Minggu, 04 Oktober 2009

Laporan Praktikum Tata Niaga

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANG
TATA NIAGA PERTANIAN
( Saluran Pemasaran Tanaman Apel Di Desa kayukebek Kec. Tutur Kab. Pasuruan)










KELOMPOK II
1. SOVI DWI A. (03720004)
2. IMAM SUROSO (03720033)
3. BELLA K (03720045)
4. MADALIA SOFIVA (03720057)




JURUSAN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2006
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan praktikum Tata Niaga Pertanian disusun berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan di Desa Kayukebek Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan.
Nama:
1. Sovi Dwi Agus Tiningtyas (03720004)
2. Imam Suroso (03720033)
3. Bella Kurniawan (03720045)
4. Madalia Sofiva (03720057)

Jurusan : Agribisnis
Fakultas : Pertanian
Universiatas Muhammadiyah Malang


Telah disahkan dan disetujui


Dosen Pembina Assisten


Ir. Gumoyo Mumpuni N, MP Aprida Rahimah R, SP


Mengetahui,
Ka-Laboratorium Agribisnis


Ir. Dyah Erni W, MM

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah atas segala rahmat dan karunia Allah SWT, kami dapat menyusun dan menyelesaikan laporan Tata Niaga Pertanian ini sebagai tambahan pemgetahuan dan materi di Fakultas Pertanian UMM dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitas mahasiswa agar mempunyai nilai lebih di bandingkan mahasiswa dari Fakultas Pertanian lainnya di Indonesia.
Tujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk membekali mahasiswa dan menambah pengetahuan mahasiswa tentang pengetahuan praktis di bidang Tata Niaga Pertanian atau Pemasaran Pertanian dan juga membekali mahasiswa dengan pengetahuan dasar tentang berbagai macam lembaga-lembaga atau saluran pemasaran lainnya. Di samping itu, mahasiswa di tuntut untuk dapat melakukan penelusuran secara aplikasi terhadap saluran pemasaran suatu komoditas pertanian tertentu serta mampu melakukan analisis terhadap berbagai aspek dalam bidang Tata Niaga Pertanian.
Kami selaku penyusun sangatlah tahu bahwa tak ada gading yang tak retak, maka kami berbesar hati mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan dan penyempurnaan laporan Tata Niaga Pertanian ini. Dengan demikian pemahaman secara teoritis yang disertai dengan pengalaman akan memudahkan mahasiswa dalam penyusunan laporan ini.



Malang, Desember 2006



Penyusun



DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI iv
DAFTAR TABEL v
DAFTAR LAMPIRAN vi

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Tujuan 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian pemasaran 3
2.2 Definisi Margin Pemasaran, Distribusi Margin, Market Share dan Elastisitas Transmisi 4
2.3 Budidaya Apel 4

BAB III KARAKTERISTIK RESPONDEN
3.1 Distrisbusi Responden Berdasarkan Usia 6
3.2 Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan 7
3.3 Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan Keluarga 9

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. HASIL PENELITIAN
4.1 Analisis Saluran Pemasaran Komoditas Apel 12
4.2 Analisis Margin Pemasaran, Distribusi Margin Dan Market Share 12
4.2.1 Saluran pemasaran 1 12
4.2.2 Saluran Pemasaran 2 14
4.2.3 Saluran Pemasaran 3 16
4.2.4 Saluran Pemasaran 4 17
4.2.5 Analisis Effisiensi Saluran Pemasaran 19
4.2.6 Hubungan Antara Margin Pemasaran dan Harga di Tingkat Pengecer 22
4.3 Analisis Elastisitas Transmisi Pemasaran 24
B. PEMBAHASAN 25

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan 27
5.2 Saran 27

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DOKUMENTASI

DAFTAR TABEL

Tabel 1.a Tabel Distribusi Petani BerdasarkanUsia.................................................6
b Tabel Distribusi Pedagang Besar Berdasarkan Usia................................6
c Tabel Distribusi Pengecer Berdasarkan Usia...........................................7
Tabel 2.a Tabel Distribusi Petani Berdasarkan Pendidikan.....................................7
b Tabel Distribusi Pedagang Besar Berdasarkan Pendidikan.....................8
c Tabel Distribusi Pengecer Berdasarkan Pendidikan................................9
Tabel 3.a Tabel Distribusi Petani Berdasarkan Tanggungan Keluarga...................9
b Tabel Distribusi Pedagang Besar Berdasarkan Tanggungan keluarga..10
c Tabel Distribusi Pengecer Berdasarkan tanggungan Keluarga..............11
Tabel 4.a Tabel Analisis Pemasaran komoditas Apel
4.b Tabel Analisis Margin Pemasaran , Distribusi margin dan market share saluran pemasaran 1.............................................................................13
4.c Tabel Analisis Margin Pemasaran , Distribusi margin dan market share saluran pemasaran 2.............................................................................14
4.d Tabel Analisis Margin Pemasaran , Distribusi margin dan market share saluran pemasaran 3.............................................................................16
4.e Tabel Analisis Margin Pemasaran , Distribusi margin dan market share saluran pemasaran 4.............................................................................18
Tabel 5.a Tabel Analisis efesiensi saluran pemasaran 1........................................19
5.b Tabel Analisis efesiensi saluran pemasaran 2........................................20
5.c Tabel Analisis efesiensi saluran pemasaran 3.......................................21
5.d Tabel Analisis efesiensi saluran pemasaran 4.......................................21
Tabel 6. Tabel hubungan antara margin pemasaran dan harga di tingkat
pengecer .................................................................. .............................22
Tabel 7. Tabel analisis elastisitas transmisi pemasaran.........................................24




