penjualan
- Harga jual
- Keuntungan
1500
25
18.75
18.75
18.75
18.75
18.75
200
83.3
66.67
437
2750
428
-
1.67
1.25
1.25
1.25
1.25
1.25
13.33
5.55
4.44
29.13
28.53
50
0.83
0.63
0.63
0.63
0.63
0.63
6.67
2.78
2.22
14.57
91.67
14.27
3 Pengecer
- Harga beli
- Biaya Bongkar Muat
- Biaya transportasi pembelian
- Biaya grading
- Harga Jual
- Keuntungan
2750
-
50
-
3000
200
-
-
5
-
-
13.33
14.27
-
1.67
-
100
6.67
4 Margin (Pr – Pf) 1500
Sumber: data Primer, 2006
Perhitungan secara sistemtis :
Margin pemasaran (MP) = harga Jual pengecer (Pr) – Harga Jual Petani (Pf)
Saluran pemasaran 4
MP 4 = Pr 4 – Pf 4
MP 4 = 3000 – 1500
MP 4 = 1500
Distribusi Margin (DM) =
Contoh: Biaya Tranportasi Pembelian Pedagang Besar
DM =
= 0.2853 x 100
= 1.67 %:
Keuntungan di Tingkat Pedagang Besar
DM =
= 0.0166 x 100%
= 28.53 %
Share Pemasaran (SP) =
Komponen harga Jual di Tingkat Petani
SP =
= 0.5 x 100%
= 50 %
4.2.5 Analisis Effisiensi Saluran Pemasaran
Saluran pemasaran dikatakan efisien apabila :
a. Ada pembagian keuntungan yang adil antara semua lembaga pemasaran yang terkait
b. Semakin pendek saluran pemasaran maka semakin efisien, atau semakin kecil nilai margin pemasaran maka semakin effisien pula.
Penentuan efisiensi saluran pemasaran disajikan dalam bentuk tabel dan perhitungan sebagai berikut :
a. Analisis Effisiensi Saluran Pemasaran 1
Tabel 5.a Tabel Analisis effisiensi saluran pemasaran 1
Pedagang besar Pengecer
Biaya (%) 17,73 1,91
Keuntungan (%) 8 5.71
Sumber: data Primer, 2006
Dari efisiensi saluran pemasaran diatas, didapatkan presentase biaya yang dikeluarkan pedagang besar sebesar 17,73%, sedangkan ditingkat pengecer didapatkan biaya yang dikeluarkan sebesar 1,91%. Biaya ini didapatkan dari penambahan semua komponen pada masing-masing lembaga yang terdapat pada kolom share. Untuk persentase keuntungan adalah nilai keuntungan yang terdapat pada kolom share pada masing-masing lembaga pemasaran, dan didapatkan keuntungan yang diperoleh pedagang besar sebesar 8%, sedangkan untuk pengecer keuntungan yang diperoleh sebesar 3.81 %. Jadi, pada saluran pemasaran 1, dapat dikatakan bahwa saluran pemasaran ini efisien karena terdapat pembagian keuntungan yang adil di antara lembaga pemasaran yang terkait serta saluran pemasaran pendek (Petani Pedagang besar Pengecer).
b. Saluran Analisis efisiensi Saluran Pemasaran 2
Tabel 5.b Tabel Analisis effisiensi saluran pemasaran 2
Pedagang besar Pengecer
Biaya (%) 22,37 3,95
Keuntungan (%) 14,45 6,58
Dari efisiensi saluran pemasaran diatas, didapatkan presentase biaya yang dikeluarkan pedagang besar sebesar 22.37%, sedangkan ditingkat pengecer didapatkan biaya yang dikeluarkan sebesar 3.95%. Biaya ini didapatkan dari penambahan semua komponen pada masing-masing lembaga yang terdapat pada kolom share. Untuk persentase keuntungan adalah nilai keuntungan yang terdapat pada kolom share pada masing-masing lembaga pemasaran, dan didapatkan keuntungan yang diperoleh pedagang besar sebesar 14.45, sedangkan untuk pengecer keuntungan yang diperoleh sebesar 6.58 %. Jadi, pada saluran pemasaran 2, dapat dikatakan bahwa saluran pemasaran ini efisien karena terdapat pembagian keuntungan yang adil di antara lembaga pemasaran yang terkait serta saluran pemasaran pendek (Petani Pedagang besar Pengecer).
c. Saluran Analisis efisiensi Saluran Pemasaran 3
Tabel 5.c Tabel Analisis effisiensi saluran pemasaran 3
Pedagang besar Pengecer
Biaya (%) 15,81 4,5
Keuntungan (%) 15,42 9,25
Sumber: data Primer, 2006
Dari efisiensi saluran pemasaran diatas, didapatkan presentase biaya yang dikeluarkan pedagang besar sebesar 15.81%, sedangkan ditingkat pengecer didapatkan biaya yang dikeluarkan sebesar 4.5%. Biaya ini didapatkan dari penambahan semua komponen pada masing-masing lembaga yang terdapat pada kolom share. Untuk persentase keuntungan adalah nilai keuntungan yang terdapat pada kolom share pada masing-masing lembaga pemasaran, dan didapatkan keuntungan yang diperoleh pedagang besar sebesar 15.42, sedangkan untuk pengecer keuntungan yang diperoleh sebesar 9.25 %. Jadi, pada saluran pemasaran 3, dapat dikatakan bahwa saluran pemasaran ini efisien karena terdapat pembagian keuntungan yang adil di antara lembaga pemasaran yang terkait serta saluran pemasaran pendek (Petani Pedagang besar Pengecer).
d. Saluran Analisis efisiensi Saluran Pemasaran 4.
Tabel 5.d Tabel Analisis effisiensi saluran pemasaran 4
Pedagang besar Pengecer
Biaya (%) 30,22 1,67
Keuntungan (%) 14,27 6,67
Sumber: data Primer, 2006
Dari efisiensi saluran pemasaran diatas, didapatkan presentase biaya yang dikeluarkan pedagang besar sebesar 30.22%, sedangkan ditingkat pengecer didapatkan biaya yang dikeluarkan sebesar 1.67%. Biaya ini didapatkan dari penambahan semua komponen pada masing-masing lembaga yang terdapat pada kolom share. Untuk persentase keuntungan adalah nilai keuntungan yang terdapat pada kolom share pada masing-masing lembaga pemasaran, dan didapatkan keuntungan yang diperoleh pedagang besar sebesar 14.27, sedangkan untuk pengecer keuntungan yang diperoleh sebesar 6.67 %. Jadi, pada saluran pemasaran 3, dapat dikatakan bahwa saluran pemasaran ini efisien karena terdapat pembagian keuntungan yang adil di antara lembaga pemasaran yang terkait serta saluran pemasaran pendek (Petani Pedagang besar Pengecer).