DAFTAR LAMPIRAN






























BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sebagai proses produksi yang komersial, maka pemasaran pertanian merupakan syarat mutlak yang diperlukan dalam pembangunan pertanian. Pemasaran pertanian dapat menciptakan nilai tambah melalui nilai guna tempat, guna bentuk, dan guna waktu. Dengan demikian pemasaran pertanian di anggap memberikan nilai tambah yang dapat dianggap sebagai kegiatan produktif. Pemasaran pertanian merupakan bagian dari ilmu pemasaran pada umumnya, tetapi dapat dianggap sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Anggapan ini didasarkan pada karakteristik produk pertanian serta subjek dan objek pemasaran pertanian itu sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari seringkali dijumpai petani produsen hanya menikmati bagian harga yang sangat kecil sekali di bandingkan sengan harga yang di bayarkan konsumen. Sebagai ilustrasi dalam pemasaran apel petani menerima harga sebesar Rp. 2500,- sampai dengan Rp. 3000,- per kg, sedangkan konsumen bersedia membayar sebesar Rp. 6500,- per kg dalam ilustrasi ini seolah-olah keuntungan yang diperoleh lembaga pemasaran sangat besar, tetapi telaah lebih mendalam dapat dilihat bahwa lembaga pemasaran harus mengeluarkan biaya-biaya untuk menjalankan fungsi-fungsi pemasaran dan menanggung resiko kerugian akibat proses pemasaran yang dilakukan. Jika tidak insentif yang cukup, tentu tidak terdapat lembaga pemasaran yang mengalirkan barang dari produsen ke konsumen akhir.
Pada daerah sub tropik, di tempat yang tinggi, biasanya pohon apel berbunga pada musim semi. Munculnya bunga di dahului oleh munculnya tunas produktif dan pertunasan berhenti setelah pertumbuhan buah. Pada musim panas, bunganya berkembang dan berdiferensi, sebagian tunas yang tidak berbunga akan tinggal dorman dan biasanya akan berbunga pada musim berikutnya. Buah apel ini akan masak pada musim rontok. Sedangkan untuk daerah tropik tumbuhan tanaman apel berbeda dengan yang terjadi di daerah sub tropik.
Tanaman apel yang dibudidayakan hingga sekarang merupakan hasil silangan antara M.Sylvestris Miller, M.Dasyphylla Borkh, M.Pumila Miller dan beberapa jenis lainnya yang berasal dari Asia.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum tata niaga ini adalah agar mahasiswa atau praktikan diharapkan mampu memahami saluran pemasaran yang dimulai dari tingkatan produsen sampai pada konsumen akhir serta mengetahui model atau level dari saluran pemasaran tersebut sehingga mahasiswa mengenal berbagai macam saluran, lembaga-lembaga pemasaran serta mampu melakukan penentuan model atau level dari saluran pemasaran tersebut dan agar mahasiswa mengetahui serta bisa menganalisis margin pemasaran, distribusi margin, market share dan elastisitas transmisi.
















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian pemasaran
Dalam pemasaran komoditi pertanian terdapat pelaku-pelaku ekonomi yang terlibat secara langsung ataupun tidak langsung, dengan cara melaksanakan fungsi-fungsi pemasaran. Komoditi-komoditi yang dipasarkan juga bervariasi kualitas dengan harga yang beragam pula. Fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan lembaga-lembaga pemasaran juga bervariasi. Komplektisitas permasalahan pemasaran komoditi pertanian ini menuntut adanya suatu pendekatan (approach), sehingga permasalahan yang diteliti menjadi jelas dan menjadi lebih mudah untuk diselesaikan.
Sudiyono (2001), menjelaskan bahwa komoditi pertanian yang diperjual belikan beraneka ragam, lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran juga banyak, satu lembaga pemasaran dapat melakukan satu atau lebih fungsi pemasaran, serta adanya kekuatan pembeli dan penjualan dalam menentukan harga. Dalam mempelajari pemasaran pertanian terdapat lima pendekatan, yaitu pendekatan komoditi, pendekatan lembaga, pendekatan fungsi, pendekatan teori ilmu ekonomi dAn pendekatan sistem.
Lembaga pemasaran adalah badan usaha atau individu yang menyelenggarakan pemasaran, menyalurkan jasa dan komoditi dari produsen kepada konsumen akhir serta mempunyai hubungan dengan badan usaha atau individu lainnya. Lembaga pemasaran ini timbul karena adanya keinginan konsumen untuk memperoleh komoditi yang sesuai dengan waktu, tempat dan bentuk yang diinginkan konsumen (Sudiyono, 2001).
Menurut Kartasapoetra (1992), Pemasaran atau Ilmu Tata Niaga yaitu meliputi segala kegiatan usaha yang di utamakan atau diperlukan agar barang-barang hasil produksi dimungkinkan akan mengalir secara lancar ke sektor konsumsi. Dalam hal melancarkan penyampaian dam pemindahan barang-barang dari produsen ke pasar (para konsumen) peranan lembaga-lembaga pemasaran adalah demikian besar. Lembaga pemasaran adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan jaringan lalu lintas barang di masyarakat.

2.2 Definisi Margin Pemasaran, Distribusi Margin, Market Share dan Elastisitas Transmisi

Margin pemasaran dapat ditinjau dari 2 sisi yaitu sudut pandang harga dan biaya pemasaran. Yang dimaksud margin pemasaran adalah selisih harga yang dibayar konsumen akhir dan harga yang diterima petani produsen. Selama proses pemasaran terdapat beberapa lembaga pemasaran yang terlibat dalam aktivitas pemasaran ini, maka dapat dianalisis distribusi margin pemasaran diantara lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat tersebut (Sudiyono, 2001) Distribusi margin adalah pembagaian antara semua komponen biaya yang dikelurkan dalam proses memasarkan suatu komoditas pertanian tertentu dan keuntungan yang didapatkan pada masing-masing lembaga dengan margin pemasaran yang kemudian dikalikan 100%. Market share adalah pembagian semua komponen (harga, keuntungan dan biaya) yang terdapat pada masing-masing lembaga yang terdapat pada saluran pemasaran tersebut dengan harga jual ditingkat pengecer yang kemudian dikalikan 100%.
Elastiistas transmisi digunakan untuk menjelaskan perpandingan prosentase perubahan harga ditingkat pengecer dengan prosentase perubahan harga ditingkat petani produsen. Analisis transmisi ini membrikan gambaran bagaiman harga yang diterima konsumen akhir ditransmisikan kepada petani produsen.