4.2.6 Hubungan Antara Margin Pemasaran dan Harga di Tingkat Pengecer
Tabel 6 Tabel hubungan antara margin pemasaran dan harga ditingkat pengecer
Nama Petani Harga di Petani (Pf) Harga di Pengecer (Pr) Margin
(M = Pr – Pf) Pr2 M2 Pr . M
Sutikno 3500 5250 1750 27562500 3062500 9187500
Gatot S 2000 3800 1800 14440000 3240000 6840000
Sirianom 2200 4000 1800 16000000 3240000 7200000
Sumarto 1500 3000 1500 9000000 2250000 4500000
Jumlah 9200 16050 6850 67002500 11792500 27727500
Sumber: data Primer, 2006
b =
b =
=
=
b = - 7.89
a =
=
= 1.712,5 + 31.658,625
a = 33.371,125
Se =
=
=
=
Se = 992.54
Sb = Se
= 992.54
= 992.54
= 992.54
= 992.54 (0.00062)
Sb = 0.61
Pengambilan keputusan:
T hit =
T hit > t tabel Linier
T hit ≤ t tabel Tidak Linier
T hit =
= - 12.93
Setelah dilihat dalam tabel, dimana nilai df = 3 hasil dari (N-1), dengan α 0.05 diketahui nilai t tabel sebesar 2.353. Karena nilai t hitung lebih kecil dari t tabel (-12.93 < 2.353) maka margin pemasaran ini dikatakan tidak linier.
4.3 Analisis Elastisitas Transmisi Pemasaran
Elastisitas transmisi pemasaran ini digunakan untuk menjelaskan perbandingan prosentase perubahan harga di tingkat pengecer dengan prosentase perubahan harga di tingkat petani produsen.
Di bawah ini merupakan tabel data untuk melakukan analisis elastisitas transmisi adalah sebagai berikut:
Tabel 7 Tabel analisis elastisitas transmisi pemasaran
No Nama
Petani Harga di Petani (Pf) Harga di Pengecer (Pr) Pf2 Pr2 Pf x Pr
1 Sutikno 3.500 5.250 12.250.000 27.562.500 1.837.500
2 Gatot S 2.000 3.800 4.000.000 14.440.000 7.600.000
3 Sirianom 2.200 4.000 4.840.000 16.000.000 8.800.000
4 Sumarto 1.500 3.000 2.250.000 9.000.000 4.500.000
Jumlah 9.200 16.050 23.340.000 67.002.500 39.275.000
Rata-rata 2.300 4.012,5 5.835.000 16.750.625 9.818.750
Sumber: data Primer, 2006
b =
b =
=
=
b = -12.43
Et =
= -12.43 x 0.57
Et = -7.12
Dari perhitungan di atas didapatkan nilai elastisitas transmisinya sebesar
-7.12 ini berarti nilai Et lebih kecil dari 1. Karena nilai (Et < 1) dapat diartikan bahwa setiap perubahan harga sebesar 1 % di tingkat Petani akan mengakibatkan perubahan harga sebesar – 7.12 di tingkat pengecer.
B. PEMBAHASAN
Dari hasil penelitian yang telah kami lakukan, terdapat beberapa pembahasan yang dapat kami berikan dalam menjabarkan hasil penelitian tersebut bahwa saluran pemasaran apel yang terjadi di desa kayukebek kec tutur kabupaten pasuruan ini berbentuk pemasaran one level marketing yang berarti diantara petani (Produsen I ) dan pengecer hanya terdapat 1 (satu) lembaga pemasaran saja yaitu Pedagang Besar. Misalnya dalam proses saluran pemasaran Apel dari petani dijual ke pedagang besar dari pedagang besar langsung dijual ke pengecer. Adapun perhitungan yang terdapat pada hasil penelitian yang dihitung dalam satuan (Kg). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 1 sampai lampiran 4 tentang harga asli yang dikeluarkan oleh pedagang besar maupun pengecer.
Margin pemasaran adalah selisih harga yang dibayar oleh konsumen akhir dengan harga yang diterima oleh petani produsen. Sebagai contoh dalam saluran pemasaran Apel 1 diketahui bahwa harga yang ada di tingkat pengecer sebesar Rp.5250,-/Kg dan harga yang ada di petani sebesar Rp. 3500,-/Kg. Jadi margin pemasaran yang terjadi sebesar Rp. 1750,-.
Distribusi margin adalah pembagian antara semua komponen biaya yang dikeluarkan dan keuntungan yang didapatkan pada masing-masing lembaga dibagi margin pemasaran yang kemudian dikalikan 100%. Sedangkan share margin merupakan pembagian antara semua komponen (biaya, harga, keuntungan) yang terdapat pada masing-masing lembaga pemasaran dengan saluran pemasaran dibagi dengan harga yang ada ditingkat pengecer kemudian dikalikan 100%.misalnya pada saluran pemasaran 1, terdapat harga jual di tingkat petani sebesar Rp. 3500,-/Kg sedangkan harga di ringkat pengecer Rp. 5350,-?Kg, sehingga didapatkan share sebesar 66,67%.
Saluran pemasaran yang ada di desa Kayukebek dapat dikatakan efisien karena adanya pembagian keuntungan yang adil antara semua lembaga pemasaran yang terkait. Sebagai contoh saluran pemasaran 1, terlihat bahwa biaya yang dikeluarkan pedagang besar dalam proses pemasaran sebesar 17,73 % dengan keuntungan 8 %, sedangkan untuk pengecer biaya yang dikelurkan hanya 1,91 %, jadi hanya mendapatkan keuntungan sebesar 3,81 %. Selain dari pembagian keuntungan yang adil, saluran pemasaran ini lebih efisien karena didapatkan hasi bahwa nilai margin pemasaranya kecil.
Analisis elastisitas transmisi adalah perbandingan prosentase perubahan harga di tingkat pengecer dengan prosentase perubahan harga ditingkat petani. Dari hasil perhitungan di dapatkan nilai Et sebesar – 7,12,dimana nilai Et ini lebih kecil dari 1 (Et <1), yang berarti bahwa setiap perubahan harga sebesar 1% di tingkat petani akan mengakibatkan perubahan harga kurang dari -7,12 di tingkat
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan di atas, kami dapat menarik beberapa kesimpulan antara lain sebagai berikut:
a. Saluran pemasaran Apel yang terjadi di Desa Kayukebek Kecamatan Tutur Kabupaten pasuruan ini berbentuk One level marketing yang berarti hanya terdapat satu lembaga pemasaran di antara petani dan pengecer, yaitu pedagang besar.
b. Saluran pemasaran yang terjadi di sini dapat dikatakan effisien, karena terdapat nilai margin dari berbagai saluran pemasaran yang terjadi itu bernilai kecil. Selain itu terjadi pembagian keuntungan yang adil dari berbagai lembaga pemasaran yang terkait.
c. Dari hasil perhitungan hubungan antara margin pemasaran dan harga di tingkat pengecer, didapatkan nilai t hit = -12.93, dimana nilai t hit ini nilainya lebih kecil dari nilai t tabel (2.355). dari hasil ini dapat diartikan bahwa margin pemasaran yang terjadi dapat dikatakan tidak linier.
d. Dari hasil perhitungan analisis elastisitas transmisi pemasaran, didapatkan nilai Et sebesar – 7.12, dimana nilai ini kurang dari 1 (Et ≤ 1). Hasil ini dapat diartikan bahwa setiap perubahan harga 1% di tingkat petani akan mengakibatkan penurunan harga sebesar 7.12% di tingkat pengecer
5.2 Saran
Dari hasil pembahasan tersebut di atas, maka penulis dapat memberikan saran yang mungkin dapat berguna bagi pembaca atau yang lain, bahwa dalam melakukan usaha perdagangan didalam mencari keuntungan harus berdasarkan biaya yang kita keluarkan. Biaya yang kita keluarkan sedikit maka keuntungan yang diperolehpun harus sedikit, begitu juga sebaliknya. Agar tercipta saluran pemasaran yang adil dan efisien.
Lampiran 1:
a. Daftar Harga Asli (sebelum dijadikan harga per Kg), Saluran pemasaran 1.
No Uraian Nilai
(Rp/7500 Kg) Nilai
(Rp / Kg)
1 Pedagang Besar
- Harga beli
- Biaya Tranportasi Pembelian
- Biaya Pembersihan
- Baiaya sortasi
- Biaya grading
- B. Bongkar muat
- Pengemasan
- Pembelian dos apel
- Pembelian kranjang
- Pemetikan
- Transportasi penjualan
- Harga jual
- Keuntungan
26.250.000
150.000
180.000
180.000
180.000
180.000
180.000
1.500.000
625.000
800.000
3.000.000
36.375.000
3.150.000
3500
20
106.6
24
24
24
24
24
200
83.3
400
4850
420
No Uraian Nilai
(Rp/200 Kg) Nilai
(Rp / Kg)
2 Pengecer
- Harga beli
- Biaya Bongkar Muat
- Biaya transportasi pembelian
- Biaya grading
- Harga Jual
- Keuntungan
970.000
5.000
10.000
5.000
1.050.000
60.000
4.850
25
50
25
5.250
300
Lampiran 2:
a. Daftar Harga Asli (sebelum dijadikan harga per Kg), Saluran pemasaran 2.
No Uraian Nilai
(Rp/3000 Kg) Nilai
(Rp / Kg)
1 Pedagang Besar
- Harga beli
- Biaya Tranportasi Pembelian
- Biaya Pembersihan
- Baiaya sortasi
- Biaya grading
- B. Bongkar muat
- Pengemasan
- Pembelian dos apel
- Pembelian kranjang
- Pemetikan
- Transportasi penjualan
- Harga jual
- Keuntungan
6.000.000
45.000
67.500
67.500
67.500
67.500
67.500
600.000
250.000
300.000
1.020.000
10.200.000
1.647.000
3500
20
106.6
24
24
24
24
24
200
83.3
400
4850
420
No Uraian Nilai
(Rp/300 Kg) Nilai
(Rp / Kg)
2 Pengecer
- Harga beli
- Biaya Bongkar Muat
- Biaya transportasi pembelian
- Biaya grading
- Harga Jual
- Keuntungan
1.020.000
10.000
25.000
10.000
1.140.000
75.000
3.400
33,3
83,3
33,3
3.800
250
Lampiran 3:
a. Daftar Harga Asli (sebelum dijadikan harga per Kg), Saluran pemasaran 3.
No Uraian Nilai
(Rp/3000 Kg) Nilai
(Rp / Kg)
1 Pedagang Besar
- Harga beli
- Biaya Tranportasi Pembelian
- Biaya Pembersihan
- Baiaya sortasi
- Biaya grading
- B. Bongkar muat
- Pengemasan
- Pembelian dos apel
- Pembelian kranjang
- Pemetikan
- Transportasi penjualan
- Harga jual
- Keuntungan
6.600.000
50.000
100.000
100.000
100.000
100.000
100.000
600.000
250.000
100.000
400.000
10.350.000
1.851.000
2.200
16,67
33,3
33,3
33,3
33,3
33,3
200
83,3
33,3
133,3
3.450
617
No Uraian Nilai
(Rp/500 Kg) Nilai
(Rp / Kg)
2 Pengecer
- Harga beli
- Biaya Bongkar Muat
- Biaya transportasi pembelian
- Biaya grading
- Harga Jual
- Keuntungan
1.725.000
20.000
50.000
20.000
2.000.000
185.000
3.450
40
100
40
4.000
370
Lampiran 4:
a. Daftar Harga Asli (sebelum dijadikan harga per Kg), Saluran pemasaran 4.
No Uraian Nilai
(Rp/1200 Kg) Nilai
(Rp / Kg)
1 Pedagang Besar
- Harga beli
- Biaya Tranportasi Pembelian
- Biaya Pembersihan
- Baiaya sortasi
- Biaya grading
- B. Bongkar muat
- Pengemasan
- Pembelian dos apel
- Pembelian kranjang
- Pemetikan
- Transportasi penjualan
- Harga jual
- Keuntungan
1.800.000
30.000
22.500
22.500
22.500
22.500
22.500
240.000
100.000
80.000
525.000
3.300.000
525.000
1.500
25
18.75
18.75
18.75
18.75
18.75
200
83,3
66,67
437
2.750
438
No Uraian Nilai
(Rp/400 Kg) Nilai
(Rp / Kg)
2 Pengecer
- Harga beli
- Biaya Bongkar Muat
- Biaya transportasi pembelian
- Biaya grading
- Harga Jual
- Keuntungan
1.100.000
-
20.000
-
1.200.000
80.000
2.750
DAFTAR PUSTAKA
AAK. 1993. Petunjuk Praktis Bertanam Buah-buahan. Kasinius. Yogyakarta.
Ashari, Semeru. 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. Universitas Indonesia Press Jakarta.
Kartasapoetra, G.1992. Marketing Produk Pertanian dan Industri: Rineka Cipta. Jakarta.
Sudiyono, Armand. 2001. Pemasaran Pertanian: Universitas Muhammadiyah Malang Press. Malang.