2.3 Budidaya Apel
Di Indonesia lebih dari 80% jenis yang di tanam petani adalah kultivar “Rome Beauty”, “Manalagi”, “Princess Noble”.
1) Rome Beauty: daunnya agak lonjong, panjang tangkai daun dapat mencapai 3 cm dalam satu dongkol bunga terdapat 6 bunga, Buahnya bulat gepeng, warna kulit buahnya kuning kehijauan dan rasa daging buahnya manis disertai rasa asam.
2) Manalagi: bentuk buahnya bulat, kecil, warna buahnya kuning kehijauan, daging buahnya manis dengan aroma yang enak tanpa ada rasa masam. Harganya paling mahal di Indonesia.
3) Princess Noble: buahnya lonjong, kecil, warna kulit buahnya hijau, daging buahnya putih berair dan agak masam (Ashari,1995: 281)
Pada dataran tinggi, tanaman apel memerlukan sinar matahari cukup, tem-peratur sejuk serta kelembapan cukup. Pada daerah tropik, memerlukan kondisi yang sejuk, tinggi tempat antara 16-27o C, memerlukan penyinaran lebih dari 50% selama sehari, curah hujan antara 1000-2500 mm, kelembapan relatif 75-85%. Karena itu tanaman apel tidak usah ternaungi, dan tidak cocok terhadap kabut dan halimun (AAK, 1993).
Tamanan apel kadang-kadang mulai berbuah pada tahun kedua, tergantung dari kualitas dan ukuran bibit yang ditanam. Namun seperti halnya dengan tana-man keras/ buah-buahan lain, biasa produk awal tidak dijadikan buah, dengan jalan menggugurkan bunga yang jadi. Tujuannya untuk membentuk pohon yang kuat dulu dan mempunyai kerangka pohon yang baik. Pohon apel dapat dibuahkan setelah berumur dua tahun atau lebih (Kartasapoetra, 1992).
Apel ‘Rome beauty’ adalah kultivar yang paling produktif di Indonesia, tanaman ini mampu menghasilkan buah sebanyak 25 ton/ha. Buah apel dipetik se-belum masak betul, untuk menjaga jangan sampai terlambat petik karena akan tu-run kualitasnya. Buah apel biasanya dipetik beserta tangkai buahnya, sortasi dila-kukan berdasarkan ukuran besar, warna dan bentuknya. Setelah buah dipetik dimasukan dalam keranjang atau karton dan dijaga jangan sampai terjadi kerusakan fisik. Di pasar, buah apel dijual dalam kemasan jala plastik sehingga penampilan sangat menarik (Sudiono, 2001).




BAB III
KARAKTERISTIK RESPONDEN

3.1 Distrisbusi Responden Berdasarkan Usia
3.1.1 Petani
Tabel 1.a. Tabel Distribusi Petani Berdasarkan Usia
No Kriteria Usia Jumlah
(Orang) Prosentase
(%)
1 < 20 Th -
2 20 – 30 Th 1 25
3 > 30 Th 3 75
Total 100
Sumber: Data Primer, 2006

Dari data diatas, menurut distrisbusi responden berdasarkan usia dapat diketahui bahwa dari 4 responden Petani yang berumur 20 – 30 tahun sebanyak 1 orang dengan prosentase sebesar 25%. Sedangkan petani yang berumur diatas 30 tahun sebanyak 3 orang, dengan prosentase sebesar 75%, sehingga dapat disimpulkan sebagian besar petani apel di Desa Nongkojajar berumur diatas 30 tahun. Petani apel kebanyakan berumur di atas 30 tahun karena kami sengaja mengambil responden yang sudah lama berpengalaman dalam bidang bertani apel.

3.1.2 Pedagang Besar
Tabel 1.b. Tabel Distribusi Pedagang Besar Berdasarkan Usia
No Kriteria Usia Jumlah
(Orang) Prosentase
(%)
1 < 20 Th - -
2 20 – 30 Th - -
3 > 30 Th 4 100
Total 100
Sumber: Data Primer, 2006

Dari data diatas, menurut distrisbusi responden berdasarkan usia dapat diketahui bahwa dari ke 4 responden pedagang besar apel di Desa Nongkojajar, Semua berumur diatas 30 tahun, dengan presentase 100 %. Hal ini dikarenakan pedagang besar yang ada di Desa kayukebek hanya terdiri dari 3 orang, itupun merupakan pedagang besar yang sudah sejak lama dipercaya oleh masyarakat petani apel di desa Kayukebek.

3.1.2 Pengecer
Tabel 1.c. Tabel Distribusi Pengecer Berdasarkan Usia
No Kriteria Usia Jumlah
(Orang) Prosentase
(%)
1 < 20 Th - -
2 20 – 30 Th - -
3 > 30 Th 4 100
Total 100
Sumber: Data Primer, 2006

Dari data diatas, menurut distrisbusi responden berdasarkan usia dapat diketahui bahwa dari 4 responden pengecer apel di Desa Nongkojajar, Semuanya berumur di atas 30 tahun, dengan presentase sebessar 100 %. Hal ini dikarenakan karena ketidak sengajaan kami waktu kami melakukan penelitian. Sebenarnya banyak juga pengecer yang berumur di bawah 30 tahun.

3.2 Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan
3.2.1 Petani
Tabel 2.a. Tabel distribusi Petani Berdasarkan pendidikan
No Kriteria
Pendidikan Jumlah
(Orang) Prosentase
(%)
1 < SD - -
2 SD 2 50
3 SMP 1 25
4 SMA -
5 > SMA 1 25
Total 100
Sumber: Data Primer, 2006

Dari data diatas, menurut distribusi responden berdasarkan pendidikan dapat diketahui bahwa dari 4 petani responden yang berpendidikan SD sebanyak 2 orang dengan prosentase sebesar 50%. Sedangkan petani yang berpendidikan SMP sebanyak 1 orang, dengan prosentase sebesar 25%, dan yang berpendidikan diatas SMA sebanyak 1 orang, dengan prosentase sebesar 25%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar petani apel di Nongkojajar berpendidikan SD. Hal ini dikarenakan, karena adanya faktor ekonomi yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinnggi, dan pilihan terletak pada usaha tani.

3.2.2 Pedagang Besar
Tabel 2.b. Tabel distribusi Pedagang Besar Berdasarkan pendidikan
No Kriteria
Pendidikan Jumlah
(Orang) Prosentase
(%)
1 < SD - -
2 SD - -
3 SMP 2 75
4 SMA 1 25
5 > SMA - -
Total 100
Sumber: Data Primer, 2006

Dari data diatas, menurut distribusi responden berdasarkan pendidikan dapat diketahui bahwa dari 4 responden pedagang besar yang berpendidikan SMP sebanyak 3 orang dengan prosentase sebesar 75%. Sedangkan pedagang besar yang berpendidikan SMA sebanyak 1 orang, dengan prosentase sebesar 25%, sehingga dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pedagang besar apel di Nongkojajar berpendidikan SMP. Dengan melihat prosentase seperti itu, terdapat pendidikan yang lebih baik bagi pedagang besar.