Minggu, 04 Oktober 2009
DPT AGRIBISNIS 03
TUGAS DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN
“Nama-nama Hama Perusak Tanaman dan Cara Pengendaliannya”
OLEH:
IMAM SUROSO (03720033)
JURUSAN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2006
1. PRATYLENCHUS
Terdapat delapan spesies nematoda luka akar Pratylenchus yang dilaporkan menyerang Musa spp. Di seluruh dunia. Diantara dua spesies tersebut hanya dua spesies yang relative tersebar luas dan dikenal sebagai hama yang merusak, yaitu P coffeae dan P.goodeyi.
A. Gejala Kerusakan
Nematoda luka akar menyebabkan gejala kerusakan mirip dengan yang di sebabkan oleh R.similis yaitu tanaman menjadi kerdil, stadium vegetatif lama, ukuran dan jumlah daun berkurang, berat tandan menurun serta lama produktivitas kebun berkurang, dan akhirnya batang tanaman pisang dapat tumbang. Akar pisang menjadi bintik violet, biru sampai kecoklatan, selanjutnya berwarna coklat sampai hitam dan akar mati. Dan pisang yang terserang tampak kekuningan, terutma pada kondisi kering.
Akar yang terserang berat oleh P.coffeae tardapat banyak nekrosis yang berwarna hitam atau lembanyung pad epedermis dan jaringan kortek dan sering diikuti busuk sekunder serta akar menjadi rusak.
Dikepulaun kanari P.goodeyi masuk kedalm jaringan parenkhim korteks akar pisang dan menimbulkan bercak kecil memanjang dan berwarna merah kecoklatan. Jaringan yang mendapat serangan tersebut meluas dan akhirnya menjadi satu, dengan demikian sebagaian besar parenkhim korteks hancur dan sangat menganggu fungsi akar.
B. Cara Hidup Dan Penyebaran:
Nematoda luka akar tersebut juga dapat menyerang kormus, dengan demikian penyebaran dapat terjadi dengan jalan yang sama seperti yang dikemukakan R.semilis
C. Tanaman Inang:
Tanaman pisang, tebu
D. Cara Penegendalian:
Menggunakan sejumlah besar mulsa untuk mendorong pertumbuhan akar dan dengan menopang batang tanaman pisang yang berbuah. Secara kimiawi dapat dilakukan dengan Furadan 3G yang ditaburkan di sekitar tanaman.
E. Arti penting:
Nematoda ini merupakan nematoda parasitik utama pada tanaman tebu, contoh terdapat di Panama dan merupakan salah satu hama utama pada tanaman tebu di Indonesia. Arti penting secara ekonomi dari Pratylenchus pada pertanaman tebu hanya diungguli oleh spesies dari genus Meloidogyne.
2. AGROTIS spp
A. Karateristik:
Agrotis spp,. telur biasanya diletakkan pada batang atau tumbuhan liar. Ulatnya berwarna hitam. Pada siang hari sembunyi dibawah permukaan tanah, dan aktif pada malam hari. Lama stadia larva bervariasi antara dua minggu sampai lima bulan. Pupanya berada pada bebrapa inchi dibawah permukaan tanah dengan lama pupa 1-8 minggu.
B. Tanaman Inang:
Tanaman jeruk, kentang.
C. Pengendalian:
Mencari ulat di bawah pemukaan tanah di sekitar tanaman yang telah rusak. Penaburan insektisida tanah, misal Furadan 3G disekitar tanaman. Beberapa musuh alami diantaranya Apanteles rufricus, triyaxyz brauri, Caphocera varis dan jamur Botrytis dan Metarrhizium.
D. Arti Penting:
Dikenal sebagi ulat tanah, merusak terutama pada saat pembibitan dengan memotong batang tanaman. Menyebabkan gagal tunas. Menyebabkan kerugian akibat serangan yang tinggi.
3. DIAPHORIA CITRI
A. Karakteristik:
Diaphoria citri, nimfanya pipih dijumapi pada daun, sering menyebabkan yang berarti. Dewasanya terdapat berbagai bintik pada sayapnya. Betinanya dapat menghasilkan telur sangat banyak, lebih dari 800 butir. Dewasanya dapat hidup sampai 6 bulan. Serangan hama ini adalah dengan cara menghisap cairan pada daun.
B. Tanaman Inang:
Tanaman jeruk
C. Pengedalian:
Populasi terkendali secara alami. Musuh alaminya diantaranya parasit Psyllaephagus sp. Apabila populasi tinggi dapat dilakukan penyemprotan dengan Curacron 500EC, Perfekthion 400EC, Supracide 40EC.
D. Arti Penting:
Menyebabkan kerusakan yang berarti khususnya pada daun jeruk, Sehingga mempengaruhi pertumbuhan jeruk. Kerugian akan hasil buah jeruk yaitu hasil menurun.
4. HELOPELTIS SPP.
A. Karateristik:
Helopeltis spp Nimfa dan kepik dewasa menghisap cairan bagian tanaman yang mati muda seperti daun dan buah. Ukuran telurnya 1,5 mm diletakan dengan car ditusukan pada jaringan tanaman. Mas inkubasi 5-7 hari. Nimfa dan kepik dewasa warnanya berfariasi, hijau atau kuning kehitaman dan kuning oranye. Mengalami 5 kali instar. Kepik dewasa panjangnya berkisar 6,5-7,5 mm dengan kemampuuan bertelur sampai 18 butir. Serangan hama ini adalah menghisap cairan tanaman.
B. Tanaman Inang:
Tanaman jeruk
C. Pengendalian:
Populasi biasanya terkendali oleh musuh alami. Beberapa musuh alami diantaranya berupa parasit adalah Euphours helopstis, Erythmelus helopetis, dan sebagainya predator adalah Sycanus leucomesus, Isyndrus sp. Dan Cosmolestus picticeos. Apabila populasi tinggi dapat di lakukan insektisida misal Lannate 25 WP, Atabron 50EC.
D. Arti penting:
Mengurangi penurunan hasil buah, sehingga menyebabkan kerugian besar apabila serangan hama ini tidak dapat dikendalikan.
5. TYLENCHULUS
A. Karakteristik:
Nematoda Tylenchulus semipenetrans Cobb. Bentuknya serupa cacing, hidupnya pada akar tanaman, serangannya ditandai adanya pembengkakan. Nematoda ini sangat peka dengan kondisi yang sangat kering, diantaranya dapat hidup pada tanah tandus.
B. Tanaman Inang:
Tanaman Sitrus, tebu.
C. Gejala Kerusakan:
Nematoda ini merusak jaringan akar yang menyebabkan distorsi dan rusaknya sel-sel jaringan, perkembangan akar terpengaruh yaitu akar primer menjadi tumpul dan berubah bentuk dengan sedikit akar lateral. Serangannya dapat mengakibatkan timbulnya luka berwarna merah kecoklatan atau secara umum terjadi perubahan warna sebagai akibat infeksi sekunder oleh bakteri dan jamur.
D. Pengendalian:
Secara kimiawi dapat dilakukan dengan menabur Furadan 3G, Vapam dan Hostathion 40EC.
E. Arti penting:
Menyebabkan kerugian penuruna hasil dan produksi tanaman.
6. ALEURODICUS DESTRUCTOR MASK
A. Karakteristik:
Aleurodicus destructor Mask., telurnya diletakkan dalam bentuk membulat. Berwarna putih-mengkilat, panjang sekitar 2 mm, menetas dalam waktu 4 hari. Nimfa muda segera menghisap bagian tanaman yang dekat dengan telur itu berada .Perkembangannya sekitar 45-50 hari. Perkembangbiakannya biasanya terjadi pada musim kemarau. Serangan hama ini adalah dengan cara menghisap
B. Tanaman Inang:
Tanaman srikaya, sirsat. palma, mulwa, pisang, lada
C. Pengendalian:
Populasi terkendali secara alami. Musuh alaminya di antaranya adalah Encarsia, Tetrastichus, Scymus, dan Coccinella.
D. Ari Penting:
Kerugian daun menjadi berbercak-bercak kuning, bercendawan jelaga kering dan akhirnya mati. Apabila serangan hebat, pembungaan berhenti dan buahnya rontok sebelum waktunya masak.Menyebabkan penurunan produksi akibat serangan hama ini.
7. PHYLLOCNITIS CITRELLA (ST)
A. Karakteristik:
Phyllocnitis citrella (St)., ulatnya merusak daun. Apabila menyerang daun muda, daun tidak dapat tumbuh dan tampak menggulung. Pupanya sering dijumpai pada gulungan tepi daun dalam bentuk kokon. Telurnya diletakkan secara terpisah pada daun kecil.
B. Tanaman Inang:
Tanaman jeruk
C. Pengendalian:
Populasinya terkendali secara alami. Beberapa musuh alami dapat menekan populasi hama ini, diantaranya Agenispis tergolong parasit yang aktif. Apabila populasinya tinggi dapat dilakukan penyemprotan dengan insektisida Buldok 25EC, Lebaycid 500Ec, Supracid 40EC, dan Tamron 200LC
D. Arti Penting:
Akibat kerusakan daun yang disebabkan ulat ini, menyebabkan kerugian akan hasil yang didapat.
8. MYZUS
A. Karakteristik:
Myzus spp. Menghisap cairan daun dan bagian tanaman lain yang masih muda. Kutu ini menghasilkan cairan yang mengandung madu. Bagian tanaman yang terkena cairan ini akan ditumbuhi jamur. Kutu ini dapat sebagai perantara lebih 90 jenis virus penyakit tanaman. Warna kutu ini bervariasi, kuning, hijau, dan keunguan. Perkembangbiakannya secara partenogenesis. Mengalami paling tidak 4 kali instar sebelum menjadi dewasa. Lama hidup dapat sampai dua bulan.
B. Tanaman Inang:
Tanaman jeruk
C. Pengendalian:
Populasi terkendali secara alami. Beberapa musuh alami berasal dari famili Syrphidae, Coccinellidae dan bangsa Hymenoptera serta cendawan. Apabila populasi tinggi dapat dilakukan penyemprotan Perfekthion 400EC, Supracide 40EC, Orthene 75SP.
D. Arti Penting:
Menyebabkan kerugian ekonomis yang disebabkan kerusakan daun sehingga penurunan hasil buah tanaman menurun. Apabila menyerang tanaman muda dapat menyebabkan kerugian yang berarti.
9. PHILOTROCTIS
A. Karakteristik:
Philotroctis eutraphera Myer. Merupakan penggerek, terkadang juga menggerek tangkai buah dan cabang. Larvanya berwarna violet kemerahan, selanjutnya berwarna biru gelap mendekati stadia pupa. Pupa dijumpai dalam bentuk kokon di tanah. Lama hidup ngengat 6-7 hari. Ngengat betin mampu bertelur 125-450 butir, yang diletakkan pada permukaan buah atau tangkai buah. Perkembangannya sekitar 25 hari. Buah-buahan muda dapat gugur karena serangga hama ini.
B.Tanaman Inang:
Buah mangga yang masih muda.
C. Pengendalian:
Populasinya biasanya terkendali secara alami. Apabila mungkin paling aman apabila buah dikerodong dengan kertas bekas pembungkus semen.
D. Arti Penting:
Menyebabkan kerusakan buah, sehingga menyebabkan penurunan produksi.
10. SPODOPTERA
A. Karakteristik:
Spodoptera spp., dahulu nama ilmiahnya Prodenia. Larvanya merusak daun. Ngengat ini berwarna kecoklatan dengan sayap depan berwarna keperakan. Telurnya tertutup oleh beludru yang yang berwarna coklat. Telur diletakkan berkelompok, jumlah telur berkisar 25-500 butir. Masa inkubasi sekitar 3 hari. Larva muda berwarna kehijauan, selanjutnya berubah menjadi hitam keclokatan. Larva mengalami 5 kali instar dengan lama stadia 20 – 46 hari. Menyebabkan kerusakan daun. Pupa biasanya berada di tanah dengan lama stadia 8 – 11 hari. Total perkembangan 30 – 61 hari.
B. Tanaman Inang:
Tanaman jeruk
C. Pengendalian:
Secara mekanis dengan mengambil telur, atau gerombolan ulat dengan memetik daunnya Beberapa musuh alami di antaranya. Perilampus naseotus, Apanteles, Podomya dan Harpactor.
D. Arti Penting:
Sangat merugikan tanaman jeruk akibat perusakan terhadap daun sebagi makanan larva ini, sehingga mempengaruhi pertumbuhan
11. TETRANYCHUS
A. Karakteristik:
Tetranychus urticae, bersifat poligafus dan merupakan hama penting apada apel. Betinanya berwarna hijau kekuningan dengan bintik besar gelap pada bagian punggung samping. Telurnya berwarna putih. Betinanya mengalami diapause, berwarna oranya tanpa bintik gelap.
B. Tanaman Inang:
Buah Apel
C. Pengendalian:
Populasi terkendali secara alami. Musuh alaminya yang berasal dari bangsa Hemiptera adalah Harpactor, dari Neuroptera adalah Hemerobiidae, sedangkan yang berasal dari Diptera adalah Syrphidae dan Cecidomyiidae. Apabila populasi tinggi dapat dikendalikan dengan pestisida Omite 570EC.
D. Arti Penting:
Menyebabkan kerugian pada tanaman apel, gagal buah, daun cepat gugur (mati). Kerugian secara ekonomi dari penuruna hasil produksi jika serangan dalam jumlah besar.