3.2.3 Pengecer
Tabel 2.c. Tabel distribusi Pengecer Berdasarkan pendidikan
No Kriteria
Pendidikan Jumlah
(Orang) Prosentase
(%)
1 < SD - -
2 SD 2 50
3 SMP 2 50
4 SMA - -
5 > SMA - -
Total 100
Sumber: Data Primer, 2006

Dari data diatas, menurut distribusi responden berdasarkan pendidikan dapat diketahui bahwa dari 4 responden pengecer yang berpendidikan SD sebanyak 2 orang dengan prosentase sebesar 50%. Sedangkan pengecer yang berpendidikan SMP sebanyak 2 orang, dengan prosentase sebesar 50%, sehingga dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pengecer apel di Nongkojajar berpendidikan antara SD hingga SMP.

3.3 Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan Keluarga
3.3.1 Petani
Tabel 3.a. Tabel distribusi Petani Berdasarkan Tanggungan Keluarga
No Kriteria Jumlah
Tanggungan Jumlah
(Orang) Prosentase
(%)
1 < 2 - -
2 2 – 5 4 100
3 > 5 - -
Total 100
Sumber: Data Primer, 2006
Dari data diatas, menurut distribusi responden berdasarkan jumlah tanggungan keluarga dapat diketahui bahwa dari 4 petani, yang semuanya mempunyai tanggungan keluarga sebanyak 2–5 orang dengan prosentase sebesar 100%. Hal ini dapat terjadi dikarenakan mungkin sebagian besar petani di Desa Kayukebek ikut serta dalam peningkatan progam KB. Sehingga tanggunan keluarga mereka hanya sebatas 2-5 orang saja tidak lebih.

3.2.4 Pedagang Besar
Tabel 3.b. Tabel distribusi Pedagang Besar Berdasarkan Tanggungan Keluarga

No Kriteria Jumlah
Tanggungan Jumlah
(Orang) Prosentase
(%)
1 < 2 - -
2 2 – 5 4 100
3 > 5 - -
Total 100
Sumber: Data Primer, 2006

Dari data diatas, menurut distribusi responden berdasarkan jumlah tanggungan keluarga dapat diketahui bahwa dari 4 pedagang besar responden, semuanya mempunyai tanggungan keluarga sebanyak 2–5 orang dengan prosentase sebesar 100%. Hal ini dapat terjadi dikarenakan mungkin sebagian besar pedagang besar di Desa Kayukebek ikut serta dalam peningkatan progam KB. Sehingga tanggunan keluarga mereka hanya sebatas 2-5 orang saja tidak lebih.







3.2.5 Pengecer
Tabel 3.c. Tabel distribusi Pengecer Berdasarkan Tanggungan Keluarga
No Kriteria Jumlah
Tanggungan Jumlah
(Orang) Prosentase
(%)
1 < 2 - -
2 2 – 5 4 -
3 > 5 - -
Total 100
Sumber: Data Primer, 2006

Dari data diatas, menurut distribusi responden berdasarkan jumlah tanggungan keluarga dapat diketahui bahwa dari 4 pengecer responden, semuanya mempunyai tanggungan keluarga sebanyak 2–5 orang dengan persentase sebesar 100%. Hal ini dapat terjadi dikarenakan mungkin sebagian besar pengecer di Nongkojajar ikut serta dalam peningkatan progam KB. Sehingga tanggunan keluarga mereka hanya sebatas 2-5 orang saja tidak lebih.













BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN
4.1 Analisis Saluran Pemasaran Komoditas Apel
Tabel 4.a. Tabel Analisis Saluran Pemasaran Komoditas Apel
No Nama
Petani Nama
Pedagang Besar Nama pengecer
1 Sutikno H. Rochim Hermanto
2 Gatot H. Rochim Tari
3 Sirianom H. Wahid Sutilah
4 Sumarto H. Ma’ruf Ngateni
Sumber: data Primer, 2006
1. Petani / Produsen 1 Pedagang Besar 1 Pengecer 1
Konsumen Akhir
2. Petani / Produsen 2 Pedagang Besar 2 Pengecer 2
Konsumen Akhir
3. Petani / Produsen 3 Pedagang Besar 3 Pengecer 3
Konsumen Akhir
4. Petani / Produsen 4 Pedagang Besar 4 Pengecer 4
Konsumen Akhir







4.2 Analisis Margin Pemasaran, Distribusi Margin Dan Market Share
4.2.1 Saluran pemasaran 1
Saluran pemasaran komoditas Apel adalah:
Petani (Sutikno) Pedagang Besar (H. Rochim) Pengecer (Suparman) Konsumen Akhir
Tabel 4.b. Tabel analisis margin pemasaran, distribusi margin dan market share saluran pemasaran 1
No Uraian Nilai
(Rp / Kg) Distribusi
Margin (%) Share (%)
1 Petani
- Harga jual (Pf)
3500
-
66.67
2 Pedagang Besar
- Harga beli
- Biaya Tranportasi Pembelian
- Pemetikan
- Biaya Pembersihan
- Baiaya sortasi
- Biaya grading
- B. Bongkar muat
- Pengemasan
- Pembelian dos apel
- Pembelian Kranjang
- Transportasi penjualan
- Harga jual
- Keuntungan
3500
20
106.6
24
24
24
24
24
200
83.3
400
4850
420
-
1.14
6.09
1.37
1.37
1.37
1.37
1.37
11.43
4.76
22.86 -
24 %
66.67
0.38
2.03
0.46
0.46
0.46
0.46
0.46
3.81
1.59
7.62
92.38
8
3 Pengecer
- Harga beli
- Biaya Bongkar Muat
- Biaya transportasi pembelian
- Biaya grading
- Harga Jual
- Keuntungan
4850
25
50
25
5250
300
-
1.43
2.86
1.43
-
17.44
92.38
0.48
0.95
0.48
100
5.71
4 Margin (Pr – Pf) 1750
Sumber: data Primer, 2006

Perhitungan Secara Matematis
Margin Pemasaran (MP) = harga Jual pengecer (Pr) – Harga Jual Petani (Pf)
Saluran Pemasaran 1
MP 1 = Pr 1 – Pf 1
MP 1 = 5250 – 3500
MP 1 = 1750
Distribusi Margin (DM) =