Daftar Pustaka
Anonymous. 2006. Serangga Perusak Tanaman. www.agrolink.moa.my. Diakses tanggal 26 Desember 2006.
Anonymous. 2005. Invertebrata. www.iptek.net.id.com. Diakses tanggal 26 Desember 2006.
Luc, Michael, dkk. 1988. Nematoda Parasitik Tumbuhan: Di Pertanian Subtropik dan Tropik. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Sudarmo, Subiyakto. 1995. Pengendalian Serangan Hama Tanaman Buah-buahan. Kasinius. Yogyakarta
DAFTAR ISI
1. PRATYLENCHUS ______________________________________________1
A. Gejala Kerusakan _________________________________________1
B. Cara Hidup Dan Penyebaran ________________________________2
C. Tanaman Inang ___________________________________________2
D. Cara Penegendalian _______________________________________2
E. Arti penting ______________________________________________2
2. AGROTIS Spp _________________________________________________3
A. Karateristik ______________________________________________3
B. Tanaman Inang___________________________________________ 3
C. Pengendalian_____________________________________________ 3
D. Arti Penting______________________________________________ 3
3. DIAPHORIA CITRI ____________________________________________4
A. Karakteristik _____________________________________________4
B. Tanaman Inang ___________________________________________4
C. Pengedalian _____________________________________________4
D. Arti Penting ______________________________________________4
4. HELOPELTIS SPP _____________________________________________4
A. Karateristik _____________________________________________4
B. Tanaman Inang ___________________________________________5
C. Pengendalian _____________________________________________5
D. Arti penting ______________________________________________5
5. TYLENCHULUS _______________________________________________5
A. Karakteristik _____________________________________________5
B. Tanaman Inang ___________________________________________6
C. Gejala Kerusakan __________________________________________6
D. Pengendalian ____________________________________________6
E. Arti penting _____________________________________________6
6. ALEURODICUS DESTRUCTOR MASK __________________________6
A. Karakteristik _____________________________________________6
B. Tanaman Inang ___________________________________________7
C. Pengendalian _____________________________________________7
D. Ari Penting _______________________________________________7
7. PHYLLOCNITIS CITRELLA (ST) _______________________________7
A. Karakteristik _____________________________________________7
B. Tanaman Inang ___________________________________________7
C. Pengendalian _____________________________________________8
D. Arti Penting ______________________________________________8
8. MYZUS_______________________________________________________ 8
A. Karakteristik _____________________________________________8
B. Tanaman Inang ___________________________________________9
C. Pengendalian _____________________________________________9
D. Arti Penting ______________________________________________9
9. PHILOTROCTIS _______________________________________________9
A. Karakteristik _____________________________________________9
B.Tanaman Inang ___________________________________________10
C. Pengendalian ____________________________________________10
D. Arti Penting _____________________________________________10
10. SPODOPTERA ______________________________________________10
A. Karakteristik ____________________________________________10
B. Tanaman Inang __________________________________________10
C. Pengendalian ___________________________________________11
D. Arti Penting _____________________________________________11
11. TETRANYCHUS _____________________________________________11
A. Karakteristik ____________________________________________11
B. Tanaman Inang __________________________________________12
C. Pengendalian ____________________________________________12
D. Arti Penting _____________________________________________12
DAFTAR PUSTAKA
“Nama-nama Hama Perusak Tanaman dan Cara Pengendaliannya”
OLEH:
IMAM SUROSO (03720033)
JURUSAN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2006
1. PRATYLENCHUS
Terdapat delapan spesies nematoda luka akar Pratylenchus yang dilaporkan menyerang Musa spp. Di seluruh dunia. Diantara dua spesies tersebut hanya dua spesies yang relative tersebar luas dan dikenal sebagai hama yang merusak, yaitu P coffeae dan P.goodeyi.
A. Gejala Kerusakan
Nematoda luka akar menyebabkan gejala kerusakan mirip dengan yang di sebabkan oleh R.similis yaitu tanaman menjadi kerdil, stadium vegetatif lama, ukuran dan jumlah daun berkurang, berat tandan menurun serta lama produktivitas kebun berkurang, dan akhirnya batang tanaman pisang dapat tumbang. Akar pisang menjadi bintik violet, biru sampai kecoklatan, selanjutnya berwarna coklat sampai hitam dan akar mati. Dan pisang yang terserang tampak kekuningan, terutma pada kondisi kering.
Akar yang terserang berat oleh P.coffeae tardapat banyak nekrosis yang berwarna hitam atau lembanyung pad epedermis dan jaringan kortek dan sering diikuti busuk sekunder serta akar menjadi rusak.
Dikepulaun kanari P.goodeyi masuk kedalm jaringan parenkhim korteks akar pisang dan menimbulkan bercak kecil memanjang dan berwarna merah kecoklatan. Jaringan yang mendapat serangan tersebut meluas dan akhirnya menjadi satu, dengan demikian sebagaian besar parenkhim korteks hancur dan sangat menganggu fungsi akar.
B. Cara Hidup Dan Penyebaran:
Nematoda luka akar tersebut juga dapat menyerang kormus, dengan demikian penyebaran dapat terjadi dengan jalan yang sama seperti yang dikemukakan R.semilis
C. Tanaman Inang:
Tanaman pisang, tebu
D. Cara Penegendalian:
Menggunakan sejumlah besar mulsa untuk mendorong pertumbuhan akar dan dengan menopang batang tanaman pisang yang berbuah. Secara kimiawi dapat dilakukan dengan Furadan 3G yang ditaburkan di sekitar tanaman.
E. Arti penting:
Nematoda ini merupakan nematoda parasitik utama pada tanaman tebu, contoh terdapat di Panama dan merupakan salah satu hama utama pada tanaman tebu di Indonesia. Arti penting secara ekonomi dari Pratylenchus pada pertanaman tebu hanya diungguli oleh spesies dari genus Meloidogyne.
2. AGROTIS spp
A. Karateristik:
Agrotis spp,. telur biasanya diletakkan pada batang atau tumbuhan liar. Ulatnya berwarna hitam. Pada siang hari sembunyi dibawah permukaan tanah, dan aktif pada malam hari. Lama stadia larva bervariasi antara dua minggu sampai lima bulan. Pupanya berada pada bebrapa inchi dibawah permukaan tanah dengan lama pupa 1-8 minggu.
B. Tanaman Inang:
Tanaman jeruk, kentang.
C. Pengendalian:
Mencari ulat di bawah pemukaan tanah di sekitar tanaman yang telah rusak. Penaburan insektisida tanah, misal Furadan 3G disekitar tanaman. Beberapa musuh alami diantaranya Apanteles rufricus, triyaxyz brauri, Caphocera varis dan jamur Botrytis dan Metarrhizium.
D. Arti Penting:
Dikenal sebagi ulat tanah, merusak terutama pada saat pembibitan dengan memotong batang tanaman. Menyebabkan gagal tunas. Menyebabkan kerugian akibat serangan yang tinggi.
3. DIAPHORIA CITRI
A. Karakteristik:
Diaphoria citri, nimfanya pipih dijumapi pada daun, sering menyebabkan yang berarti. Dewasanya terdapat berbagai bintik pada sayapnya. Betinanya dapat menghasilkan telur sangat banyak, lebih dari 800 butir. Dewasanya dapat hidup sampai 6 bulan. Serangan hama ini adalah dengan cara menghisap cairan pada daun.
B. Tanaman Inang:
Tanaman jeruk
C. Pengedalian:
Populasi terkendali secara alami. Musuh alaminya diantaranya parasit Psyllaephagus sp. Apabila populasi tinggi dapat dilakukan penyemprotan dengan Curacron 500EC, Perfekthion 400EC, Supracide 40EC.
D. Arti Penting:
Menyebabkan kerusakan yang berarti khususnya pada daun jeruk, Sehingga mempengaruhi pertumbuhan jeruk. Kerugian akan hasil buah jeruk yaitu hasil menurun.
4. HELOPELTIS SPP.
A. Karateristik:
Helopeltis spp Nimfa dan kepik dewasa menghisap cairan bagian tanaman yang mati muda seperti daun dan buah. Ukuran telurnya 1,5 mm diletakan dengan car ditusukan pada jaringan tanaman. Mas inkubasi 5-7 hari. Nimfa dan kepik dewasa warnanya berfariasi, hijau atau kuning kehitaman dan kuning oranye. Mengalami 5 kali instar. Kepik dewasa panjangnya berkisar 6,5-7,5 mm dengan kemampuuan bertelur sampai 18 butir. Serangan hama ini adalah menghisap cairan tanaman.
B. Tanaman Inang:
Tanaman jeruk
C. Pengendalian:
Populasi biasanya terkendali oleh musuh alami. Beberapa musuh alami diantaranya berupa parasit adalah Euphours helopstis, Erythmelus helopetis, dan sebagainya predator adalah Sycanus leucomesus, Isyndrus sp. Dan Cosmolestus picticeos. Apabila populasi tinggi dapat di lakukan insektisida misal Lannate 25 WP, Atabron 50EC.
D. Arti penting:
Mengurangi penurunan hasil buah, sehingga menyebabkan kerugian besar apabila serangan hama ini tidak dapat dikendalikan.
5. TYLENCHULUS
A. Karakteristik:
Nematoda Tylenchulus semipenetrans Cobb. Bentuknya serupa cacing, hidupnya pada akar tanaman, serangannya ditandai adanya pembengkakan. Nematoda ini sangat peka dengan kondisi yang sangat kering, diantaranya dapat hidup pada tanah tandus.
B. Tanaman Inang:
Tanaman Sitrus, tebu.
C. Gejala Kerusakan:
Nematoda ini merusak jaringan akar yang menyebabkan distorsi dan rusaknya sel-sel jaringan, perkembangan akar terpengaruh yaitu akar primer menjadi tumpul dan berubah bentuk dengan sedikit akar lateral. Serangannya dapat mengakibatkan timbulnya luka berwarna merah kecoklatan atau secara umum terjadi perubahan warna sebagai akibat infeksi sekunder oleh bakteri dan jamur.
D. Pengendalian:
Secara kimiawi dapat dilakukan dengan menabur Furadan 3G, Vapam dan Hostathion 40EC.
E. Arti penting:
Menyebabkan kerugian penuruna hasil dan produksi tanaman.
6. ALEURODICUS DESTRUCTOR MASK
A. Karakteristik:
Aleurodicus destructor Mask., telurnya diletakkan dalam bentuk membulat. Berwarna putih-mengkilat, panjang sekitar 2 mm, menetas dalam waktu 4 hari. Nimfa muda segera menghisap bagian tanaman yang dekat dengan telur itu berada .Perkembangannya sekitar 45-50 hari. Perkembangbiakannya biasanya terjadi pada musim kemarau. Serangan hama ini adalah dengan cara menghisap
B. Tanaman Inang:
Tanaman srikaya, sirsat. palma, mulwa, pisang, lada
C. Pengendalian:
Populasi terkendali secara alami. Musuh alaminya di antaranya adalah Encarsia, Tetrastichus, Scymus, dan Coccinella.
D. Ari Penting:
Kerugian daun menjadi berbercak-bercak kuning, bercendawan jelaga kering dan akhirnya mati. Apabila serangan hebat, pembungaan berhenti dan buahnya rontok sebelum waktunya masak.Menyebabkan penurunan produksi akibat serangan hama ini.
7. PHYLLOCNITIS CITRELLA (ST)
A. Karakteristik:
Phyllocnitis citrella (St)., ulatnya merusak daun. Apabila menyerang daun muda, daun tidak dapat tumbuh dan tampak menggulung. Pupanya sering dijumpai pada gulungan tepi daun dalam bentuk kokon. Telurnya diletakkan secara terpisah pada daun kecil.
B. Tanaman Inang:
Tanaman jeruk
C. Pengendalian:
Populasinya terkendali secara alami. Beberapa musuh alami dapat menekan populasi hama ini, diantaranya Agenispis tergolong parasit yang aktif. Apabila populasinya tinggi dapat dilakukan penyemprotan dengan insektisida Buldok 25EC, Lebaycid 500Ec, Supracid 40EC, dan Tamron 200LC
D. Arti Penting:
Akibat kerusakan daun yang disebabkan ulat ini, menyebabkan kerugian akan hasil yang didapat.
8. MYZUS
A. Karakteristik:
Myzus spp. Menghisap cairan daun dan bagian tanaman lain yang masih muda. Kutu ini menghasilkan cairan yang mengandung madu. Bagian tanaman yang terkena cairan ini akan ditumbuhi jamur. Kutu ini dapat sebagai perantara lebih 90 jenis virus penyakit tanaman. Warna kutu ini bervariasi, kuning, hijau, dan keunguan. Perkembangbiakannya secara partenogenesis. Mengalami paling tidak 4 kali instar sebelum menjadi dewasa. Lama hidup dapat sampai dua bulan.
B. Tanaman Inang:
Tanaman jeruk
C. Pengendalian:
Populasi terkendali secara alami. Beberapa musuh alami berasal dari famili Syrphidae, Coccinellidae dan bangsa Hymenoptera serta cendawan. Apabila populasi tinggi dapat dilakukan penyemprotan Perfekthion 400EC, Supracide 40EC, Orthene 75SP.