Contoh :Biaya Tranportasi Pembelian Dari Pedagang Besar
DM =
= 0.24 x 100%
= 1.14 %:
Keuntungan Pedagang Besar
DM =
= 0.1142 x 100%
= 24 %
Share Pemasaran (SP) =
Komponen harga Jual di Tingkat Petani
SP =
= 0.666 x 100%
= 66.67 %

4.2.2 Saluran Pemasaran 2
Saluran pemasaran komoditas Apel adalah:
Petani (Gatot) Pedagang Besar (Hermanto) Pengecer (Tari) Konsumen Akhir



Tabel 4.c. Tabel analisis margin pemasaran, distribusi margin dan market share saluran pemasaran 2
No Uraian Nilai
(Rp / Kg) Distribusi
Margin (%) Share (%)
1 Petani
- Harga jual (Pf)
2000
-
52.63
2 Pedagang Besar
- Harga beli
- Biaya Tranportasi Pembelian
- Biaya Pembersihan
- Baiaya sortasi
- Biaya grading
- B. Bongkar muat
- Pengemasan
- Pembelian dos apel
- Pembelian kranjang
- Pemetikan
- Transportasi penjualan
- Harga jual
- Keuntungan
2000
15
22.5
22.5
22.5
22.5
22.5
200
83.3
100
340
3400
549
-
0.83
1.25
1.25
1.25
1.25
1.25
11.11
4.63
5.55
18.89
-
30.5
52.63
0.39
0.59
0.59
0.59
0.59
0.59
5.26
2.19
2.63
8.95
89.47
14.45
3 Pengecer
- Harga beli
- Biaya Bongkar Muat
- Biaya transportasi pembelian
- Biaya grading
- Harga Jual
- Keuntungan
3400
33.3
83.3
33.3
3800
250
-
1.85
4.63
1.85
-
13.89
89.47
0.88
2.19
0.88
100
6.58
4 Margin (Pr – Pf) 1800
Sumber: data Primer, 2006
Perhitungan Secara Matematis :
Margin pemasaran (MP) = harga Jual pengecer (Pr) – Harga Jual Petani (Pf)
Saluran Pemasaran 2
MP 2 = Pr 2 – Pf 2
MP 2 = 3800 - 2000
MP 2 = 1800
Distribusi Margin (DM) =


Contoh: Biaya Tranportasi Pembelian di Tingkat Pedagang Besar
DM =
= 0.305 x 100%
= 0.83 %
Keuntungan Pedagang besar
DM =
= 0.0083 x 100%
= 30.5 %
Share Pemasaran (SP) =
Komponen harga Jual di Tingkat Petani
SP =
= 0.526 x 100%
= 52.63 %

4.2.3 Saluran Pemasaran 3
Saluran pemasaran komoditas Apel adalah:
Petani (Sirianom) Pedagang Besar (H. Wahid) Pengecer
(Sutilah ) Konsumen Akhir
Tabel 4.d. Tabel analisis margin pemasaran, distribusi margin dan market share saluran pemasaran 3
No Uraian Nilai
(Rp / Kg) Distribusi
Margin (%) Share (%)
1 Petani
- Harga jual (Pf)
2200
-
55
2 Pedagang Besar
- Harga beli
- Biaya Tranportasi Pembelian
- Biaya Pembersihan
- Baiaya sortasi
- Biaya grading
- B. Bongkar muat
- Pengemasan
- Pembelian dos apel
- Pembelian kranjang
- Pemetikan
- Transportasi penjualan
- Harga jual
- Keuntungan
2200
16.67
33.3
33.3
33.3
33.3
33.3
200
83.3
33.3
133.3
3450
617
-
0.93
1.85
1.85
1.85
1.85
1.85
11.11
4.63
1.85
7.41
-
34.28
55
0.42
0.83
0.83
0.83
0.83
0.83
5
2.08
0.83
3.33
86.25
15.42
3 Pengecer
- Harga beli
- Biaya Bongkar Muat
- Biaya transportasi pembelian
- Biaya grading
- Harga Jual
- Keuntungan
3450
40
100
40
4000
370
-
2.22
5.55
2.22
-
20.55
86.25
1
2.5
1
100
9.25
4 Margin (Pr – Pf) 1800
Sumber: data Primer, 2006
Perhitungan Secara Matematis :
Margin pemasaran (MP) = harga Jual pengecer (Pr) – Harga Jual Petani (Pf)
Saluran pemasaran 3
MP 3 = Pr 3 – Pf 3
MP 3 = 4000 – 2200
MP 3 = 1800
Distribusi Margin (DM) =
Contoh: Biaya Tranportasi Pembelian di Tingkat Pedagang Besar
DM =
= 0.3427 x 100%
= 34.28 %
Keuntungan Pedagang Besar
DM =
= 0.00926 x 100%
= 0.93 %:
Share Pemasaran (SP) =
Komponen harga Jual di Tingkat Petani
SP =
= 0.55 x 100%
= 55 %

4.2.4 Saluran Pemasaran 4
Saluran pemasaran komoditas Apel adalah:
Petani (Sumarto) Pedagang Besar (H. Ma’ruf) Pengecer
(Ngateni) Konsumen Akhir

Tabel 4.e. Tabel analisis margin pemasaran, distribusi margin dan market share saluran pemasaran 4
No Uraian Nilai
(Rp / Kg) Distribusi
Margin (%) Share (%)
1 Petani
- Harga jual (Pf)
1500
-
50
2 Pedagang Besar
- Harga beli
- Biaya Tranportasi Pembelian
- Biaya Pembersihan
- Baiaya sortasi
- Biaya grading
- B. Bongkar muat
- Pengemasan
- Pembelian dos apel
- Pembelian Kranjang
- Pemetikan
- Transportasi penjualan
- Harga jual
- Keuntungan
1500
25
18.75
18.75
18.75
18.75
18.75
200
83.3
66.67
437
2750
428
-
1.67
1.25
1.25
1.25
1.25
1.25
13.33
5.55
4.44
29.13

28.53
50
0.83
0.63
0.63
0.63
0.63
0.63
6.67
2.78
2.22
14.57
91.67
14.27
3 Pengecer
- Harga beli
- Biaya Bongkar Muat
- Biaya transportasi pembelian
- Biaya grading
- Harga Jual
- Keuntungan
2750
-
50
-
3000
200
-
-
5
-
-
13.33
14.27
-
1.67
-
100
6.67
4 Margin (Pr – Pf) 1500
Sumber: data Primer, 2006