D. Arti Penting:
Menyebabkan kerugian ekonomis yang disebabkan kerusakan daun sehingga penurunan hasil buah tanaman menurun. Apabila menyerang tanaman muda dapat menyebabkan kerugian yang berarti.
9. PHILOTROCTIS
A. Karakteristik:
Philotroctis eutraphera Myer. Merupakan penggerek, terkadang juga menggerek tangkai buah dan cabang. Larvanya berwarna violet kemerahan, selanjutnya berwarna biru gelap mendekati stadia pupa. Pupa dijumpai dalam bentuk kokon di tanah. Lama hidup ngengat 6-7 hari. Ngengat betin mampu bertelur 125-450 butir, yang diletakkan pada permukaan buah atau tangkai buah. Perkembangannya sekitar 25 hari. Buah-buahan muda dapat gugur karena serangga hama ini.
B.Tanaman Inang:
Buah mangga yang masih muda.
C. Pengendalian:
Populasinya biasanya terkendali secara alami. Apabila mungkin paling aman apabila buah dikerodong dengan kertas bekas pembungkus semen.
D. Arti Penting:
Menyebabkan kerusakan buah, sehingga menyebabkan penurunan produksi.
10. SPODOPTERA
A. Karakteristik:
Spodoptera spp., dahulu nama ilmiahnya Prodenia. Larvanya merusak daun. Ngengat ini berwarna kecoklatan dengan sayap depan berwarna keperakan. Telurnya tertutup oleh beludru yang yang berwarna coklat. Telur diletakkan berkelompok, jumlah telur berkisar 25-500 butir. Masa inkubasi sekitar 3 hari. Larva muda berwarna kehijauan, selanjutnya berubah menjadi hitam keclokatan. Larva mengalami 5 kali instar dengan lama stadia 20 – 46 hari. Menyebabkan kerusakan daun. Pupa biasanya berada di tanah dengan lama stadia 8 – 11 hari. Total perkembangan 30 – 61 hari.
B. Tanaman Inang:
Tanaman jeruk
C. Pengendalian:
Secara mekanis dengan mengambil telur, atau gerombolan ulat dengan memetik daunnya Beberapa musuh alami di antaranya. Perilampus naseotus, Apanteles, Podomya dan Harpactor.
D. Arti Penting:
Sangat merugikan tanaman jeruk akibat perusakan terhadap daun sebagi makanan larva ini, sehingga mempengaruhi pertumbuhan
11. TETRANYCHUS
A. Karakteristik:
Tetranychus urticae, bersifat poligafus dan merupakan hama penting apada apel. Betinanya berwarna hijau kekuningan dengan bintik besar gelap pada bagian punggung samping. Telurnya berwarna putih. Betinanya mengalami diapause, berwarna oranya tanpa bintik gelap.
B. Tanaman Inang:
Buah Apel
C. Pengendalian:
Populasi terkendali secara alami. Musuh alaminya yang berasal dari bangsa Hemiptera adalah Harpactor, dari Neuroptera adalah Hemerobiidae, sedangkan yang berasal dari Diptera adalah Syrphidae dan Cecidomyiidae. Apabila populasi tinggi dapat dikendalikan dengan pestisida Omite 570EC.
D. Arti Penting:
Menyebabkan kerugian pada tanaman apel, gagal buah, daun cepat gugur (mati). Kerugian secara ekonomi dari penuruna hasil produksi jika serangan dalam jumlah besar.
Daftar Pustaka
Anonymous. 2006. Serangga Perusak Tanaman. www.agrolink.moa.my. Diakses tanggal 26 Desember 2006.
Anonymous. 2005. Invertebrata. www.iptek.net.id.com. Diakses tanggal 26 Desember 2006.
Luc, Michael, dkk. 1988. Nematoda Parasitik Tumbuhan: Di Pertanian Subtropik dan Tropik. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Sudarmo, Subiyakto. 1995. Pengendalian Serangan Hama Tanaman Buah-buahan. Kasinius. Yogyakarta
DAFTAR ISI
1. PRATYLENCHUS ______________________________________________1
A. Gejala Kerusakan _________________________________________1
B. Cara Hidup Dan Penyebaran ________________________________2
C. Tanaman Inang ___________________________________________2
D. Cara Penegendalian _______________________________________2
E. Arti penting ______________________________________________2
2. AGROTIS Spp _________________________________________________3
A. Karateristik ______________________________________________3
B. Tanaman Inang___________________________________________ 3
C. Pengendalian_____________________________________________ 3
D. Arti Penting______________________________________________ 3
3. DIAPHORIA CITRI ____________________________________________4
A. Karakteristik _____________________________________________4
B. Tanaman Inang ___________________________________________4
C. Pengedalian _____________________________________________4
D. Arti Penting ______________________________________________4
4. HELOPELTIS SPP _____________________________________________4
A. Karateristik _____________________________________________4
B. Tanaman Inang ___________________________________________5
C. Pengendalian _____________________________________________5
D. Arti penting ______________________________________________5
5. TYLENCHULUS _______________________________________________5
A. Karakteristik _____________________________________________5
B. Tanaman Inang ___________________________________________6
C. Gejala Kerusakan __________________________________________6
D. Pengendalian ____________________________________________6
E. Arti penting _____________________________________________6
6. ALEURODICUS DESTRUCTOR MASK __________________________6
A. Karakteristik _____________________________________________6
B. Tanaman Inang ___________________________________________7
C. Pengendalian _____________________________________________7
D. Ari Penting _______________________________________________7
7. PHYLLOCNITIS CITRELLA (ST) _______________________________7
A. Karakteristik _____________________________________________7
B. Tanaman Inang ___________________________________________7
C. Pengendalian _____________________________________________8
D. Arti Penting ______________________________________________8
8. MYZUS_______________________________________________________ 8
A. Karakteristik _____________________________________________8
B. Tanaman Inang ___________________________________________9
C. Pengendalian _____________________________________________9
D. Arti Penting ______________________________________________9
9. PHILOTROCTIS _______________________________________________9
A. Karakteristik _____________________________________________9
B.Tanaman Inang ___________________________________________10
C. Pengendalian ____________________________________________10
D. Arti Penting _____________________________________________10
10. SPODOPTERA ______________________________________________10
A. Karakteristik ____________________________________________10
B. Tanaman Inang __________________________________________10
C. Pengendalian ___________________________________________11
D. Arti Penting _____________________________________________11
11. TETRANYCHUS _____________________________________________11
A. Karakteristik ____________________________________________11
B. Tanaman Inang __________________________________________12
C. Pengendalian ____________________________________________12
D. Arti Penting _____________________________________________12
DAFTAR PUSTAKA
Langganan:
Komentar (Atom)