Perhitungan secara sistemtis :
Margin pemasaran (MP) = harga Jual pengecer (Pr) – Harga Jual Petani (Pf)
Saluran pemasaran 4
MP 4 = Pr 4 – Pf 4
MP 4 = 3000 – 1500
MP 4 = 1500
Distribusi Margin (DM) =

Contoh: Biaya Tranportasi Pembelian Pedagang Besar
DM =
= 0.2853 x 100
= 1.67 %:
Keuntungan di Tingkat Pedagang Besar
DM =
= 0.0166 x 100%
= 28.53 %
Share Pemasaran (SP) =
Komponen harga Jual di Tingkat Petani
SP =
= 0.5 x 100%
= 50 %

4.2.5 Analisis Effisiensi Saluran Pemasaran
Saluran pemasaran dikatakan efisien apabila :
a. Ada pembagian keuntungan yang adil antara semua lembaga pemasaran yang terkait
b. Semakin pendek saluran pemasaran maka semakin efisien, atau semakin kecil nilai margin pemasaran maka semakin effisien pula.
Penentuan efisiensi saluran pemasaran disajikan dalam bentuk tabel dan perhitungan sebagai berikut :
a. Analisis Effisiensi Saluran Pemasaran 1
Tabel 5.a Tabel Analisis effisiensi saluran pemasaran 1
Pedagang besar Pengecer
Biaya (%) 17,73 1,91
Keuntungan (%) 8 5.71
Sumber: data Primer, 2006
Dari efisiensi saluran pemasaran diatas, didapatkan presentase biaya yang dikeluarkan pedagang besar sebesar 17,73%, sedangkan ditingkat pengecer didapatkan biaya yang dikeluarkan sebesar 1,91%. Biaya ini didapatkan dari penambahan semua komponen pada masing-masing lembaga yang terdapat pada kolom share. Untuk persentase keuntungan adalah nilai keuntungan yang terdapat pada kolom share pada masing-masing lembaga pemasaran, dan didapatkan keuntungan yang diperoleh pedagang besar sebesar 8%, sedangkan untuk pengecer keuntungan yang diperoleh sebesar 3.81 %. Jadi, pada saluran pemasaran 1, dapat dikatakan bahwa saluran pemasaran ini efisien karena terdapat pembagian keuntungan yang adil di antara lembaga pemasaran yang terkait serta saluran pemasaran pendek (Petani Pedagang besar Pengecer).

b. Saluran Analisis efisiensi Saluran Pemasaran 2
Tabel 5.b Tabel Analisis effisiensi saluran pemasaran 2
Pedagang besar Pengecer
Biaya (%) 22,37 3,95
Keuntungan (%) 14,45 6,58

Dari efisiensi saluran pemasaran diatas, didapatkan presentase biaya yang dikeluarkan pedagang besar sebesar 22.37%, sedangkan ditingkat pengecer didapatkan biaya yang dikeluarkan sebesar 3.95%. Biaya ini didapatkan dari penambahan semua komponen pada masing-masing lembaga yang terdapat pada kolom share. Untuk persentase keuntungan adalah nilai keuntungan yang terdapat pada kolom share pada masing-masing lembaga pemasaran, dan didapatkan keuntungan yang diperoleh pedagang besar sebesar 14.45, sedangkan untuk pengecer keuntungan yang diperoleh sebesar 6.58 %. Jadi, pada saluran pemasaran 2, dapat dikatakan bahwa saluran pemasaran ini efisien karena terdapat pembagian keuntungan yang adil di antara lembaga pemasaran yang terkait serta saluran pemasaran pendek (Petani Pedagang besar Pengecer).

c. Saluran Analisis efisiensi Saluran Pemasaran 3
Tabel 5.c Tabel Analisis effisiensi saluran pemasaran 3
Pedagang besar Pengecer
Biaya (%) 15,81 4,5
Keuntungan (%) 15,42 9,25
Sumber: data Primer, 2006

Dari efisiensi saluran pemasaran diatas, didapatkan presentase biaya yang dikeluarkan pedagang besar sebesar 15.81%, sedangkan ditingkat pengecer didapatkan biaya yang dikeluarkan sebesar 4.5%. Biaya ini didapatkan dari penambahan semua komponen pada masing-masing lembaga yang terdapat pada kolom share. Untuk persentase keuntungan adalah nilai keuntungan yang terdapat pada kolom share pada masing-masing lembaga pemasaran, dan didapatkan keuntungan yang diperoleh pedagang besar sebesar 15.42, sedangkan untuk pengecer keuntungan yang diperoleh sebesar 9.25 %. Jadi, pada saluran pemasaran 3, dapat dikatakan bahwa saluran pemasaran ini efisien karena terdapat pembagian keuntungan yang adil di antara lembaga pemasaran yang terkait serta saluran pemasaran pendek (Petani Pedagang besar Pengecer).
d. Saluran Analisis efisiensi Saluran Pemasaran 4.
Tabel 5.d Tabel Analisis effisiensi saluran pemasaran 4
Pedagang besar Pengecer
Biaya (%) 30,22 1,67
Keuntungan (%) 14,27 6,67
Sumber: data Primer, 2006
Dari efisiensi saluran pemasaran diatas, didapatkan presentase biaya yang dikeluarkan pedagang besar sebesar 30.22%, sedangkan ditingkat pengecer didapatkan biaya yang dikeluarkan sebesar 1.67%. Biaya ini didapatkan dari penambahan semua komponen pada masing-masing lembaga yang terdapat pada kolom share. Untuk persentase keuntungan adalah nilai keuntungan yang terdapat pada kolom share pada masing-masing lembaga pemasaran, dan didapatkan keuntungan yang diperoleh pedagang besar sebesar 14.27, sedangkan untuk pengecer keuntungan yang diperoleh sebesar 6.67 %. Jadi, pada saluran pemasaran 3, dapat dikatakan bahwa saluran pemasaran ini efisien karena terdapat pembagian keuntungan yang adil di antara lembaga pemasaran yang terkait serta saluran pemasaran pendek (Petani Pedagang besar Pengecer).

4.2.6 Hubungan Antara Margin Pemasaran dan Harga di Tingkat Pengecer
Tabel 6 Tabel hubungan antara margin pemasaran dan harga ditingkat pengecer
Nama Petani Harga di Petani (Pf) Harga di Pengecer (Pr) Margin
(M = Pr – Pf) Pr2 M2 Pr . M
Sutikno 3500 5250 1750 27562500 3062500 9187500
Gatot S 2000 3800 1800 14440000 3240000 6840000
Sirianom 2200 4000 1800 16000000 3240000 7200000
Sumarto 1500 3000 1500 9000000 2250000 4500000
Jumlah 9200 16050 6850 67002500 11792500 27727500
Sumber: data Primer, 2006
b =
b =
=
=
b = - 7.89
a =
=
= 1.712,5 + 31.658,625
a = 33.371,125
Se =
=
=
=
Se = 992.54
Sb = Se
= 992.54
= 992.54
= 992.54
= 992.54 (0.00062)
Sb = 0.61

Pengambilan keputusan:
T hit =

T hit > t tabel Linier
T hit ≤ t tabel Tidak Linier
T hit =
= - 12.93
Setelah dilihat dalam tabel, dimana nilai df = 3 hasil dari (N-1), dengan α 0.05 diketahui nilai t tabel sebesar 2.353. Karena nilai t hitung lebih kecil dari t tabel (-12.93 < 2.353) maka margin pemasaran ini dikatakan tidak linier.

4.3 Analisis Elastisitas Transmisi Pemasaran
Elastisitas transmisi pemasaran ini digunakan untuk menjelaskan perbandingan prosentase perubahan harga di tingkat pengecer dengan prosentase perubahan harga di tingkat petani produsen.
Di bawah ini merupakan tabel data untuk melakukan analisis elastisitas transmisi adalah sebagai berikut:
Tabel 7 Tabel analisis elastisitas transmisi pemasaran
No Nama
Petani Harga di Petani (Pf) Harga di Pengecer (Pr) Pf2 Pr2 Pf x Pr
1 Sutikno 3.500 5.250 12.250.000 27.562.500 1.837.500
2 Gatot S 2.000 3.800 4.000.000 14.440.000 7.600.000
3 Sirianom 2.200 4.000 4.840.000 16.000.000 8.800.000
4 Sumarto 1.500 3.000 2.250.000 9.000.000 4.500.000
Jumlah 9.200 16.050 23.340.000 67.002.500 39.275.000
Rata-rata 2.300 4.012,5 5.835.000 16.750.625 9.818.750
Sumber: data Primer, 2006



b =



b =


=

=
b = -12.43
Et =
= -12.43 x 0.57
Et = -7.12
Dari perhitungan di atas didapatkan nilai elastisitas transmisinya sebesar
-7.12 ini berarti nilai Et lebih kecil dari 1. Karena nilai (Et < 1) dapat diartikan bahwa setiap perubahan harga sebesar 1 % di tingkat Petani akan mengakibatkan perubahan harga sebesar – 7.12 di tingkat pengecer.

B. PEMBAHASAN
Dari hasil penelitian yang telah kami lakukan, terdapat beberapa pembahasan yang dapat kami berikan dalam menjabarkan hasil penelitian tersebut bahwa saluran pemasaran apel yang terjadi di desa kayukebek kec tutur kabupaten pasuruan ini berbentuk pemasaran one level marketing yang berarti diantara petani (Produsen I ) dan pengecer hanya terdapat 1 (satu) lembaga pemasaran saja yaitu Pedagang Besar. Misalnya dalam proses saluran pemasaran Apel dari petani dijual ke pedagang besar dari pedagang besar langsung dijual ke pengecer. Adapun perhitungan yang terdapat pada hasil penelitian yang dihitung dalam satuan (Kg). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 1 sampai lampiran 4 tentang harga asli yang dikeluarkan oleh pedagang besar maupun pengecer.
Margin pemasaran adalah selisih harga yang dibayar oleh konsumen akhir dengan harga yang diterima oleh petani produsen. Sebagai contoh dalam saluran pemasaran Apel 1 diketahui bahwa harga yang ada di tingkat pengecer sebesar Rp.5250,-/Kg dan harga yang ada di petani sebesar Rp. 3500,-/Kg. Jadi margin pemasaran yang terjadi sebesar Rp. 1750,-.
Distribusi margin adalah pembagian antara semua komponen biaya yang dikeluarkan dan keuntungan yang didapatkan pada masing-masing lembaga dibagi margin pemasaran yang kemudian dikalikan 100%. Sedangkan share margin merupakan pembagian antara semua komponen (biaya, harga, keuntungan) yang terdapat pada masing-masing lembaga pemasaran dengan saluran pemasaran dibagi dengan harga yang ada ditingkat pengecer kemudian dikalikan 100%.misalnya pada saluran pemasaran 1, terdapat harga jual di tingkat petani sebesar Rp. 3500,-/Kg sedangkan harga di ringkat pengecer Rp. 5350,-?Kg, sehingga didapatkan share sebesar 66,67%.
Saluran pemasaran yang ada di desa Kayukebek dapat dikatakan efisien karena adanya pembagian keuntungan yang adil antara semua lembaga pemasaran yang terkait. Sebagai contoh saluran pemasaran 1, terlihat bahwa biaya yang dikeluarkan pedagang besar dalam proses pemasaran sebesar 17,73 % dengan keuntungan 8 %, sedangkan untuk pengecer biaya yang dikelurkan hanya 1,91 %, jadi hanya mendapatkan keuntungan sebesar 3,81 %. Selain dari pembagian keuntungan yang adil, saluran pemasaran ini lebih efisien karena didapatkan hasi bahwa nilai margin pemasaranya kecil.
Analisis elastisitas transmisi adalah perbandingan prosentase perubahan harga di tingkat pengecer dengan prosentase perubahan harga ditingkat petani. Dari hasil perhitungan di dapatkan nilai Et sebesar – 7,12,dimana nilai Et ini lebih kecil dari 1 (Et <1), yang berarti bahwa setiap perubahan harga sebesar 1% di tingkat petani akan mengakibatkan perubahan harga kurang dari -7,12 di tingkat

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan di atas, kami dapat menarik beberapa kesimpulan antara lain sebagai berikut:
a. Saluran pemasaran Apel yang terjadi di Desa Kayukebek Kecamatan Tutur Kabupaten pasuruan ini berbentuk One level marketing yang berarti hanya terdapat satu lembaga pemasaran di antara petani dan pengecer, yaitu pedagang besar.
b. Saluran pemasaran yang terjadi di sini dapat dikatakan effisien, karena terdapat nilai margin dari berbagai saluran pemasaran yang terjadi itu bernilai kecil. Selain itu terjadi pembagian keuntungan yang adil dari berbagai lembaga pemasaran yang terkait.
c. Dari hasil perhitungan hubungan antara margin pemasaran dan harga di tingkat pengecer, didapatkan nilai t hit = -12.93, dimana nilai t hit ini nilainya lebih kecil dari nilai t tabel (2.355). dari hasil ini dapat diartikan bahwa margin pemasaran yang terjadi dapat dikatakan tidak linier.
d. Dari hasil perhitungan analisis elastisitas transmisi pemasaran, didapatkan nilai Et sebesar – 7.12, dimana nilai ini kurang dari 1 (Et ≤ 1). Hasil ini dapat diartikan bahwa setiap perubahan harga 1% di tingkat petani akan mengakibatkan penurunan harga sebesar 7.12% di tingkat pengecer

5.2 Saran
Dari hasil pembahasan tersebut di atas, maka penulis dapat memberikan saran yang mungkin dapat berguna bagi pembaca atau yang lain, bahwa dalam melakukan usaha perdagangan didalam mencari keuntungan harus berdasarkan biaya yang kita keluarkan. Biaya yang kita keluarkan sedikit maka keuntungan yang diperolehpun harus sedikit, begitu juga sebaliknya. Agar tercipta saluran pemasaran yang adil dan efisien.
Lampiran 1:
a. Daftar Harga Asli (sebelum dijadikan harga per Kg), Saluran pemasaran 1.
No Uraian Nilai
(Rp/7500 Kg) Nilai
(Rp / Kg)
1 Pedagang Besar
- Harga beli
- Biaya Tranportasi Pembelian
- Biaya Pembersihan
- Baiaya sortasi
- Biaya grading
- B. Bongkar muat
- Pengemasan
- Pembelian dos apel
- Pembelian kranjang
- Pemetikan
- Transportasi penjualan
- Harga jual
- Keuntungan
26.250.000
150.000
180.000
180.000
180.000
180.000
180.000
1.500.000
625.000
800.000
3.000.000
36.375.000
3.150.000

3500
20
106.6
24
24
24
24
24
200
83.3
400
4850
420

No Uraian Nilai
(Rp/200 Kg) Nilai
(Rp / Kg)
2 Pengecer
- Harga beli
- Biaya Bongkar Muat
- Biaya transportasi pembelian
- Biaya grading
- Harga Jual
- Keuntungan
970.000
5.000
10.000
5.000
1.050.000
60.000
4.850
25
50
25
5.250
300


Lampiran 2:
a. Daftar Harga Asli (sebelum dijadikan harga per Kg), Saluran pemasaran 2.
No Uraian Nilai
(Rp/3000 Kg) Nilai
(Rp / Kg)
1 Pedagang Besar
- Harga beli
- Biaya Tranportasi Pembelian
- Biaya Pembersihan
- Baiaya sortasi
- Biaya grading
- B. Bongkar muat
- Pengemasan
- Pembelian dos apel
- Pembelian kranjang
- Pemetikan
- Transportasi penjualan
- Harga jual
- Keuntungan
6.000.000
45.000
67.500
67.500
67.500
67.500
67.500
600.000
250.000
300.000
1.020.000
10.200.000
1.647.000
3500
20
106.6
24
24
24
24
24
200
83.3
400
4850
420

No Uraian Nilai
(Rp/300 Kg) Nilai
(Rp / Kg)
2 Pengecer
- Harga beli
- Biaya Bongkar Muat
- Biaya transportasi pembelian
- Biaya grading
- Harga Jual
- Keuntungan
1.020.000
10.000
25.000
10.000
1.140.000
75.000
3.400
33,3
83,3
33,3
3.800
250


Lampiran 3:
a. Daftar Harga Asli (sebelum dijadikan harga per Kg), Saluran pemasaran 3.
No Uraian Nilai
(Rp/3000 Kg) Nilai
(Rp / Kg)
1 Pedagang Besar
- Harga beli
- Biaya Tranportasi Pembelian
- Biaya Pembersihan
- Baiaya sortasi
- Biaya grading
- B. Bongkar muat
- Pengemasan
- Pembelian dos apel
- Pembelian kranjang
- Pemetikan
- Transportasi penjualan
- Harga jual
- Keuntungan
6.600.000
50.000
100.000
100.000
100.000
100.000
100.000
600.000
250.000
100.000
400.000
10.350.000
1.851.000
2.200
16,67
33,3
33,3
33,3
33,3
33,3
200
83,3
33,3
133,3
3.450
617

No Uraian Nilai
(Rp/500 Kg) Nilai
(Rp / Kg)
2 Pengecer
- Harga beli
- Biaya Bongkar Muat
- Biaya transportasi pembelian
- Biaya grading
- Harga Jual
- Keuntungan
1.725.000
20.000
50.000
20.000
2.000.000
185.000
3.450
40
100
40
4.000
370


Lampiran 4:
a. Daftar Harga Asli (sebelum dijadikan harga per Kg), Saluran pemasaran 4.
No Uraian Nilai
(Rp/1200 Kg) Nilai
(Rp / Kg)
1 Pedagang Besar
- Harga beli
- Biaya Tranportasi Pembelian
- Biaya Pembersihan
- Baiaya sortasi
- Biaya grading
- B. Bongkar muat
- Pengemasan
- Pembelian dos apel
- Pembelian kranjang
- Pemetikan
- Transportasi penjualan
- Harga jual
- Keuntungan
1.800.000
30.000
22.500
22.500
22.500
22.500
22.500
240.000
100.000
80.000
525.000
3.300.000
525.000
1.500
25
18.75
18.75
18.75
18.75
18.75
200
83,3
66,67
437
2.750
438

No Uraian Nilai
(Rp/400 Kg) Nilai
(Rp / Kg)
2 Pengecer
- Harga beli
- Biaya Bongkar Muat
- Biaya transportasi pembelian
- Biaya grading
- Harga Jual
- Keuntungan
1.100.000
-
20.000
-
1.200.000
80.000
2.750


DAFTAR PUSTAKA

AAK. 1993. Petunjuk Praktis Bertanam Buah-buahan. Kasinius. Yogyakarta.
Ashari, Semeru. 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. Universitas Indonesia Press Jakarta.
Kartasapoetra, G.1992. Marketing Produk Pertanian dan Industri: Rineka Cipta. Jakarta.
Sudiyono, Armand. 2001. Pemasaran Pertanian: Universitas Muhammadiyah Malang Press. Malang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar